Seorang duda kaya raya jatuh sakit, hanya ditemani oleh tukang kebun tua dan supir setianya saja. Anak-anaknya yang tinggal nun jauh disana tidak sempat menjenguknya. Mereka hanya sempat mengirim aneka hadiah bagi kesembuhan ayahnya. Tatkala berbaring sendiri di rumah sakit, datanglah seluruh keluarga dan sanak famili si tukang kebun tua dan supir setianya. Mereka menemani dan menginap sampai si tuan kaya raya sembuh dan pulang kembali. Tak henti mereka mendoakan dan menghibur si tuan kaya raya dengan aneka cerita lucu dan tawa canda.

Tatkala ayahnya telah sembuh, anaknya membanggakan diri bahwa dengan hadiah-hadiah mahalnya itulah yang membantu ayahnya pulih kembali. “Tidak ” tukas ayahnya, “akan tetapi sebab si tukang kebun tua dan supir setia kulah yang membuatku sehat kembali”.

Ternyata, Perhatian dan kehadiran kita adalah pemberian yang jauh lebih berharga daripada harta benda dan kecukupan materi.

Sebuah badan amal mengadakan penggalangan dana dengan menampilkan pagelaran musik dari berbagai musisi terkenal. Tiada disangka datanglah sepasang manula dipenghujung acara. Mereka meminta kesempatan untuk menyanyi sejenak. Awalnya panitia menolak mengingat acara sekaliber itu tidak pantas bagi oma-opa tersebut. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya panitia tidak tega melihat kegigihan mereka tuk menyanyi. Awalnya mereka mencibir, hingga tatkala sang nenek menyanyi dengan penuh penghayatan diiringi petikan gitar sang kakek.

Penonton seperti terpana dan tergugah emosinya. Suara si nenek tidaklah bagus, pula iriingan gitar sang kakek pun tiada merdu, akan tetapi kesungguhan yang terpancar dari wajah tua mereka, menghapus rasa lelah dan cucuran keringatnya. Tepuk tangan bergemuruh ketika mereka usai menuntaskan penampilan terakhir mereka, sebelum akhirnya mereka dibawa kerumah sakit dan menghembuskan nafas terakhir disana. Kelelahan dan penyakit lemah jantung rupanya telah merenggut nyawa mereke. Meski demikian mereka tampak bahagia karena telah berbuat sesuatu yang sangat berharga di penghujung usia. Menyanyi sepertinya adalah pekerjaan ringan bagi kita, tetapi tampaknya tidak demikian bagi sepasang tua renta nan papa.

Ternyata, bobot pemberian tidak dinilai dari harga bendanya sendiri, akan tetapi dari totalitas diri sang pemberi dan seberapa berharga hal itu bagi diri sang pemberi.

Disebuah padang pasir yang terbentang luas, tiga orang pengembara tengah tersesat tak tentu arah. Persediaan makanan menipis, minuman pun tinggal sedikit sementara matahari kian  sangar memancarkan panasnya. Ahirnya mereka menemukan oasis dimana mereka memuaskan diri dengan mandi dan minum serta memenuhi kantung air dan bekal mereka. Diperjalanan tiada terasa mereka telah minum cukup sering sementara salah seorang temannya nampak kering kerontang. Mereka memarahi sang kawan karena tidak membekali diri dengan air yang banyak.

Setelah tiba di sebuah kota sang kawan terpaksa dirawat dirumah sakit akibat dehidrasi parah. Ketika membersihkan perbekalan mereka menemukan bahwa kantung air mereka masing-masing telah bertambah satu dan sang kawan yang sekarat hanya memiliki sekantung kecil air. Akhirnya mereka sadar, bahwa diam-diam temannya yang sekarat itu telah menambah perbekalan air mereka dan mengurangi jatahnya sendiri. Dia sadar bahwa dalam perjalanan jauh tidak boleh mereka semuanya sekarat bersamaan, harus ada seseorang yang mengorbankan diri demi sahabat-sahabatnya.

Ternyata pemberian terbaik adalah ketulusan yang tersembunyi, utamanya dikala sulit.

____________________________________________________

Ternyata memberi tidak sesederhana yang kita kira,

Meski demikian pula tidak sesulit yang kita sangka,

Pemberian sendiri mungkin tidak terlalu bernilai, akan tetapi

makna sang pemberi yang membuatnya begitu berharga.

Apakah sahabat taqwa memiliki ” rahasi memberi ” lainnya,

Ayo-ayo silakan di share disini, siapa tahu akan menginspirasi sahabat taqwa yang lain.

Memberi sesuatu dari milik kita adalah hal yang biasa,

Memberi sesuatu dari diri kita itu yang luar biasa.