Mari sama-sama kita simak Cerita Renungan Inspiratif dan Insya Allah Penuh Hikmah. Bagaimana kita menghadapi hidup? semua tergant ung dari mana kita bisa memandang dan melihat sesuatunya.

semoga bermanfaat…

 

 

 

=====================================================

Kata-kata Nasihat

 

Untuk apa kita nikah? hanya sekadar untuk melepaskan nafsu2?
Tugasan seorang suami, wajib mengetahui tanggungjawb nya. Melaksana kan nafkah batin.
Nafkah batin terbagi 3 bahgian:
1.Perhubungan kelamin yang ikhlas dan jujur.
2.Menyediakan keperluan hidup dengan secukup nya.
3.Menggembirakan hati isteri.
Dan tugasan sang isteri, taat pada suami dan jaga harta dan maruah suami. Yang merosakkan satu kerukunan rumah tangga bila mana kita anggap sang isteri itu sebagai alat pemuaskan nafsu, dengan sifat cemburu. Kebanyakkan manusia suka meminjam sifat2 syaiton, yang hilang pertimbangan sebagai manusiawi.
Makanya kita berdoa kepada Allah semoga segala kekusutan yang dihadapi berakhir.
Anggap ia ujian Allah..
Hiduplah dalam berkasih sayang yg erat sesama manusia atau makhluk Allah..

Doa : Ya Allah kau hidupkan kami sebagai mana kami di lahir kan dan mati kan kami sebagai mana kami di lahirkan.
suci dalam kesucian.
Iman, jiwa yang tenang, sabar dan yakin kepada Allah. Bawalah amal seberapa banyak yang mungkin. kerna lahir nya kita nggak bawa apa2 hanya janji yang telah di meterai…
Jangan kita mungkir janji kepada Allah.

Doa : Ya Allah, hidup dan mati ku kerna kau ya Allah. Hidupkan kami dalam kesucian dan matikan kami dalam kesucian..dalam kalimah la illah haillallah Muhammad dar rasullullah. Rabbana atmim lana nurana wagh firlana innaka ala kulli syai in qadir.
Maksud : ya Allah, sempurnakan lah cahaya ku sesungguh nya kau Maha Pengampun dan Berkuasa segala sesuatu.

 

=====================================================

*KARENA DIA MANUSIA BIASA*

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir,  manusiawi lah). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya.

Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya tentulah melalui ta’aruf, tanpa pacaran. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat (aktivis pengajian), saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim.

Dia bukanlah akhwat. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.

Ada apakah gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu. Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol –hanya berdua- di taman rumahnya. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya.

“Aku gak bisa tidur”, Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan lampu taman.

“Kenapa kamu memilih dia” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari duduknya sambil meraih HP disaku bajunya. Ia masuk dalam kamar berlahan dia membuka laci meja riasnya dan kembali ke taman lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.

“Buka aja” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih.. hehehe. Saya membaca satu kalimat di atas dideretan paling atas.

“Busyet dah nih orang” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.

Kepada Yth

Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya

Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama …. menginginkan anda, untuk menjadi istri saya.

Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak saya kelak.

Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamanya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.

Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu, Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.

Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.

Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istikhoroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat lamaran yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya.

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.

“Kenapa kamu memilih dia”

“Karena dia manusia biasa” Dia menjawab mantap.

“Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buatku”

“Maksudnya?”

“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha…” Sahutnya dengan tawa renyahnya

* * *

Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah proses usaha.

Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan nama. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang melekat  pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.

Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan.

Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.

Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan.

Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.

Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Cinta tumbuh karena suami/istri ( belahan jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa.

Amin.

Aku memang manusia biasa

Yang tak sempurna

Dan kadang salah

Namun dihatiku hanya satu

Cinta untukMU

Luar biasa

(Yovie and Nuno)

=====================================================

* Kamu makin cantik kalau kamu marah *

Buat yang udah nikah, yang mau nikah atau yang punya niat untuk nikah.

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri atau ia tengah berdusta.

Yang jelas kita perlu menikmati sa’at-sa’at bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi sa’at sa’at tidak bertengkar.

Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat

tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah,betapa tidak, justru dalam

pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental,lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa

perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of

Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah.

Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu

sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat

rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati :

“Kamu makin cantik kalau marah, makin energik…” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal

sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “Duh kekasih…

bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku

menunggu ….”

Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka,” saya menganggap bahwa distorsi

hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya:) maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.

Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah ^_^

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa.

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari

sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab

harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga

harapan,bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun

kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.

Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga!

Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).

Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan

coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”. Kata ayah saya: “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak.”

Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya daripada ngambek pada yang tidak

mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan

memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak anak!

Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat

pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita.

Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana

ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar (based on true story):

Ibu: “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu?!!!”

Bapak: “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk

itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda????!!!!

Anak: “Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa?”

Kita harus berani berkata: “Hentikan pertengkaran!” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam

binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat!

Pada setiap tahiyyat kita berkata: “Assalaa-mu’alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin” Ya Allah damai atas

kami, demikian juga atas hamba hambamu yang sholeh…. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi,

setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawamu

ditangan Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi …..

Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya

sebatas….???

Nnngg……. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar … ^_^

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan

Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran (resensi sebuah film). Tapi yang jelas

memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens”

Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.

Ini saja, semoga bermanfa’at. “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia

dibatasi”.

Dalam riwayat Abu Hurairah dikatakan “Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah” (H.R. Malik).

Wallahu A’lam……

♥ •.¸¸.•♥•.¸¸.•♥•.¸¸..•*´¨`*•……

=====================================================

**BAGAIMANA CARAMU MENCINTAI ISTRI KETIKA ENGKAU MENCINTAI ALLAH DIATAS SEGALANYA**

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Ingatkah kita kisah yang diriwayatkan oleh Aisyah Ra. ketika melalui malam dengan Rasulullah SAW, bersisian, bersentuhan, “…kulitku dengan kulitnya..” istilah Aisyah. Lantas kemudian Rasulullah hendak melakukan qiyamullail?

Sungguh mulia apa yang dicontohkan Rasulullah dalam hadits tersebut, betapa beliau mengajarkan kita untuk mencintai Allah diatas segalanya dengan cara yang indah, tanpa harus mengecilkan (membuat terasa kecil) kecintaan kepada istri yang notabene harus menjadi yang paling dicintai setelah Allah dan RasulNya.

“…Yaa Aisyah, bolehkah aku menyembah Tuhanku…?”

kira-kira beginilah ucapan Rasulullah meminta izin kepada Aisyah untuk qiyamullail disaat mereka berdua tengah menikmati kebersamaan. Padahal sebenarnya Rasulullah tidak perlu meminta izin sedemikian rupa dengan menanyakan kepada istrinya apakah dia boleh meninggalkan istrinya sejenak untuk sholat malam. Bukankah Cinta Kepada Allah harus diatas cinta kepada istri?

Tapi, lihat betapa indahnya Rasulullah bersikap kepada istrinya. Lihatlah betapa Rasulullah menunjukkan kecintaannya kepada Rabbnya lebih tinggi dari kecintaannya kepada istrinya dengan TANPA harus menyakiti perasaan istrinya sedikitpun. Dengan tanpa membuat istrinya kecewa sedikitpun.

Padahal, bilapun Rasulullah tidak membahasakannya dengan cara meminta izin kepada Aisyah, misalnya dengan langsung bangkit untuk sholat tanpa berkata apapun kepada istrinya terlebih dahulu, mungkin Aisyah tidak akan keberatan atau kecewa meski saat itu mereka tengah merasa nyaman dengan kebersamaan yang begitu erat.

“…wahai suamiku, sesungguhnya aku suka berdekatan denganmu, tapi aku juga suka melihatmu menyembah Tuhanmu…” begitulah kira-kira jawaban Aisyah, dengan penuh keridhoan dan tanpa menyiratkan kekecewaan sedikitpun ketika suaminya ingin mendahulukan kecintaannya kepada Allah (dalam hal ini qiyamullail) ketimbang kecintaan kepadanya. Inilah manajemen cinta yang seharusnya).

_______________________________________

Apakah yang bisa kita pelajari dari hadits ini?

Bila engkau adalah kepala keluarga, tidak bisakah engkau mencari jalan keluar yang lebih indah untuk dapat mendahulukan kecintaanmu kepada Allah dengan cara yang sama sekali menghindari akibat-akibat tersakitinya perasaan istrimu, atau timbulnya kekecewaan dalam hatinya, walau pada dasarnya dia ridho bila engkau mendahulukan kecintaan kepada Tuhanmu?

Ketika engkau ingin menyantuni anak yatim misalnya, atau menyantuni salah satu dari saudaram-saudaramu.

__________________________________

Bila dia adalah istrimu, insyaAllah dia akan sangat senang ketika engkau ingin menyantuni anak yatim. Karena dia mengerti itu adalah bukti kecintaanmu kepada Allah SWT.

Tapi kira-kira bagaimana JALAN yang akan engkau tempuh, atau CARA yang akan engkau gunakan agar dengannya engkau tidak perlu membuat dia merasa tidak ridho dengan CARA tersebut atau bahkan tersakiti perasaannya?

Haruskah engkau mengorbankan apa saja termasuk mengorbankan perasaan istrimu? Tidakkah engkau seharusnya mencintai dia lebih dari engkau mencintai orang lain? Bukankah Rasulullah mengajarkanmu bagaimana cara mencintai istrimu ketika engkau mencintai Allah diatas segalanya?

Haruskah engkau menunjukkan kepada istrimu bahwa (diluar konteks kecintaan kepada Allah) engkau lebih mencintai orang lain ketimbang istrimu?

Tidakkah kita tahu bahwa haram bagi seorang suami menyakiti istrinya secara fisik maupun secara psikologis?

_______________________________

Padahal Rasulullah mencontohkan cara yang begitu mulia ketika mendahulukan kecintaan kepada Allah ketimbang kepada istri.

Pilihlah!

Sekali lagi, pilihlah cara yang lebih ma’ruf dan lebih membuat istrimu ridho.

InsyaAllah dia tidak melarangmu untuk mendekat kepada Tuhanmu dengan menyantuni anak yatim. InsyaAllah dia sangat suka melihatmu mencintai keluargamu. Tapi dia tidak ingin engkau memilih cara yang tidak ahsan, tidak baik. Dan mungkin sikapmu telah membuatnya tersakiti. Mudah–mudahan dengannya engkau dan istrimu akan beroleh keridhoan Allah yang lebih sempurna. Allahumma Aamiin

Bila dia adalah istrimu, apakah yang akan engkau lakukan sekarang?

