Obrolan cinta seorang muslim, komunis dan ateis

Kala itu di malam yang cukup dingin di bawah pohon tak bernama obrolan pun dimulai dengan hati yang sepi tanpa cinta dari orang yang dicintai, tiga aliran tersebut yaitu muslim (M) komunis (K) dan ateis (A).

Lanjut cerita A berucap “tujuan kita hidup tiada lain adalah untuk dapat bersama orang yang dicintai” dengan penuh penghayatan dia ucapkan.

Nampak keningnya membayangkan masa lalu yang menimpanya itu—mungkin, berdasarkan data empiris A mengalami kegalauan hati semenjak ditinggal orang yang dicintainya mungkin karena ia tidak melakukan penjagaan yang signifikan dari awal pendekatan sampai menjalin kasih ditambah dengan tampilan apa adanya serta perkataan idealis menurut sudut pandang dirinya sehingga pasangannya syok dan tak mengerti sebagaimana kebanyakan orang mengerti, harusnya ia terlebih dahulu mengikat pasangannya tersebut dengan grativikasi atau bisa juga dengan memainkan fluktuasi emosi dan manejemen konflik sehingga hubungan tidak berkesan hambar, sangat di maklum bahwa A seorang kutu buku yang memandang kehidupan sebagaimana yang ditulis dibuku tanpa mau membagi dan membuka pikiran dan hatinya sehingga terjebak dalam persepsi sendiri, ia selalu berpendapat bahwa esensi lebih dahulu kemudian diikuti dengan eksistensi.

M juga menambahkan “apalagi jika kau telah mencapai cinta akan Rasul dan Allah SWT”.

Rindunya umat muslim terhadap sosok pemimpin yang tulus penuh kasih sayang, manusia yang berhati malaikat, merubah akhlak manusia menjadi bermoral yaitu Muhammad SAW dengan kelembutan hatinya yang akan bergetar kala berhadapan apalagi mendengar suaranya sungguh tak terbayang nikmat yang kuasa, betapa bahagia di dunia tiada berarti, lidah yang tiada henti mengucap shalawat menyejukan jiwa yang mengucap maupun yang mendengar terimakasih pada Tuhan yang agung Allah SWT yang dengan sifat rahman, rahimNya memberi nikmat islam bagi kaum muslim.

Mendengar kegalauan A dan cinta M yang transenden membuat K berkomentar “selain cinta terhadap sesama mahluk ciptaanNya manusia juga ternyata berkewajiban cinta terhadap penciptaNya, dapat disimpulkan sama rasa dan rata tanpa adanya klas sebagai suatu pembeda” namun buah pikir dari K tidak semuanya mengikuti komunisme hanya hal-hal yang menurutnya perlu diambil saja karena K bagian dari apa yang dimaksud Mark.

Komunisme berlandaskan pada materialisme dialektika dan histori yang tidak memberikan takhayul, mitos dan agama bagi pengikutnya karena menurut mereka merupakan suatu hal yang dianggap doktrin dan berpendapat bahwa agama merupakan candu sehingga manusia buntu dalam berfikir karena angan-angan yang tidak rasional, komunis merupakan perjuangan klas sebagai antitesis dari kapitalis mereka meyakini untuk menjadikan tatanan  sosial masyarakat yang lebih baik harus dengan bersatunya buruh maupun petani dan K sebagai politbiro yang ikut serta dalam menjalankan roda pemerintahan nantinya, ajaran haluan kiri ini dituliskan oleh Karl Mark dan Friedrich Engels.

Sangkalan K terhadap M membuat perbincanganpun berlanjut “akan tetapi di surga nanti masih ada klas atau tingkatan, berarti di surga ada diskriminasi juga hahaha…”

A langsung menambahkan “di surga juga kenikmatan tidak ada habisnya juga kan?”

Mulailah M menjawab pertanyaan “jika dibandingkan dengan surga maka  menatap Allah itu puncak dari kenikmatan yang tiada habisnya”kemudian M berlalu meninggalkan zona obrolan tanpa menjawab diskriminasi yang terjadi di surga tadi.

Mungkin ilmu ketiga aliran ini tidak begitu cukup mumpuni dalam menyatakan pertanyaan dan pernyataan karena suatu yang bersifat metafisik bertolak belakang dengan logika, rasionalitas tidak akan menguak misteri dari metafisik sebaliknya juga metafisik yang tidak rasional, kita ambil saja salah satu contoh perdebatan malaikat ketika bertanya pada Allah, malaikat yang saat itu menanyakan kenapa Allah menciptakan manusia yang nantinya akan membuat kerusakan di bumi dan Allah menjawab “Aku lebih tahu dari apa yang tidak kamu tahu” kemudian Allah menyuruh Adam untuk menyebutkan nama benda singkat cerita Adam pun bisa menyebutkan benda tersebut kemudian malaikat mengerti nilai implisit yang Allah tunjukan.

Itulah salah satu hikmah yang ditunjukanNya namun masih banyak lagi hikmah yang belum terungkap maupun yang tidak akan dapat terungkap. Perbincangan dilanjut walau tanpa M kemudian obrolan berlanjut pada kegalauan hati

“kenapa orang yang aku sayangi tidak mencintaiku?  dan dari mana asalnya cinta itu?, kenapa meski cinta bila tak bias saling mencintai?” K terus menggerutu

ahhh …itu suatu hal yang nihil kalau ujung-ujungnya hati karena sifatnya metafisis” jawab A sama kesalnya.

Bayangkan saja alangkah indahnya jika hal yang kita inginkan dapat kita miliki tidak ada rasa benci, putus asa, dan prasangka namun segala bentuk emosi yang ada di dunia merupakan tanda bahwa hidup penuh dengan kehidupan dan kehidupan terasa hidup karena telah menjadi hukum di dunia fana ini kenikmatan itu dapat dirasa ketika sudah terlepas dari kepedihan-kepedihan yang mengikat.

Obrolan pun berakhir tanpa hasil dan meninggalkan pertanyaan yang tak bisa terungkap, namun itulah hidup seperti yang ditulis seorang filsuf hidup itu harus selalu bertanya jika tidak bertanya untuk apa kita hidup.

Kepada manusia yang menjadikan agama sebagai Tuhan  sesungguhnya kau tidak berhak mengatakan benar dan salah jika “benar” itu masih bisa dibantah dengan rasionalitas maka bukanlah hal yang absolut dan suatu hal yang “salah” dapat dibela dengan rasionalitas maka kemungkinan itu hal yang benar.

Maka jangan saling menghujatlah kita karena masing-masing manusia mempunyai saksi kelak dihari pembalasan dan kelak akan terjawab semua pertanyaan di dunia, ketika mulut dikunci, tangan dan kaki yang bicara dituliskan bahwa telinga, mata dan alat indera lain pun ikut bicara. Jangan kau takabur wahai manusia “beragama” jangan-jangan otak kita nanti yang bicara dan Allah SWT pasti tahu apa yang dipikirkan ateis maupun komunis atau siapa tahu mereka lebih dekat kepada Tuhannya lewat pikirannya, dalam ajaran islam dituliskan shalat untuk mencegah keji dan mungkar dan karena rahmatNya engkau masuk surga.

Wallahu A’lam bishawab