Salah satu ciri orang tak mau beriman adalah tidak percaya masalah yang gaib. Mereka hanya menyakini yang bisa di jangkau panca indra saja. Konsepsi tentang TUHAN, Malaikat, Hari Kiamat, dan surga-neraka berada di luar jangkauan fisik manusia.

 

Di zaman modern ini sepertinya banyak yang memproklamasikan dirinya sebagai anti TUHAN (ateis) Yang paling populer adalah Friedrich Nietszche (1844-1900), filosof asal Jerman yang membuat metafora. “Coba terka kemana TUHAN pergi ? Tak ada jawaban, ”  tulisnya.  ” Aku mau mengatakan kepada kalian, kita telah membunuhnya. Yah, kita semua telah membunuhnya!” Nietszche adalah proklamator kematian tuhan di barat. Tuhan baginya hanya ada di dalam pikiran. Tuhan tidak wujud di luar sana.

 

Jika menilik sejarah, kekufuran seperti ini selalu ada di setiap jaman. Di masa Rasulullah Muhammad saw, para penentang juga bersikap sama. Suatu ketika, beberapa orang kafir mendatangi nabi saw seraya berkata ” Hai Muhammad, jika engkau benar-benar rasul Allah, cobalah engkau meminta pada Tuhanmu untuk melenyapkan gunung-gunung yang menghimpit kita supaya Mekkah menjadi luas. Lalu di dalamnya terdapat mata air yang mengalirkan air di kanan-kiri seperti kota Syam, Irak, Mesir dll.

 

“Hendaklah engkau meminta lagi kepada Tuhanmu untuk menghidupkan lagi orang tua kita dan para leluhur kita yang sudah mati. Terutama yang mulia Qushay bin kilab karena dia adalah orang yang sangat berjasa semasa hidupnya dan di percaya oleh bangsa kita. Jika engkau dapat memenuhi permintaan kami saat ini juga, kami akan percaya sesungguhnya engkau adalah utusan Tuhan”

 

Nabi saw, menjawab, ” Bukan untuk ini aku di utus kepada kalian semua. Aku di utus dengan apa yang telah aku datangkan kepadamu dari sisi Allah ( Al Qur’an ) dan aku menyampaikan apa saja yang aku bawa kepada kamu semua. Jika kamu menerimanya, itulah pahalamu di dunia dan akherat. Jika kamu menolaknya, aku akan bersabar dan menyerahakan ini kepada keputusan Allah sehingga Allah memberi keputusan di antara aku dan kamu semua”

 

Tak lama kemudian turunlah wahyu, ” Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu, gunung-gunung dapat di guncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentulah Al Qur’an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah.

Maka tidaklah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman) tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semua. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana terjadi dekat tempat tinggal mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu kemudian aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan Ku itu” (QS. Ar Ra’du : 31-32)

 

Di lain kesempatan kaum kafir menghampiri nabi saw, “Jika engkau benar-benar utusan Tuhan, mengapa engkau masih suka pergi ke pasar, masih makan, masih menikah, masih suka punya anak. Mengapa engkau tidak dikawal malaikat untuk menolong engkau supaya menakut-nakuti kami? Kalau begitu, sama saja antara kami dan engkau tidak berbeda sedikitpun”

 

Allah SWT merekam pernyataan mereka, ” Dan mereka berkata, mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar? Mengapa tidak di turunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? Atau (mengapa tidak) di turunkan kepadanya perbendaharaan atau (mengapa tidak) ada kebun baginya yang dia dapat makan dari hasilnya? Dan orang-orang zolim itu berkata, ” kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir” (QS. Al Furqan : 7-8)

 

Allah SWT memerintahkan nab sawi menjawab, “Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang di wahyukan kepada ku, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa. Barang siapa berharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al Kahfi 110)

 

Demikianlah sikap orang yang tak beriman dari dulu hingga kiamat. Permintaan mereka itu tidak lain hanyalah olok-olok. Kalaupun di kabulkan, mereka tetap tak akan percaya dan bahkan menuduh itu hanyalah sihir belaka.