======================================================

**MENSYUKURI NIKMAT HIDUP**

Mengeluh. Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar. Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya. Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut.

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, tentunya Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang berpikiran positif bukan ?

Menjadi seorang yang suka mengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh?

Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realita yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur.

Di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri. Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia? Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra.

Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan. Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda.

Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.

Cobalah :

1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.

2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.

3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.

“Semakin banyak Anda bersyukur kepada Allah atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri.”

=====================================================

**ORANG-ORANG YANG BERBUAT BAIK AKAN MEMPEROLEH KEBAIKAN **

Rahasia lain yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan memperoleh pahala berupa kebaikan di dunia dan akhirat. Menge­nai hal ini, Allah berfirman sebagai berikut:

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan­mu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.s. az-Zumar: 10).

Bagaimanapun, orang perlu mengetahui apakah sesungguhnya “kebaikan” itu. Setiap kaum memiliki pendapat masing-masing tentang kebaikan; ada yang menyatakan bahwa yang disebut kebaikan adalah bersikap menyenangkan, memberikan uang kepada orang miskin, bersikap sabar terhadap ber­bagai bentuk perlakuan, itulah yang sering kali disebut “kebaikan” oleh masyarakat. Namun, Allah memberitahukan kita di dalam al-Qur’an tentang hakikat “kebaikan”:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan ialah ber­iman kepada Allah, hari Kiamat, malaikat-malaikat, Kitab-kitab, nabi-nabi, dan mem­berikan harta yang dicintainya kepa­da ke­rabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati jan­jinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. al-Baqarah: 177).

Sebagaimana diingatkan dalam ayat di atas, kebaikan yang sesungguhnya adalah bertakwa kepada Allah, menyibukkan diri mengingat hari perhitungan, menggunakan hati nurani, dan selalu sibuk melakukan amalan yang mendatangkan ridha Allah. Utusan Allah, Nabi Muhammad saw., juga memerintahkan agar orang-orang beriman bertakwa kepada Allah dan berbuat kebaikan:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Bersegeralah berbuat kebaik­an setelah berbuat dosa agar dosa itu menjadi bersih, dan selalu berlemah lembut dalam bergaul dengan manusia.” 1(At Tirmidzi Birr 55:1988)

Allah telah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang selalu berbuat kebaikan karena keimanan mereka, dan orang-orang yang takut dan cinta kepada Allah, selanjutnya Dia menyatakan akan mem­­beri pahala kepada mereka dengan ke­baik­an:

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s. Ali ‘Imran: 148).

“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh yang baik. Dan sesung­guh­nya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. an-Nahl: 30).

Ini merupakan kabar baik yang diberitakan dalam al-Qur’an kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, yang mengorbankan diri, dan yang berusaha untuk memperoleh keri­dha­an Allah.

Allah memberikan kepada orang-orang ini berita gembira tentang kehidupan yang baik, di dunia ini dan di akhirat kelak, dan Allah akan menambahkan karunia-Nya, baik yang berupa kebendaan maupun keruhanian. Nabi Sulaiman yang diberi seluruh kerajaan, yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun, dan Nabi Yusuf yang diberi wewenang atas selu­ruh harta benda Mesir, adalah contoh-contoh yang diceritakan dalam al-Qur’an. Allah memberitahukan kita tentang nikmat yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad saw. dalam ayat, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia membe­rikan kecukupan.”(Q.s. adh-Dhuha: 8).

Perlu kita ketahui bahwa kehidupan yang indah dan baik tidak saja diberikan kepada orang-orang beriman dari generasi terdahulu. Allah menjanjikan bahwa dalam setiap kurun, Dia akan memberikan kehidupan yang baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman:

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguh­nya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerja­kan.” (Q.s. an-Nahl: 97).

Orang-orang yang beriman tidak pernah mengejar dunia, yakni mereka tidak tamak ter­hadap harta dunia, kedudukan, atau keku­asaan. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam sebuah ayat, mereka telah menjual diri dan harta mereka untuk memperoleh surga. Jual beli dan perdagangan tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan sha­lat, dan berjuang untuk agama. Di sam­ping itu, mereka tetap sabar dan taat sekalipun mereka diuji dengan kelaparan atau kehilang­an harta, dan mereka tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang berhijrah pada zaman Nabi merupakan sebuah contoh. Mereka berhijrah ke kota lain dengan meninggalkan rumah, pe­kerjaan, perdagangan, harta, dan kebun mere­ka, dan di sana mereka puas dengan yang sedi­kit mereka miliki. Sebagai balasannya, mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah. Kerelaan mereka dan keikhlasan mere­ka dalam mengingat akhirat menyebab­kan mereka memperoleh rahmat dari Allah berupa kehidupan yang baik. Kekayaan yang diberi­kan Allah kepada mereka tidak menyebabkan mereka mencintai dunia, sebaliknya mereka bersyukur kepada Allah dan mengingat-Nya. Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia ini kepada setiap orang yang beriman dan berakhlak mulia.

Allah Berjanji akan Melipatgandakan Perbuatan

Hamba-hamba-Nya yang Berbuat Kebaikan

Allah berjanji akan melipatgandakan per­buatan hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan mela­in­kan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (Q.s. al-An‘am: 160).

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Q.s. an-Nisa’: 40).

Tanda yang paling jelas bahwa Allah me­lipatgandakan setiap perbuatan baik adalah perbedaan antara kehidupan di dunia dan akhi­rat. Kehidupan di dunia sangatlah sing­kat waktunya, yang lebih kurang berlang­sung selama 60 tahun. Namun, orang-orang yang sibuk membersihkan diri mereka dan sibuk dalam amal saleh di dunia ini akan memper­oleh pahala berupa kebaikan tak terbatas di akhirat sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan selama kehidupannya yang singkat di dunia. Allah telah menyatakan janji ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik dan tambahannya.” (Q.s. Yunus: 26).

Kita perlu merenungkan pengertian “tak terbatas” agar dapat memahami besarnya pahala ini. Marilah kita bayangkan tentang semua orang yang pernah hidup di bumi, orang-orang yang sedang hidup di bumi, dan orang-orang yang akan hidup di bumi, bagai­mana mereka menghabiskan setiap detik dalam kehidupan mereka. Tentu saja angka ini akan sangat besar jika dituliskan. Namun, sesudah “tak terbatas”, bahkan angka yang sangat besar ini tidak berarti apa-apa. Karena “tak terbatas” maknanya adalah tidak ada akhirnya, tidak memiliki batas waktu. Orang-orang yang taat kepada Allah ketika di dunia, mereka ketika di akhirat akan bertempat tinggal di surga. Mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya, mereka akan memper­oleh apa saja yang mereka inginkan, yang tidak ada batasnya. Tentu saja ini merupakan contoh yang harus direnungkan agar kita dapat memahami besarnya kasih sayang dan rahmat Allah

.

Di kutip dari Beberapa rahasia Al- Qur’an – HARUN YAHYA

=========================================================

** Membina Rumah Tangga Idaman **

Sepanjang sejarah manusia, laki-laki dan perempuan saling membutuhkan satu sama lainnya, bahkan bagi nabi Adam, surga pun terasa kurang lengkap tanpa seorang pendamping (Hawa). Perempuan adalah permata yang memancarkan aura kekuatan yang akan membuat laki-laki menjadi super, dari malas menjadi semangat, dari lemah menjadi kuat, dan dari harapan menjadi kenyataan.

Perempuan juga membuat hati yang kasar menjadi lembut, tangis menjadi tawa, dan sebaliknya bisa membuat laki-laki  menjadi sosok yang kejam dan menakutkan. Fakta sejarah membuktikan bahwa dalam setiap kesuksesan orang besar, di belakangnya seringkali ada sosok perempuan yang selalu mensupportnya.  Dan juga sebaliknya, sejarah pertumpahan darah sering kali terjadi demi memperebutkan seorang  perempuan. Qabil adalah actor pertama dalam sejarah pembunuhan manusia yang dilakukan pada saudaranya sendiri Habil, demi sosok perempuan yang bernama Iqlima.

Demikianlah sunnatullah bahwa yang namanya laki-laki membutuhkan perempuan, dan sebaliknya perempuan juga membutuhkan sosok laki-laki, yang akan melindunginya, menjadi imam dalam menempuh perjalanan hidupnya, dan menjadi  pembela dalam setiap desah nafasnya.

Di sinilah dibutuhkan tali sebagai penghubung yang akan mengikat antar keduanya,  membangun bersama rumah surgawi, dan  mencetak  generasi-generasi Islami. Itulah pernikahan. Untuk mewujudkan semua itu, kita harus merumuskan siapakah sosok ideal yang akan menjadi pendamping hidup kita, sehingga kita dan pasangan kita akan merasa menjadi manusia yang paling bahagia. Dan mungkin kelak akan menjadi kenangan indah yang takkan pernah terlupakan sepanjang masa seperti kokohnya Tajmahal yang menjadi lambang kecintaan suami pada istri tercintanya, mumtaz.  Inilah contoh-contoh  untuk membangun ” Baiti Jannati” rumahku adalah surgaku…

Alangkah indahnya punya sosok istri seperti Siti Khadijah, istri yang membuat nabi selalu ingat sepanjang masa, istri yang selalu ada dalam bahagia maupun duka, menghiburnya saat beliau bersedih, dan menjadi tempat curahan keluh-kesahnya.  Sosok istri yang posisinya tak tergantikan sehingga nabi sulit melupakannya, bahkan sampai tiga atau empat tahun setelah kewafatannya baru nabi mencari penggantinya. nabi pernah berkata pada Siti Aisyah “Allah tidak mengganti Khadijah dengan yang lebih baik, dia percaya padaku saat semua orang tidak mempercayaiku, dia membenarkan aku saat semua manusia mendustakanku, berbagi harta denganku saat semua orang mengharamkan padaku. Dan Allah memberikan keturunan darinya dimana Allah mengharamkan dari yang lainnya.

Alangkah bahagianya seorang istri yang mempunyai sosok suami seperti Rasulullah, suami yang memanggil Siti Aisyah dengan sebutan “Ya Humaira’”, suami yang bila istrinya keluar rumah digandeng dan dihantar sampai ke atas kendaraan, sosok suami yang membuat Siti Aisyah menangis terharu saat melihat suaminya tertidur di depan pintu, saat itu nabi kemalaman datang berkunjung ke rumah Siti Aisyah. Paginya Siti Aisyah minta maaf, tapi apa jawaban nabi, tidak Aisyah, aku yang salah, aku terlalu malam datang ke sini.

