Wanita itu terlihat gelisah. sesekali pandangan matanya menyapu seluruh ruangan. hanya beberapa detik saja ia telah fokus kembali pada suaminya. wajah suaminya masih menyiratkan jenak – jenak kelelahan. Wajah itu terasa menyurutkan niatnya untuk bicara pada sang suami. ia mencoba menahan. Sejenak ia menghela nafas. Namun, dorongan untuk bicara terus mengusiknya.

 

“Mas, kapan punya waktu,” katanya. “saya mau bicara”

 

Sang suami terdiam. wajahnya lesu memandang istrinya yang sedang menimang buah hati mereka.

 

Wanita itu kembali bicara,”mas, masa saya ngomong dengan bayi terus. sayakan bukan bayi. bukan anak-anak.”

 

 

***********

 

 

Terdapat Rahasia cinta yang terkuak dari kisah nyata diatas. Rahasia tentang kebutuhan cinta, kebutuhan jiwa dari kekasih kita. kebutuhan untuk diperhatikan dan didengarkan. ia tidak sekedar hubungan formal yang legal antara seorang pria dan wanita…….

 

Pernikahan merupakan kerja panjang untuk merasakan kebutuhan jiwa pasangan kalian. sayangnya, rutinitas kerja dan aktivitas diluar rumah telah menyita sebagian besar perhatian kalian akan kebutuhan kebutuhan jiwa kekasih kalian. kalian cenderung menangkap gerak fisik dari penampilannya. kalian hanya membaca wajah fatamorgananya. wajah yang disembunyikan dari kenyataan. pesona fisik yang ditampilkan untuk membahagiakan kalian, karena kami para istri sadar terhadap pilihan yang harus dilakukan didepan suami yang kelelahan. kami memilih mengalah untuk tidak merasakah kelelahan atau paling tidak menahan diri dari segenap keluhan dihadapan kalian para suami. namun, semua pekerjaan itu adalah olahan fisik.

 

Lubuk jiwa kami yang paling dalam terdapat kebutuhan yang harus dipenuhi. kebutuhan jiwa yang dahaga, yang membutuhkan sepotong waktu yang dimiliki kalian para suami untuk diberikan kepada kami. waktu yang tidak sekedar putaran jarum jam, tetapi waktu yang bermakna perhatian terhadap cinta keduanya. Sepotong waktu itu adalah bagian dari kemakrufan, seperti yang dijelaskan Allah ta ala :” Bergaullah dengan mereka secara makruf” (QS.An-Nisaa;19) . Termasuk dalam kategori ini adalah kemampuan untuk memberikan perhatian istimewa, mendengarkan secara aktif, membangun suasana romantis dan menciptakan canda canda segar.

 

sodaraku….. Banyak dari kalangan kalian para suami sanggup memberikan nafkah kepada kami istri – istri, tetapi memiliki kelemahan dalam mendengarkan isi hati kami sebagai istri. beberapa dari kalian para suami beranggapan bahwa perhatian yang harus diberikan hanyalah memberi setumpuk nafkah kepada kami. kalian kurang memberikan sepotong waktu yang dimiliki kepada kami untuk mencurahkan perasaan hati kami. padahal, ia merupakan kebutuhan jiwa yang harus segera dipenuhi. Kebutuhan untuk mengobrol dan menyampaikan harapan harapan yang selama ini terpendam dan belum pernah terungkapkan sama sekali.Dalam kondisi yang masih dapat ditahan oleh istri, semua hanya menjadi derita jiwa diri kami sendiri.

 

Sodaraku para suami, ingatlah ketika kebutuhan jiwa itu mencapai puncaknya, keinginan mencurahkan hatinya tidak terakomodasi dengan baik, ia akan menjelma menjadi ledakan emosi yang sangat dahsyat. efek yang dapat ditimbulkan adalah pelarian. Istri kalian akan mencari tambatan kepada orang lain; mungkin tetangga, ustadz atau ustadzah, orang tua, teman dekat, atau siapa saja yang mampu memenuhi dahaga jiwanya. kepada mereka kemungkinan besar istri akan menumpahkan seluruh harapan jiwanya.

 

Jika kondisi ini yang terjadi, bisa jadi orang lain akan lebih mengetahui perasaan istri kalian daripada kalian sendiri sebagai suaminya. Aneh, orang yang paling dekat ternyata menjadi sosok yang teramat jauh. kalian dekat sekedar dalam hubungan formalitas fisik. ingatlah para suami Saat itulah makna pernikahan yang memadukan dua jiwa menjadi terkikis secara perlahan.

 

sodaraku… para suami….. itulah kebutuhan jiwa seorang istri. kebutuhan untuk mendapatkan kelegaan hati. kami hanya butuh didengarkan. kami tidak membutuhkan solusi. kami hanya membutuhkan ruang untuk bercerita, membutuhkan waktu untuk bersama kalian.

 

sodaraku….. Disinilah kita menemukan makna yang dalam dan luas dari ungkapan Rasulullah Saw” sebaik baik kamu adalah yang paling baik dalam bergaul dengan istrinya, dan aku adalah yang paling baik diantara kamu dalam bergaul dengan istri.” (HR.Bukhari). Rasulullah sangat mengapresias para suami yang memberikan perhatian lebih kepada istrinya.

 

Apresiasi Rasulullah tersebut memberikan dorongan kepada kalian para suami agar memiliki kemampuan untuk bisa mendengar dan merespon perasaan hati istri kalian. kalian para Suami harus mengawali untuk menciptakan suasana keterbukaan. kalian para Suami mendahului untuk membuka komunikasi sebelum istri memintanya.

 

John Gray dalam Mars and Venus Together Forever memberikan penjelasan menarik.” perlulah menjadwalkan kesempatan kesempatan istimewa. seorang pria perlu mengingat bahwa seorang wanita cenderung merasakan beratnya tanggung jawab rumah tangga dan merasa sulit untuk meluangkan waktu bagi diri mereka sendiri. kalau seorang suami menciptakan saat saat istimewa ketika istrinya dapat lepas dari kerutinan, si istri bebas untuk merasa dikembangkan dan dipupuk.

Sodaraku… sekali lagi, kalian para suami hendaklah memiliki inisiatif untuk menciptakan saat saat istimewa, ketika seorang istri memiliki kesempatan lapang untuk menceritakan seluruh isi hatinya, mengungkapkan gejolak perasaannya. Suami memberikan waktu untuk semua itu. setelahnya, kalian harus memiliki kemampuan untuk mendengarkan secara aktif. Agar istri kalian merasa mendapat perhatian lebih dari kekasihnya dari kalian, sekaligus dipenuhi kebutuhan jiwanya disamping kebutuhan fisiknya. Dalam hal ini, kalian dapat belajar bahwa kecendrungan wanita pada umumnya sangat menghargai komunikasi dan suasana yang menyertainya. Dunia yang kadangkala kalian lupakan dan abaikan, bukan sekedar karena kalian laki laki tetapi karena kalian jarang berusaha memasuki dunianya ; dunia kekasih kalian ; dunia istri kalian ; dunia para wanita ………

 

***untuk para suami …. cobalah tuk mengerti dan memahami satu ruang kosong dihati istri kalian. istri kalian tidak mengharapkan harta kalian tapi mereka butuh sisakan sedikit waktu kalian buat mereka agar mereka bisa merasakan kebersamaan yang pernah ada dan tercipta dalam pernikahan.