Alangkah beruntungnya suami yang mempunyai istri seperti Siti Hajar yang rela di tinggal suami di sebuah lembah yang tak berpenghuni dalam keadaan menyusui karena demi sebuah perintah.  Atau seperti istrinya Umar bin Abdul Aziz yang rela meninggalkan harta perhiasannya dan memilih ikut bersama suaminya. Dan masih banyak contoh-contoh sosok suami-istri yang membangun rumah tangganya bak taman surgawi.

Namun alangkah malangnya suami-Istri yang tidak bisa saling membahagiakan, tidak bisa saling mengalah, dan tidak bisa saling mengerti. Alangkah malangnya suami jika punya istri yang berkarir hingga pulang larut malam, tidak ada yang menyambut suami ketika datang dari kantor , tidak ada senyum manis sang istri di depan pintu, dan istri sudah tidak sempat lagi membuatkan masakan untuk suaminya.

Semuanya pada sibuk, rumah hanya sebagai tempat istirahat dengan segala kelelahan yang dibawa dari tempat kerja masing-masing, rumah hanya menjadi tempat pelampiasan kemarahan, pertengkaran sering mewarnai keseharian, dan ketika di tegur, Istri selalu berdalih emansipasi wanita yang kadang dengan alasan seperti ini istri sering melupakan kewajibannya. Anak-anak kurang mendapatkan kasih sayang, dan suami sudah tidak lagi merindukan senyum sang istri. Apakah keluarga seperti ini yang dirindukan? “

Baiti Jannati” rumahku adalah surgaku bukan untuk diimpikan tapi harus diusahakan. Kebahagiaan tidak datang begitu saja, harus ada upaya dari keduanya.

Suami-istri harus bisa merawat,  saling melengkapi satu sama lain, dan saling memahami hak dan kewajiban masing-masing sehingga rumah tangga itu bisa tetap utuh. Dengan saling memahami dan berusaha untuk saling memberikan yang terbaik,

Insya Allah rumah surgawi akan menjadi kenyataan bukan hanya impian.

=======================================================

* Duhai hati…tetaplah istiqomah *

Seorang anak kecil datang menghampiri ibunya. Ia merengek minta dibelikan sepatu baru. Di sekolah ia diejek karena sepatunya sudah usang dan banyak tambalan. Dengan berbagai alasan ia utarakan agar ibunya mau membelikan sepatu baru.

Dengan mata berkaca-kaca, sederet kalimat ini keluar dari mulut ibunya, “Nak, kamu kan sudah besar. Kamu harus mengalah dengan adik-adikmu. Mereka butuh uang untuk sekolah mereka nanti. Uangnya ibu tabung untuk mereka. Kalau ibu pakai uang itu untuk membelikan kamu sepatu baru, lalu adik-adikmu sekolah pakai uang siapa? Apa kamu mau adik-adikmu tidak bersekolah?”

Anak kecil tadi tiba-tiba terdiam. Ia terlihat seperti anak remaja yang sudah bisa berpikir cukup berat dan bijak. Digoyang-goyangkan kepalanya sambil mengusap air mata yang tadi keluar deras dari kelopak matanya. Lalu ia berkata, “Bu, kalau nanti adik-adik sudah bisa sekolah. Terus kalau ada sisa uang, belikan sepatu ya..”Anak itu mengatakan kalimat itu dengan terbata-bata, seperti ia tidak rela dengan hal itu tapi ia dipaksa oleh kondisi untuk mengikhlaskan apa yang menjadi kehidupannya. Mendengar itu sang ibu memeluk anaknya dengan erat. Ia tidak menyangka anaknya dapat memahami apa yang terjadi hari ini dengan keluarga mereka. Ia heran anaknya sudah mampu berkata bijak seperti tadi ia dengar.

***

Duhai hati..

Letih yang engkau rasakan selama ini mungkin tak sebanding dengan letihnya hati mereka dalam menapaki kehidupan ini. Di dalam keletihan itu, mereka memahami bahwa letihnya mereka akan membuat mereka menjadi orang-orang seperti yang dicitakan. Lalu bagaimana denganmu wahai hatiku.. Baru sebentar saja engkau merasa letih tapi kau sudah merintih bagai seribu tahun kau mengalaminya.. Malulah pada mereka yang merasa letih tetapi mereka memaknai letihnya sebagai sesuatu yang dapat mengantarkannya pada sebuah kebahagiaan.. Bukankah orang yang berjuang dan berkorban itu letih? Bukankah akhir dari perjalanan orang yang berjuang dan berkorban itu sebuah kebahagiaan jika dijalani dengan ikhlas dan penuh kesungguhan??

Duhai hati..

Lelah memang terus menerus hal-hal kurang mengenakkan itu menerpa hidupmu. Tetapi jika kau renungi kembali kisah di atas, perjuangan mereka tidak mengenal lelah. Setiap lelah menghinggapi mereka, mereka beristirahat dan kemudian bangkit berjuang kembali. Mereka paham kalau diamnya mereka tak dapat membuahkan hasil apapun bagi kehidupannya. Mereka yakin perjuangan dan pengorbanannya selama ini, berlelah-lelahan, akan berbuah sebuah kebahagiaan yang tak dapat tergantikan nikmatnya. Lalu bagaimana denganmu wahai hatiku.. Baru sebentar saja kau diberi cobaan dan ujian tapi kau sudah merasa lelah dan menyerah.. Malulah kau pada mereka yang tak punya apa-apa tapi mereka tetap istiqamah berjuang dan berkorban hingga cita-cita mereka tercapai.. Bukankah orang yang berjuang dan berkorban itu lelah? Bukankah akhir dari kelelahan orang yang berjuang dan berkorban itu sebuah kebahagiaan jika dijalani dengan ikhlas dan penuh kesungguhan??

Duhai hati..

Sakit yang terus menyapamu selama ini adalah ujian dan cobaan dari Allah seberapa kokohnya engkau menjalani apa-apa yang engkau yakini atas-Nya. Dia ingin tahu seberapa seriuskah engkau dalam menapaki jalan kehidupan yang sudah Dia gariskan. Sakit yang Dia berikan adalah sebuah perhatian khusus-Nya kepadamu. Dia masih sayang kepadamu dengan memberikan ujian dan cobaan. Andai saja kau tak merasa diuji dan diberi cobaan, maka kau akan merasa aman-aman saja, padahal kau sedang berada di tepian jurang yang menganga lebar dan siap menerkammu kapan saja kau lengah..

Duhai hati..

Capeknya dirimu menghadapi segala permasalahan yang engkau temui di sekitarmu, itulah yang terus mengajarkanmu untuk dapat memahami sekelilingmu dengan lebih baik lagi. Di kananmu ada orang-orang yang engkau sayangi dan kasihi. Di depanmu ada orang-orang yang engkau hormati. Di kirimu ada orang-orang yang engkau senantiasa bercengkerama dengannya. Di belakangmu ada orang-orang yang selalu mendukungmu dalam tiap doanya meski kau tak pernah tahu.

Duhai hati..

Seorang ustadz pernah menyampaikan, jika tak senang dengan sepatumu yang lusuh, ingatlah mereka yang tak berkaki namun tak mengeluh. Semoga kita selalu dapat mengingatnya duhai hati.. Seberapa letih, lelah, dan sakitnya engkau.. Masih ada orang-orang yang merasakan itu lebih dari kita tetapi mereka tetap tak mengeluh.. Ada saja cara mereka untuk menyemangati diri.. Ada saja sugesti untuk membuat diri mereka semangat.. Ada saja pemikiran positif yang mereka punya hingga mereka tetap bersemangat.. Ada saja cita-cita yang ingin mereka gapai hingga semangat itu tetap terpatri di dada mereka..

Duhai hati..

Tetaplah istiqamah..

Walau itu berat bagimu..

Percayalah kau mampu menjalaninya..

Asalkan kau selalu menyertakan Allah dalam segala hal..

Terpautnya kau duhai hatiku pada Sang Khalik..

Akan membuatmu semakin cantik dan tangguh..

Karena kau adalah mutiara di lautan..

Yang akan terus terjaga sampai masa memisahkan..

Duhai hati.. Tetaplah istiqamah..

=========================================================

Hangar-bingar pesta demokrasi menyisakan berbagai cerita dan peristiwa pilu. Hitunglah, berapa banyak caleg yang diberitakan stress, masuk RSJ, bahkan bunuh diri akibat gagal meraih kursi. Ratusan juta rupiah yang digelontorkan pun sia-sia tiada sisa.

Di sisi lain, di awal tahun 2009 terjadi krisis ekonomi global yang melanda seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia Development Monitoring (IDM) menilai perekonomian Indonesia dalam dua bulan terakhir terus menunjukkan pelemahan, awal tahun 2009 jumlah buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 3,2 juta. (vivanews.com).

Demikian halnya dengan Ujian Nasional bagi para pelajar pun akan menyisakan kesedihan bagi mereka yang gagal. Tak hanya pelajar, orang tua pun pasti ikut menanggungnya.

Ya, semua menyisakan kesedihan. Namun, akankah kita berlarut-larut dalam kesedihan, kemudian berputus asa?

Jangan bersedih, itu bukanlah akhir

Berapa kali Anda tertimpa musibah dan bencana? Berapa kali Anda tertimpa kesusahan dan ujian sehingga Anda menduga bahwa semua itu akan membunuh dan mengakiri hidup Anda?

Berapa kali hartamu hilang dan dunia menjadi sempit, sehingga Anda menduga tidak akan pernah berdiri lagi selamanya?

Berapa kali penyakit bersarang di badan, sehingga Anda menduga bahwa ini adalah sakit yang akan membawamu menuju kematian?

Jangan bersedih, itu bukanlah akhir dari segalanya!

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. (At-Taghabun [64]: 11)

Salah satu kaki Urwah bin Zubair terpotong dan anaknya meninggal pada hari yang sama. Maka, dia berkata, “Ya Allah, bagi-Mu segala pujian. Jika Engkau mengambilnya, Engkaulah yang telah memberikannya. Jika Engkau memberi ujian, maka Engkaulah yang menyehatkan. Engkau memberikanku empat anggota badan, kemudian Engkau mengambil salah satunya. Engkau memberiku empat orang anak, kemudian Engkau mengambil salah satunya.”

Diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi’i,

Biarkanlah hari-hari berbuat apa yang diinginkannya

Tetaplah berjiwa tenang  jikalau qadha’ telah ditetapkan

Jika qadha’ turun ke bumi untuk suatu kaum

Maka tidak akan ada bumi dan langit yang akan menjaganya

Apa yang Anda peroleh dari kesedihan?

Wahai orang yang memenuhi lembaran kehidupannya dengan kesedihan! Demi Allah, katakan kepadaku, “Apa yang Anda dapatkan dari kesedihan? Bisakah Anda mendapatkan kembali senyuman yang hilang? Bisakah Anda mendapatkan kembali hartamu yang dirampas? Bisakah Anda menghidupkan kembali mayatmu? Bisakah Anda menjauhkan orang-orang yang iri dan dengki dari dirimu? Bisakah Anda mengembalikan kesehatan dan kebugaranmu? Jadi, mengapa harus sedih?”

Jangan bersedih karena kesedihan seperti badai topan yang merusak cuaca, menumpahkan air, mengubah langit dan mematahkan bunga mekar di kebun yang menawan.

Jangan bersedih! Sesungguhnya umurmu yang sebenarnya adalah kebahagiaan dan ketenteraman pikiranmu. Jangan gunakan hari-harimu untuk kesedihan! Jangan membuang-buang malam-malammu untuk keresahan dan membagi waktu-waktumu untuk kegelisahan!

Jangan bersedih! Sesungguhnya resep-resep para dokter, obat-obatan apotek dan ungkapan orang-orang bijaksana tidak dapat membuatmu bahagia. Anda sendirilah yang mampu menenangkan hatimu dari kesedihan, menyejukkan pandanganmu, dan melapangkan jalanmu.

Jangan bersedih karena kesedihan membuatmu lemah dalam ibadah dan malas berjihad, memberimu kegagalan, mengajakmu untuk berburuk sangka dan menjerumuskanmu ke dalam sikap pesimis.

Jangan bersedih! Jangan menyerah pada kesedihan dengan jalan menganggur dan malas-malasan! Shalatlah, bertasbihlah, bacalah, tulislah, beramallah, sambutlah,  kunjungilah dan renungilah!

Jangan bersedih karena kesedihan akan membuat hati merasa tertekan, memuramkan wajah, memadamkan ruh dan mengaburkan harapan.

Jangan bersedih karena kesedihan berasal dari setan. Kesedihan adalah putus asa yang berbahaya, kefakiran yang nyata, kehilangan harapan yang abadi, kegagalan yang nyata dan kerugian yang jelas.

Musibah itu tidak akan abadi

Hari-hari itu mengalami perputaran dan mustahil terus berada dalam satu keadaan. Jangan bersedih walaupun musibah-musibah itu terus membesar karena ia tidak akan abadi. Jika hari ini Anda merasakan pedihnya musibah, maka esok hari Anda akan meluncur dari hulu kebahagiaan. Ketahuilah bahwa malam paling gelap adalah sebelum terbitnya fajar dan masa keputusasaan adalah saat terdekat untuk terbitnya fajar harapan. Sesungguhnya jika musibah-musibah itu telah mencapai puncak dan intinya, berarti masa kelonggaran dan hilangnya musibah telah dekat. Setelah itu, akan lahirlah fajar baru yang diliputi kebahagiaan, kegembiraan, cahaya dan kesejahteraan. Maka, janganlah bersedih karena musibah-musibah itu tidak akan abadi.

Mukmin memang ajaib

Nabi Saw bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik. Hal itu tidak dimiliki seorang pun kecuali seorang mukmin. Jika dirinya ditimpa kebahagiaan, dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya. Jika dirinya ditimpa kesusahan, dia bersabar dan itu merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sesungguhnya ujian adalah sunnah yang tidak akan mengalami pergantian dan perubahan. Allah SWT berfirman,

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-’Ankabut [29]: 2-3)

Allah SWT berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Sesungguhnya kami ini milik Allah dan kepada-Nya lah kami akan kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah [2]: 155-157)

Saudaraku! Sesungguhnya kehidupan tidak pernah lenyap dari berbagai kesusahan. Sesungguhnya harapan dan kedamaian, keridhaan dan cinta, serta ketenangan jiwa adalah buah-buah menggiurkan para penanam akidah dalam jiwa seorang mukmin dan gudang harta yang tidak akan habis penyuplaiannya dalam medan perang kehidupan. Kehidupan adalah medan pertempuran yang lama masanya, banyak bebannya serta dipenuhi oleh berbagai bahaya dan kesulitan.

Sesungguhnya tabiat kehidupan dunia dan tabiat manusia yang menghuninya menyebabkan mustahilnya seseorang bisa terbebas dari bencana-bencana yang menimpanya, atau kesulitan-kesulitan yang menghampiri pekarangannya. Betapa sering seseorang gagal dalam pekerjaan, sia-sia dalam harapan, badannya diserang penyakit, atau kehilangan harta dan kejadian-kejadian lainnya yang menyebabkan meluapkan sungai kehidupan.

Penelitian dan realita membuktikan bahwa orang yang paling berkeluh kesah dan paling gelisah menghadapi kesusahan-kesusahan hidup adalah orang-orang atheis, orang-orang skeptis dan orang-orang yang lemah iman. Allah menggambarkan manusia seperti itu dengan firman-Nya, “Dan jika mereka ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Fushshilat [41]: 49)

Mereka seperti kapal yang kehilangan awak dan nakhodanya serta peralatan-peralatan lainnya yang membuatnya kokoh dalam menghadapi ombak dan badai. Kapal seperti ini akan berguncang hebat dan menjadi miring karena sedikit hembusan angin dan dorongan ombak di segala sisi sehingga akan cepat tenggelam ke dasar lautan.

Adapun seorang mukmin yang yakin dengan janji Allah, dia menghibur diri dengan pengetahuannya bahwa Allah akan mengganti semua musibahnya di surga.

Berbaik sangkalah kepada Allah

Salah satu nikmat terbesar adalah ketika seorang hamba berbaik sangka kepada Allah SWT.

Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW bahwa Allah SWT berfirman, “Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku terhadap diri-Ku. Jika dia bersangka baik terhadap diri-Ku, maka itulah untuknya. Jika dia bersangka buruk terhadap diri-Ku, maka itulah untuknya.” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan Muslim dari Jabir RA berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda tiga hari sebelum kematiannya, “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka dengan Allah ‘Azza wa Jalla.”(HR. Muslim)

Jadilah Penduduk Akhirat

Wahai saudara tercinta! Jangan bersedih dengan hilangnya dunia. Seluruh  dunia tidak sepadan di sisi Allah dengan sehelai sayap nyamuk. Akan tetapi, bersedihlah dengan hilangnya akhirat. Bersedihlah dengan hilangnya setiap kesempatan yang tidak Anda manfaatkan untuk menaati Allah SWT.

Harta tidak akan memberimu manfaat kecuali jika Anda gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Keluarga tidak akan memberimu manfaat kecuali jika Anda menuntun tangan mereka, sedangkan mereka juga menuntun tanganmu menuju ketaatan kepada Allah SWT dan menuju surga-Nya.

Rasulullah SAW bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Mayit itu diikuti oleh tiga perkara. Dua kembali dan satu tetap tinggal. Keluarganya dan hartanya akan kembali, dan amalannya akan tertinggal. (Muttafaq ‘Alaih)

Para salafus shalih tidak takut kehilangan dunia, akan tetapi mereka takut kehilangan akhirat dan apa yang mendekatkan mereka kepadanya. Bahkan, salah seorang di antara mereka senang jika ada orang yang mengingatkannya bahwa dunia adalah Dâr Al-Ghurûr (tempat yang menipu), sedangkan akhirat adalah tempat kebahagiaan dan kegembiraan.

Inilah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah. Pada suatu hari, Ibnus Sammak berkata kepadanya, “Engkau akan meninggal sendirian, masuk kubur sendirian dan dibangkitkan sendirian. Takutlah dengan posisimu di hadapan Allah SWT, berdiri di antara surga dan neraka, ketika nyawa melewati kerongkongan, kaki tergelincir dan penyesalan menyerang, maka tidak ada taubat yang diterima, tidak ada keluhan yang diungkapkan dan tidak ada tebusan harta yang diterima.” Dia membuat Harun Ar-Rasyid menangis sampai suaranya terdengar keras. Maka Yahya bin Khalid berkata kepadanya, “Wahai Ibnus Sammak! Engkau telah menyakiti Amirul Mukminin pada malam ini.” Kemudian dia bangkit dan meninggalkan orang-orang di sekelilingnya dalam keadaan menangis.

Bersabarlah, raihlah surga-Nya

Jika Anda fakir, maka Allah SWT akan menggantinya dengan memasukkanmu ke dalam surga lima ratus tahun sebelum orang-orang kaya. Nabi SAW bersabda,

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ

Kaum fakir dari kalangan kaum muslimin memasuki surga sebelum orang-orang kaya mereka selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun. (HR. At-Tirmidzi)

Jika Anda hidup dalam kesengsaraan, kemiskinan dan ujian, maka Allah SWT akan menjadikanmu lupa terhadap segalanya ketika pertama kali melangkahkan kaki di surga. Diriwayatkan Muslim bahwa Nabi SAW bersabda, “Didatangkan manusia paling sengsara di dunia dari kalangan penduduk surga, kemudian dicelupkan sekali celup ke dalam surga, maka dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau melihat kesengsaraan sedikit pun? Apakah kepedihan melewatimu sedikit pun?’ Dia pun menjawab, ‘Tidak, demi Allah ya Rabb! Kesengsaraan tidak pernah melewatiku sedikit pun dan saya tidak melihat kepedihan sedikit pun’.” (HR. Muslim)

Tersenyumlah pada kehidupanmu

Alangkah indahnya senyuman ketika keluar dari hati sehingga menyinari wajah dan menjadikannya seperti matahari di pertengahan siang. Sesungguhnya senyuman adalah balsem kegelisahan dan kesedihan. Senyuman adalah kebaikan-kebaikan yang diletakkan di timbangan seorang hamba tanpa kekurangan.

Nabi Saw juga tersenyum, bahkan kadang-kadang tertawa sehingga terlihat jelas gigi-gigi taringnya. Abu Darda’ RA berkata, “Sesungguhnya saya tertawa sampai hatiku merasa terhibur.”

Nabi Saw bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekahmu.” (HR. At-Tirmidzi)

Senyuman itu akan memberikan manfaat kepada pelakunya sebelum dinikmati orang lain. Senyuman akan mencerahkan wajah, melancarkan aliran darah dan memperlihatkan ketajaman kedua matanya. Senyuman itu menjadi latihan untuk otot-otot wajah.

Sesungguhnya senyuman itu mengalir di dalam jiwa sehingga menyebarkan ketenangan, kebahagiaan dan kegembiraan. Senyuman mampu menghilangkan kedengkian, memberantas permusuhan dan kebencian, bahkan kedudukannya seperti hadiah yang diberikan oleh orang yang tersenyum kepada orang lain. Oleh karena itu, wahai saudaraku, janganlah Anda menghalangi diri sendiri dari keutamaan senyum sehingga Anda akan bahagia dan membahagiakan orang lain.

Kita mengetahui bahwa Islam itu adalah agama pertengahan dan moderat dalam segala sesuatu, maka janganlah seorang muslim menampilkan kehidupan yang muram dan menakutkan. Jangan pula selalu tertawa tanpa henti. Akan tetapi, dirinya harus berada di pertengahan di antara ini dan itu, tanpa berlebih-lebihan dan ekstrem.

Ahmad Amin berkata dalam Faidh Al-Khâthir, “Orang-orang yang tersenyum menghadapi kehidupan tidak hanya menjadi manusia paling bahagia bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, mereka juga lebih mampu untuk bekerja, lebih kuat memikul tanggung jawab, lebih tegar menghadapi berbagai musibah dan mengatasi berbagai kesulitan, serta lebih mampu melaksanakan perkara-perkara besar yang memberikan manfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain.”

Tak ada alasan untuk selalu tenggelam dalam kesedihan, dan meratapi kehidupan. Tersenyumlah! Wallahu A’lam

=====================================================

** Terimalah aku apa adanya **

Di bawah naungan ajaran Islam, pernikahan sepasang insan suami istri menjalani hidup mereka dalam satu perasaan, menyatunya hati dan cita-cita. Namun adakalanya pernikahan harus berjalan di atas kerikil. Apalagi saat pandangan mulai berbeda, tujuan tak lagi sama. Mempertahankan keutuhan dan keharmonisan rumah tangga terasa tak lagi mudah. Di mata kita pasangan selalu serba salah dan penuh kekurangan.

Keluarga Samara

Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan. Karenanya Islam menganjurkan, sebab nikah merupakan gharizah insaniyah. Sebagaimana Allah berfirman,

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Ar-Ruum : 30).

Islam memberi penghargaan tinggi pada pernikahan dan Allah menyebutnya sebagai ikatan yang kuat. Dalam al-Quran surat An Nisaa : 21

“… dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”

Demikian agungnya ikatan pernikahan hingga sebanding dengan separuh agama. Begitulah, keputusan dua insan berbeda untuk menikah tentunya dengan pertimbangan matang, faham dan tahu tujuan dari pernikahan. Mengerti betul perbedaan akan disatukan dalam perkawinan. Hingga pemahaman-pemahaman dari ini diharapkan akan membawa pada keharmonisan dan kelangsungan pernikahan pada keabadian.

Pernikahan adalah bangunan yang bertiang Adam dan Hawa yang membangun kecintaan dan kerjasama, penuh mawadah, ketenteraman, pengorbanan, dan juga hubungan rohani yang mulia dan keterikatan jasad yang disyariatkan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Ruum :21).

Ayat ini merupakan pondasi kehidupan yang diliputi suasana perasaan yang demikian sejuk. Istri ibarat tempat bernaung bagi suami setelah seharian bekerja keras. Penghiburnya di saat lelah. Suasana rumah yang penuh belas kasih hingga menumbuhkan ketenteraman. Sebaliknya suami yang baik akan memberikan timbal balik yang sama.

Suami sebagai pemimpin rumahnya dengan bantuan dan dukungan istri akan bertindak sebijaksana mungkin mengatur rumah tangganya tanpa harus bersikap otoriter. Dan jika tugas suami istri berjalan seimbang maka akan memberi ketenteraman dan kemantapan dalam hubungan suami istri. Dan anak-anak yang tumbuh dalam “lembaga” yang bersih ini akan tumbuh dengan baik. Sebab individu yang bernaung di dalamnya tahu hak dan kewajibannya sebagaimana sabda Rasulullah ,

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.”

Maka tak heran kalau keluarga harmonis yang saking penuh mawadah warahmah akan mudah diwujudkan. Insyaallah.

Hak dan kewajiban suami istri

Kesan terbaik yang tertangkap dari rumah tangga Nabawi adalah terjaganya hak dan kewajiban dalam hubungan suami istri. Bahkan hak itu tetap diperoleh Khadijah dari Rasulullah meski Khadijah telah wafat hingga membuat Aisyah cemburu. Padahal Aisyah tak pernah berjumpa dengannya. Hal itu semua karena Rasulullah sering mengingat kebaikan dan jasanya.

Keharmonisan dalam rumah tangga akan dengan sendirinya terwujud jika pihak suami atau istri tahu hak dan kewajiban masing-masing. Rasa kasih dan sayang sebagai fitrah Allah di antara pasangan suami dan istri akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan pada keduanya. Sebaliknya, akan berkurang seiring menurunnya kebaikan pada keduanya. Sebab secara alami, jiwa mencintai orang yang memperlakukannya dengan berbuat baik dan memuaskan untuknya, termasuk melaksanakan hak dan kewajiban suami istri.

Suami memiliki hak yang besar atas istrinya. Di antara hak itu misalnya:

Menjaga kehormatan dan harga dirinya, mengurusi anak-anak, rumah dan hartanya saat suami tak ada di sisinya. Allah l berfirman :

“….. wanita yang shalihah adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri saat suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara mereka…… “ (An Nisa: 34).

Dalam haditsnya Rasulullah bersabda,

“Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya.” (Riwayat Bukhari Muslim).

Berpenampilan menyenangkan di depan suami dan bersikap manis. Sebagaimana Rasulullah bersabda,

“Sebaik-baik wanita adalah yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, menaatimu saat engkau perintah dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.” (Riwayat Tabrani)

Hak lain suami adalah tidak mengizinkan istri memasukan orang yang dibenci suami, menjaga rahasia suami istri termasuk dalam urusan ranjang, berusaha menjaga kelanggengan bahtera rumah tangga, tidak meminta cerai tanpa sebab syar’i.

Dari Tsauban, Rasulullah berkata, “wanita manapun yang minta cerai kepada suami tanpa sebab, maka haram baginya mencium bau surga”. (Riwayat Tirmidzi, Abu Daud).

Selain itu istri harus banyak bersyukur dan tidak banyak menuntut. Perintah ini sangat ditekankan Islam, bahkan ancaman Allah tak akan melihatnya pada hari kiamat kelak jika istri berbuat demikian.

“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup)”

Masih banyak hak-hak suami atas istrinya. Di samping itu suami pun harus memberikan hak istrinya serta menjalankan kewajibannya. Di antaranya adalah memberi makan pada istri apabila ia makan, memberikannya pakaian, tidak memukul wajah istri, tidak menjelek-jelekkan kekurangannya, tidak meninggalkan istri melainkan di dalam rumah, memperlakukan dengan lembut dan menggaulinya dengan baik.

Selain suami memiliki kewajiban memberi nafkah lahir batin, suami berkewajiban mengajarkan ilmu agama apalagi ia memegang kepemimpinan dalam rumah tangga. Hingga ia pun wajib membekali diri dengan ilmu yang syar’i, dengan demikian ia akan mampu membawa keluarganya, istri dan anaknya dalam kebaikan. Jika ia tidak sanggup, mengajar mereka, suami harus mengajak mereka menuntut ilmu syar’i bersama ataupun menghadiri majelis-majelis ilmu. Suami pun harus memberi teladan baik dalam mengemban tanggung jawabnya dan atas apa yang dipimpinnya.

Menerima Kekurangan dan Kelebihan

Kita melihat bagaimana al-Qur’an membangkitkan pada diri masing-masing pasangan suami istri suatu perasaan bahwa masing-masing mereka saling membutuhkan satu sama lain dan saling menyempurnakan kekurangan.

Ibaratnya wanita laksana ranting dari laki-laki dan laki-laki adalah akar bagi wanita. Karena itu akar selalu membutuhkan ranting dan ranting selalu membutuhkan akar. Sebagaimana firman Allah dalam al-A’raf 189,

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.”

Karena itu, pernikahan tak hanya menyatukan dua manusia berbeda tapi juga menyatukan dua perbedaan, kelebihan dan kekurangan sepasang anak manusia. Dimana masing-masing akan saling mengisi dan melengkapi kekurangan satu dengan yang lain. Sementara menjadikan kelebihan masing-masing untuk merealisasikan cita-cita pernikahan sesungguhnya.

“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al Baqarah : 187).

Dengan memahami hal ini, kehidupan rumah tangga akan tenteram. Dan tenang berlayar, sangat mustahil ditemukan sepasang suami istri yang sempurna segala sesuatunya. Yang bisa dilakukan adalah dengan jalan saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Menerima apa adanya kekurangan atau kelebihan pasangan. Tidak membandingkan pasangan kita dengan yang lain. Karena hal-hal seperti ini tidak akan membuat nyaman hubungan namun hanya akan menjadikan kita makin sensitif dengan segala perbedaan. Dan sekali lagi memaafkan semua kekurangan pasangan adalah lebih baik. Hargailah segala kelebihannya. Dan berterima kasihlah atas semua yang telah dikerjakan dan diberikan pasangan pada kita. Insyaallah ini akan membuat makin manisnya hubungan dengan pasangan.

Mungkin ada hal-hal yang tak kita sukai pada pasangan kita, namun bukanlah masih ada hal-hal baik yang kita sukai dan lihat ada padanya? Kita harus bijaksana menyikapi hal ini.

Kita tak perlu berpura-pura dan menutupi kekurangan kita hanya karena takut tak sempurna di hadapan si dia. Karena bisa saja justru hal ini akan menyeret kita pada hal-hal berbahaya. Moralnya saja dengan berbohong menjanjikan ini dan itu serta janji setinggi langit. Padahal kita tahu tak akan bisa memenuhinya. Jika pasangan tahu tentu ia akan marah dan jengkel hingga membuahkan pertengkaran dan hal-hal buruk lain. Bukanlah lebih baik kita selalu tampil apa adanya, karena itu tak akan membebani kita ?

Sungguh, jika si dia benar-benar mencintai kita tentu dia akan menerima kita apa adanya. Mau menerima kekurangan dan kelebihan kita. Tanpa basa-basi. Yang perlu diingat kita selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, semampu kita. Insyaallah di rumah kita.

===========================================================

**MENIKAH TIDAK HARUS DENGAN CINTA**

Menikah merupakan sebuah ritual suci yang hampir semua bujangan selalu mengidamidamkannya,terkecuali orang yang sudah berputus asa dan enggan untuk menikah.

Namun demikian, ketika seseorang dihadapkan kepada sebuah tahapan agar membuat sebuah keputusan untuk menikah, maka banyak pertanyaan di benaknya mengenai kriteria, pilihan,godaan, hingga tata cara bagaimana prosesi pernikahan itu sendiri.

Salah satu alasan bagi seseorang berazam dan mau menikah adalah cinta.

Memang “cinta”adalah sebuah perasaan yang bagi seseorang yang mengalaminya akan membuat dirinya merasaterhibur, senang atau bahagia dan bahkan seperti melambung tinggi serasa di atas awan. Seseorang  yangsedang jatuh cinta hatinya akan selalu berbunga-bunga.

Seseorang yang sedang jatuh akan berusaha mengungkapkan kata-kata yang indah. Terkadang seseorang yang sedang jatuh cinta akan menjadi orang yang bukan dirinya sendiri. Seseorang yang tidak biasa membuat puisi karena jatuh cinta ia terkadang akan dengan mudahnya menyusun deretan kosa kata menjadi sebuah puisi yang indah.

Kembali ke judul diatas. Sebagian dari kita mungkin sebelum menapaki sebuah jenjang pernikahan, terlebih dahulu dilalui dengan proses jatuh cinta. Sebuah cintalah yang mengantarkannya hingga ke pernikahan. Namun demikian, apakah sebuah pernikahan harus dengan cinta ?…..

Setelah wafatnya Sayyidah Khadijah ra, tidak ada satu orang pun yang berani menayakan kepada Rasulullah SAW mengenai pernikahan. Pada akhirnya, Khaulah binti Hakim dengan bimbingan dari Allah SWT memberanikan diri menanyakannya. Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra, ia berkata, ”Ketika Sayyidah Khadijah ra  meninggal dunia, Khaulah binti Hakim bin Auqashra, istri Utsman bin Mazh’un, berkata kepada Rasulullah SAW- dan hal ini terjadi di Mekkah-,

”Wahai Rasulullah tidakkah baginda ingin menikah ?” Beliau berkata, ” Dengan siapa ?”. Khaulah binti Hakim berkata, ” Ada dua wanita, yang satu gadis dan yang satunya lagi sudah janda.”

Rasulullah SAW berkata, ” Siapa yang masih gadis ?” Khaulah binti Hakim berkata, ” Ia adalah putri dari orang yang paling baginda cintai, Aisyah binti Abu Bakar ra”. Rasulullah SAW berkata, ” Lalu yang janda siapa ?” Khaulah binti Hakim berkata,” Saudah binti Zam’ah ra, ia adalah wanita yang mulia yang beriman kepadamu.”

Rasulullah SAW berkata, ” Kalau begitu berangkatlah kamu dan tanyakan kamu kepadanya (Saudah binti Zam’ah) dan tanyakan kepadanya apakah ia bersedia.” (HR. Att Thabarani). Di dalam riwayat lain, kemudian Khaulah binti Hakim berangkat ke rumah Saudah bin Zam’ah dan menanyakan kesediaannya untuk menjadi istri Rasullah SAW.

Akhirnya dengan suka cita Saudah  menerimanya, pernikahan pun dilangsungkan.

Hadits tersebut diatas hanyalah salah satu contoh, dari sekian banyak proses pernikahan Rasulullah SAW. Dari riwayat tersebut di atas proses menuju pernikahan yang dilakukan Rasullah SAW sangatlah singkat. Dan demikian juga pernikahan beliau dengan istri-istri yang lain.

Namun demikian, kecintaan Rasulullah SAW dengan istri-istrinya timbul setelah pernikahan. Pasangan mana yang bisa menandingi keharmonisan dan kebahagiaan dibandingkan dengan Rasulullah SAW dengan istri-istrinya?

Rasulullah SAW adalah seorang suami yang sangat romantis, meski istri-istrinya sebagian besar tidak banyak beliau kenal sebelumnya. Beliau tidak segan-segan memeluk, membelai, menyapa dengan sapaan yang menyenangkan, menggendong , memasak, sampai dengan bersenda gurau dengan istri-istrinya.

Perasaan jatuh cinta atau jatuh hati seseorang kepada orang lain sebelum terjadinya pernikahan bagi sebagian orang adalah suatu hal yang bisa dimaklumi. Seorang laki laki yang mencintai wanita, atau sebaliknya adalah sebuah fitrah manusia yang merupakan nikmat di dunia yang telah Allah SWT berikan.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(QS. 3.14)

Tetapi apakah benar, seorang yang jatuh cinta itu benar-benar akan menunjukkan cintanya ?

Atau mungkin hanya nafsu syahwat belaka.  Apakah dengan perasaan cintanya, langsung serta merta meng-azamkannya untuk segera menikah ?

Pada kenyataannya tidak otomatis demikian. Justru dengan ”perasaan cinta” yang dimiliki, banyak orang yang larut dengan ”dunia cinta” nya.  Sebagian orang malah membiarkan perasaan cintanya sampai berbulan-bulan dan bahkan sampai bertahun-tahun.

Semakin lama seseorang dalam ”dunia cinta” nya, maka ia akan semakin hanyut dan terlena.

Berapa banyak orang yang jatuh cinta pada akhirnya mereka pun tenggelam dengan berpacaran. Orang yang sudah tenggelam dengan pacaran, maka ia pun akan semakin larut dengan nafsunya.

Permasalahannya lain yang timbul adalah ketika seseorang sudah jatuh cinta dan sepakat untuk pacaran − bukan sepakat untuk menikah, maka perasaan cinta yang sudah larut tersebut akan terbawa terus, bahkan selama hidupnya seseorang akan ingat bagaimana waktu ia jatuh cinta.

Sehingga, seandainya ia menikah dengan orang lain,maka kehidupannya sedikit banyak akan dipengaruhi memori pada saat dia jatuh cinta dengan orang lain tersebut.

Ini belum apabila dia ”patah  hati” atau ”putus cinta”. Sudah banyak orang yang gila gara-gara masalah ini. Sudah banyak orang yang nekad bunuh diri karenanya. Dan sudah banyak orang yang tidak mau menikah sampai seumur hidupnya gara-gara masalah ini.  Inilah yang perlu diwaspadai.

Hati kita cuma satu, maka berhati-hatilah kalau kita jatuh hati. Maka kenalilah cinta sebelum kita jatuh cinta, tetapi menikah tidak harus dengan cinta. Wallahu a’lam bishowab.

============================================================

**Menikah Tanpa Pacaran**

Apa mungkin?

Pertanyaan tersebut muncul ketika sepasang anak muda memutuskan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dahulu. Segera ketika berita lamaran merebak di kalangan keluarga beberapa pihak bertanya-tanya kepada orangtua mereka.

Kapan kenalnya?

Di mana?

Bagaimana?

Koq bisa memutuskan menerima lamaran jika belum kenal?

Kenal adalah salah satu tahapan ukhuwah islamiyah, oleh karena itu tak heran jika orang banyak mempertanyakan keputusan menerima lamaran sebeum “kenal”. Pepatah mengatakan: tak kenal maka tak sayang.

Apakah sebelum menikah seseorang harus saling kenal? Jawabannya: ya, harus, meskipun seberapa “kenal”nya, dan apa yang perlu dikenal masih bisa didiskusikan. Jangankan dalam urusan jodoh, memilih teman-pun perlu mengenal lebih dahulu sebelum cukup percaya untuk pergi bersama.

Kecocokan harus ditimbang dengan kadar tertentu dan bahkan untuk aspek latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan yang diistilahkan dengan se-kufu. Tapi yang paling penting diantara itu semua adalah masalah kesamaan pandangan hidup, aqidah dan akhlaq misalnya.

Sayangnya, dalam kebiasaan zaman sekarang yang namanya ajang saling kenal antara dua orang anak muda yang akan menikah adalah lewat hubungan palsu yang namanya pacaran. Mengapa palsu?

Sebab seringkali ketika berpacaran kedua insan tersebut tidak memperlihatkan sifat-sifat asli mereka, malah cenderung konformistis, serba setuju dengan apa kata pasangannya. Walhasil “perkenalan”nya menjadi tidak sebagaimana aslinya. Apalagi ketika diwarnai perasaan kasmaran atau jatuh cinta. Seseorang yang sedang kasmaran cenderung berubah dari kebiasaan aslinya. Seorang pendiam bisa tiba-tiba terlihat periang sedangkan seorang yang periang tampak malu-malu kucing.

Kenapa sih mesti pacaran?

Pacaran dalam istilah sekarang adalah: sebuah bentuk hubungan antara sepasang anak manusia lain jenis yang mempunyai ketertarikan hubungan sex.

Pacaran dengan aktivitas pergaulan fisik tanpa norma Islam (sejak pegang-pegangan tangan sampai seterusnya) bukan hanya tidak perlu, bahkan juga tidak boleh atau haram dalam Islam. Sebab Islam melarang zina dengan arti sejak zina hati (melamun, bermimpi dengan sengaja, melihat foto dll tanpa pertemuan fisik), zina mata (melihat langsung, berpandang-pandangan dll) sampai zina badan (sejak pegangan tangan sampai hubungan sex sebenarnya). Meskipun untuk setiap perbuatan tersebut jenis dosa-nya berbeda, tetapi tetap saja semua adalah dosa. Zina badan dalam arti sampai hubungan sex terjadi jelas merupakan dosa besar.

Di sinilah letaknya masalah pacaran.

Jika saling mengenal merupakan sesuatu yang penting, itu tidak berarti pacaran menjadi boleh. Bahkan pacaran dengan sejumlah bahaya dosa jelas merupakan perbuatan yang harus dihindari sebab mengandung ancaman dosa besar.

Lalu bagaimana cara saling mengenal yang diperbolehkan?

Zaman sebelum ada teknologi canggih, para pendahulu kita biasa mengirim utusan ke pihak calon mempelai. Pihak pria mengirim seorang wanita terpercaya untuk “melihat” si wanita yang akan dilamar dan sebaliknya pihak wanita juga mengirim pria terpercaya untuk menyelidiki pria yang akan melamarnya. Untuk batas tertentu keduanya dibenarkan untuk saling melihat fisik.

Jika ingin melihat lebih jauh, harus mengirim utusan seperti di atas (wanita melihat wanita dan pria melihat pria).

Itu baru sebatas melihat secara fisik.

Sebagaimana sudah dikatakan tadi, aspek fisik bukan hal terpenting untuk dikenal. Aqidahakhlaq dan fikroh jauh lebih penting sebab itu semua adalah hal-hal yang bersifat lebih menetap dan lebih berpengaruh dalam sikap sehari-hari.

Untuk mengenal dan memahami isi pikiran, aqidah danakhlaq haruslah dengan cara peninjauan yang berbeda dengan mengenal hal-hal fisik. Untuk ini, selain mengenal langsung, juga lewat referensi.

Misalnya dengan mengirim utusan untuk menyelidiki isi pikiran tersebut, atau dengan cara bertanya secara langsung. Dapat dilihat di tulisan Benteng Terakhir sebelum ini yaitu yang berjudul: Fit and Proper Test.

Mengapakah Fit and Proper Test tentang isi pikiran, aqidahdan akhlaq jauh lebih penting daripada perkenalan fisik?

Jawabannya tergantung dari seberapa dalam seseorang yang ingin berkenalan tersebut memandang hidup ini. Jika ada seorang yang sehari-harinya punya ideologi: “emangnya gue pikirin”, yaitu ideologi cu-ek dan tak peduli makna hidup, dengan keseharian hanya memikirkandandan (bersolek), kongkow-kongkow (kumpul-kumpul tak bermakna dengan teman-teman) dan hura-hura (semua aktivitas yang berhubungan dengan kesenangan duniawi yang meriah), maka ketika ia ingin berteman dan mungkin juga ketika ingin menikah ia akan mencari teman atau pasangan hidup yang sejenis.

Namun jika ada seseorang yang dengan serius menganggap bahwa hidup ini adalah untuk beribadah, beramal manfaat dan menggapai akhirat, maka ia akan sangat peduli untuk berteman dan apalagi berpasangan hidup dengan yang sejenis.

Dan hal-hal seperti ini tak mungkin dikenal hanya dengan sekali lihat penampilan fisik. Penampilan fisik mungkin menipu. Seorang yang berkacamat tebal dan berfoto serius mungkin saja ternyata tukang banyol yang tak pernah berpikir panjang. Sementara mungkin saja seorang dengan pakaian tak ketinggalan gaul (tapi masih sopan) dan percakapan yang tak kuno ternyata lebih mampu lagi bicara panjang dan serius tentang makna hidup dan cita-cita akhirat.

Sebab seorang yang ingin menggapai akhirat tak mesti meninggalkan dunia sama sekali. Bahkan seorang yang beramal cerdas justru sanggup memanfaatkan hidup di dunia untuk optimalisasi pencapaian akhirat, dan itu dengan cara bergaul luas dan berdakwah luas.

Oleh karena itu, fit and proper test sebenarnya tetap berlaku pada setiap orang yang ingin memutuskan untuk menikah, (kecuali yang kawin kontrak untuk sekedar mendapat sepotong surat nikah guna kemudahan imigrasi). Pada dasarnya setiap orang ingin berdekatan dengan yang “sejenis”, se-aliran, se-pandangan. Apapun pandangan hidup yang dianutnya.

Bagi yang mementingkan urusan materi dan “kulit-kulit luar”, maka perkenalan fisik sangat penting, urusan isi pikiran cukup yang dangkal saja. Sebatas apa aliran musiknya, hardrock-kah atau slow machine? Sedangkan bagi yang berpikir mendalam maka isi pikiran dan cita-cita hiudp adalah lebih penting daripada fisik.

Kami sendiri berpandangan yang kedua.

Sebab menurut hemat kami, apa-apa yang sebatas kedalaman kulit dapat berganti dengan cepat, bahkan dengan mudah sirna. Cantik? Maaf ya, jika terlalu banyak ber-make-up maka pada usia 38an tahun sudah butuh face-lift. Jika salah make-up muka menghitam dan butuh jutaan rupiah untuk memperbaiki.

Apalagi jika (na’udzubillah) kecelakaan, rusaklah semua. Jika kaya raya adalah ukuran tera-nya, maka credit crunch tempo hari sudah terbukti ampuh memiskinkan sejumlah orang kaya. Yang benar-benar ulet akan bangkit setahun dua tahun lagi, tapi yang tak pandai akan tetap bangkrut. Namun apa yang dihargai dari budi pekerti dan sikap perilaku tak akan terpengaruh credit crunch maupun usia lanjut.

Sedangkan yang beraqidah salimah dan akhlaq karimahakan tetap mendampingi kita Insya Allah di SurgaNya.

Amin

================================================================================

* Sudah berani jatuh cinta? *

Ketika Ikhwah Jatuh Cinta

Suatu ketika, dalam majelis koordinasi seorang akhwat berkata pada mas’ul dakwahnya, “Akhi, ana ga bisa lagi berinteraksi dengan akh fulan.” Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali menekan perasaannya. “Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risi dan… afwan, terus terang juga tersinggung.” Sesaat kemudian suara dibalik hijab itu mengatakan, “Ia jatuh cinta pada ana.”

Mas’ul tersebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap tenang. “Sabar ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang anti bayangkan.” Sang mas’ul mencoba menenangkan terutama untuk dirinya sendiri.

“Afwan, ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Ikhwan itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini.” Sang akhwat kini mulai tersedak terbata.

Ya sudah, Ana berharap anti tetap istiqamah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti ini,” mas’ul itu membuat keputusan, “ana akan ajak bicara langsung akh fulan” Beberapa Waktu berlalu, ketika akhirnya mas’ul tersebut mendatangi fulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, “Ana memang menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu suatu kesalahan?” Sang mas’ul berusaha menanggapinya searif mungkin. “Ana tidak menyalahkan perasaan antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah, apakah antum sudah siap ketika menyatakan perasaan itu. Apakah antum mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari antum. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah antum menyampaikan kepada pembina antum untuk diseriuskan?

Apakah antum sudah siap berkeluarga. Apakah antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari pernyataan antum, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah?” mas’ul tersebut membuat penekanan substansial. “Akhi bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah. Perasaan itulah yang melandasi ekspansi dakwah dan jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka Jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan.

Cinta Aktivis Dakwah

Bagaimana ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki? Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rosullulah saw dan jalan meraih ridho Allah SWT.

Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rosullah dan jihad fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya dan berkahlah amal yang terwujud dalam cinta tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah.

Karenannya jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukan perkara sederhana. Ketika Ikhwan mulai bergetar hatinya terhadap akhwat dan demikian sebaliknya.  Ketika itulah cinta ‘lain’ muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang akan kita bahas disini. Yaitu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yang jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah, tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah.

Suatu perasaan produktif yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda kartini, “Akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada disamping laki-laki yang cakap, lebih banyak kata saya… daripada yang saya usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri..”

Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama dan disisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yang sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta? Jangan sampai kita lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena memuliakan Islam.

Deklarasi Cinta

Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta diatas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa mengusung pembenahan kepribadiaan manusia, maka layaklah kita tempatkan tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan perilaku generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan, sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan kesurga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat disana.

Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas, Sudah banyak potret keluarga yang baru dalam masyarakat yang kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik ‘asing’ dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi dan nuansa cinta kita masih terkesan misteri. Pertanyaan sederhana, “Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, Emang kamu cinta sama dia?” dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.

Pernyataan “Nikah dulu baru pacaran” masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, “Bagaimana caranya, emang bisa?” Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang dengan jargon tersebut. Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba.

Cinta yang diberkahi karena taat kepada sang Penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek romantika yang berdiri diatas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.

Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakan tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan tentang landasan kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.

Epilog

Setiap kita yang mengaku putra-putri Islam, setiap kita yang berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fi sabililah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju.

Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapkan Rosullulah.

Dengan perasaan ini kita memperluas ruang dakwah kita. Dengan perasaan ini kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.

Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka menghiasi Bumi dan kehidupan di atasnya.

Dengan itu semua Allah berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan Bumi dengan kalimat Laa Illaha Ilallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawaddh, warahmah.

Jadi “sudah berani jatuh cinta”?

======================================================================

** Karena ukhti bukan perempuan biasa **

By  ainul mardhiyah

Termangu, kata seolah terkunci mati tak terucapkan, hanya tatap yang tersisa… nanar…. tak bisa menatap pasti… ada segumpal rasa haru menyesak disini.. didada ini…….

Hari itu kusaksikan lagi seorang perempuan perkasa, pengarung hidup penuh cabik dan luka, namun anehnya, dia tersenyum, cantik, teramat cantik, yang aku sendiri tak berani membayangkan masih sanggup tersenyum tulus di sela duka-derita yang menderanya selama pernikahannya. Subhanallah, apa lagi skenario yang Allah hibahkan kepadaku, melalui perjumpaan dengan dia? Sungguh tanda tanya besar, maha besar…

“Menurut logika akal sehat, semestinya aku sudah mati bertahun lampau teh, atau paling tidak, setengah gila, dihadapkan pada perkawinan semacam ini.”

Ya, bagaimana tidak, dia menaruh harapan teramat banyak pada suaminya, tatkala menikah dengannya. Manusia kelas atas, level ustad,  tentu tidak salah dia memiliki angan-angan perkawinan yang sempurna, mendekati sempurna. Tapi ternyata hanya asa semu semata yang terpampang di hadapannya, pahit sepahit empedu, karena perlakuan suami yang tidak bisa bersikap adil terhadapnya sebagai istri kedua.

Bahagiakah dia? Bahagiakah dengan perkawinan nya ?   Ternyata pahit  yang harus dicecapnya, entah untuk berapa tahun ke depan… Banyak aib suami yang ditutupinya, banyak luka yang ditaburkan dihatinya. banyak ketak adilan yang dirasakannya atas sikap suaminya.  Tapi mengapa dia memilih untuk bertahan, mengapa??

Ada tanya di hati, jika cinta bisa membuat seorang perempuan bertahan pada satu lelaki, mengapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?

“Aku sadar teh, aku membuat kekeliruan. Kekeliruan terbesar dalam hidupku, yaitu aku terlalu menggantungkan harapanku pada manusia, dan aku terjerembab. makanya Allah marah, marah besar kepadaku, sehingga Dia berikan aku cobaan sebegitu besar. Dari kejadian ini aku merenung, jangan pernah kita berharap pada manusia, karena manusia takkan pernah sempurna. Kekeliruanku yang lain adalah perasaan memiliki, padahal itu tidak boleh, karena sepatutnya tiada satupun makhluk-Nya saling memiliki, hanya sebatas menjaga amanah, bertanggung jawab. Melalui perenungan itu aku bersyukur, Dia juga teramat sayang, kurasakan sekali kasih sayang-Nya, masih mau  Allah membuka pintu hatiku. Meski buat mata manusia mungkin perlakuan suamiku tidak adil  untukku  sebagai istri kedua ku tak mau menyerah  pada manusia teh, biarlah aku menyerah pada takdir-Nya. Aku ingin ridha, ikhlas betul menerima apapun, apapun takdir-Nya, apakah nasibku akan terus terkatung-katung seperti ini, atau berakhir dengan kebahagiaan, wallahu alam…”

Indah nian kata-katanya, berisi. Hanya berharap kepada Allah, benar-benar hanya bergantung asa dan impian kepada-Nya, tanpa kecuali, tanpa pesaing, Dia dan hanya Dia. Dan katanya, hari-harinya berjalan dengan ringan, penuh rasa syukur, meski kalau mau diturutkan nafsi-nafsi manusia, katanya, dendam bisa teramat sangat membara, namun alhamdulillah, bisa pupus sirna oleh ingatan akan janji-janji Allah yang maha pasti, tentang surga, tentang sungai-sungai yang mengalir, sungai susu, sungai madu, dan haqqul yakin ditepati, tanpa syarat… Tanpa terasa, mata ini semakin basah, penuh beranak sungai.

Duh Allah, selayaknya dialah sang terpilih, bukan  suaminya yang digelari ustad oleh segerombolan manusia. Bagaimana bisa seorang ustad, guru yang dielu-elu, seorang yang sudah melalui proses proses tarbiyah  cukup lama  mampu melupakan sepotong hadits Rasulullah, bahwa sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik dalam memperlakukan istri?

Aku tahu jawabannya, dia terpilih karena dia mulia di hadapan-Mu, karena dia yakin bahwa “dirinya bukan perempuan biasa…”

Astaghfirullah… Astaghfirullah…

Alhamdulillah, puja-puji hanya layak, teramat layak hanya dialamatkan kepada-Nya, yang telah cermat menyusun potongan hidupku bersua dengannya, seorang perempuan luar biasa…

Terimakasih ukhti…. dari mu ku belajar banyak hal.

======================================================================

**Lemah Lembut Dan Menahan Amarah**

Kelemahlembutan adalah akhlak yang mulia. Ia berada diantara dua akhlak yang rendah dan jelek, yaitu kemarahan dan kebodohan. Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya dengan kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak diridhoi Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Dengan agungnya akhlak ini hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya :

“Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa).” (H.R Muslim).

Akhlak mulia ini terkadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain. Padahal Rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana dalam suatu riwayat

” Rasulullah bersabda : “Janganlah kamu marah” Dan beliau mengulangi berkali-kali dengan bersabda : “Janganlah kamu marah.” (HR. Bukhari).

Marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh dorongan hawa nafsu yang menyebabkan pelakunya melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dari kelemah lembutan.

Didalam hadist yang shahih Rasulullah bersabda :

“Bukanlah dikatakan seorang yang kuat dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Syari’at telah menjelaskan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit marah yang tercela yang ada pada seorang hamba, yaitu :

1. Berlindung kepada Allah dari setan dengan membaca do’a :

“Ya Allah Aku berlindung kepada-Mu dari setan yang terkutuk”

Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. Al A’raf:201)

Diayat lainnya Allah berfirman :

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d : 28).

2. Merubah posisi ketika marah. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya amarah adalah bara yang ada pada hati anak cucu Adam apakah kalian tidak melihat bara ketika membara, maka barang siapa yang merasakan hal tersebut ada padanya maka hendaknya ia bersandar pada bumi” (HHR. Tirmidzi dan Ahmad)

Maksud dari sabda Rasulullah “Bersandar pada bumi” adalah hendaknya apabila seseorang sedang marah hendaknya ia merubah posisinya seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya ia duduk, dan jikalau ia duduk hendaklah ia berbaring, karena hal tersebut akan mengurangi bahkan menghilangkan amarah yang ada padanya, sebagaimana perintah Rasulullah dalam sabda beliau :

“Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah berbaring.” (HR. Abu Daud).

3. Diam Diantara terapi yang sangat efektif dalam menghadapi amarah adalah dengan tidak berkata-kata atau diam, karena terkadang seseorang yang sedang marah tidak mampu untuk mengontrol lisannya sehingga ia mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan orang lain

Rasulullah telah bersabda :

“dan apabila salah seorang dari kalian marah maka hendaknya ia diam”

4. Berwudhu Diriwayatkan oleh Abu Wail, ia berkata :

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya amarah itu datangnya dari syaithan, dan sesungguhnya syaithan itu diciptakan dari api dan sesungguhnya api itu dipadamkan dengan air, maka apabila salah seorang diantara kalian marah maka hendaknya ia berwudhu'” (HR. Abu Daud)

Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela, bahkan Rasulullah telah menjelaskan bahwasanya barangsiapa yang bisa menahan amarahnya maka Allah akan menggantikannya dengan dengan yang lebih baik, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya dihadapan para makhluk-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari syurga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemauannya.” (HSR. Tirmidzi dan ibnu Majah).

Dan betapa indahnya perilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemah lembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah.

Sebaliknya, bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Yang demikian ini telah disabdakan oleh Rasulullah dalam hadist:

“Tidaklah kelembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan menjadikannya jelek”.(HR. Muslim)

Allah mencintai kelembutan, sebagaimana sabda Rasulullah

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyenangi kelembutan dalam segala usrusan. Dan Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kebengisan.”(HR. Muslim).

Bersegeralah menghiasi diri dengan akhlak terpuji yang dimiliki Rasulullah dan dicintai Allah ini. Dan jauhilah kemarahan, kebengisan dan ketidak ramahan, karena yang demikian akan menghinakan derajat pelakunya dan membuat keonaran dikalangan manusia serta menimbun dosa disisi Allah ta’ala. Ingatlah selalu sabda Rasulullah :

Barangsiapa yang dihalangi untuk berakhlak lembut, maka ia akan dihalangi dari seluruh kebaikan”.(HR Muslim)

Wallahu a’lam –

===================================================================

*Meningkatkan Rasa Syukur*

Tidak diragukan lagi, untuk meraih sukses kita perlu meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita. Bagaimana tidak, kita sudah belajar bagaimana manfaat syukur yang luar biasa dalam kehidupan kita. Namun, yang menjadi pertanyaan, kenapa masih banyak orang yang tidak atau kurang bersyukur? Atau ada juga orang yang merasa sudah bersyukur, tetapi dia merasa tidak ada tambahan nikmat sesuai dengan janji Allah. Padahal janji Allah tidak mungkin salah. Artinya cara bersyukur kita yang salah, kita merasa bersyukur padahal kita belum bersyukur.

Tiga Kesalahan Dalam Bersyukur

Jika kita bersyukur, nikmat kita akan ditambah oleh Allah. Mungkin, kita sudah hafal ayat Al Quran yang menjelaskan hal ini:

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu (QS Ibrahim:7)

Lalu, mengapa ada orang yang merasa sudah bersyukur tetapi merasa tidak mendapatkan nikmat tambahan? Karena janji Allah tidak mungkin salah, artinya ada yang salah dengan diri kita. Ada tiga kemungkinan:

  • Pertama: cara kita bersyukur yang salah.
  • Kedua: kita kurang peka terhadap nikmat yang sebenarnya sudah Allah berikan kepada kita.
  • Ketiga: Allah memberikan nikmat lain yang terbaik bagi kita, tapi kita tidak menyadarinya.

Pada artikel kali ini, saya akan fokus menyoroti tentang point kedua dan ketiga. Dengan dua penyebab itu, kita akan kurang bersyukur. Jika kita kurang bersyukur, maka wajar jika nikmat tidak kunjung datang. Kita harus terus meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat Allah. Insya Allah, poin pertama, cara bersyukur akan dibahas pada artikel lain.

Bagaimana cara meningkatkan rasa syukur?

  1. Luangkan waktu untuk merenungkan nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita. Nikmat itu sangat banyak, bahkan tidak akan terhitung. Lalu mengapa banyak orang yang merasa tidak mendapatkan nikmat? Karena mereka kurang memberikan perhatian terhadap nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan. Allah mengulang-ngulang ayat “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” dalam surah ar Rahmaan, dimana salah satu hikmahnya adalah agar kita lebih memperhatikan nikmat-nikmat. Saat kita memberikan perhatian terhadap nikmat, kita akan melihat, kita akan ngeh, bahwa nikmat Allah yang kita terima sangat banyak.
  2. Berprasangka baiklah kepada Allah. Banyak nikmat yang tidak terlihat bagi kita. Kita sering menganggap bahwa nikmat itu harus dalam bentuk materi, padahal lebih luas dari itu. Seringkali kita menganggap bahwa nikmat itu adalah sebuah pemberian, padahal bisa saja Allah sudah menghindarkan kita dari suatu musibah yang asalnya akan menimpa kita. Mungkin tidak ada yang bertambah pada diri kita, tetapi terhindar dari musibah bukankan sebuah nikmat yang besar? Renungkanlah…
  3. Setelah kita mengetahui bahwa nikmat Allah begitu banyaknya, maka langkah selanjutnya ialah memasukan pengetahuan ini ke dalam hati. Agar melekat dengan diri kita sehingga rasa syukur kita akan bertambah. Caranya ialah terus menerus mengingat nikmat dalam berbagai kesempatan. Semakin sering kita mengingat nikmat, akan semakin tertancap dalam hati, maka rasa syukur pun akan meningkat.

Jadi cara meningkatkan rasa syukur diawali dengan pengetahuan akan nikmat yang telah kita terima. Namun tidak cukup hanya pengetahuan saja, karena banyak orang yang tahu tetapi kurang bersyukur. Pengetahuan akan nikmat ini harus tertanam dalam hati kita.

Kita sudah mengetahui bagaimana cara meningkatkan rasa syukur. Muda-mudahan dengan meningkat rasa syukur, nikmat kita akan bertambah.

========================================================================
Semoga dengan apa yang tertera di halaman ini bisa bermanfaat bagi kita semua…mohon maaf jika ada kata2 yg tidak berkenan…semoga kita selalu dalam Lindungan ALLAH…amin…
wassalam….
Ashid…