“Menurutmu pintar itu bagaimana?” tanya seorang teman kepada saya di depan sebuah ruang kuliah di ITB Bandung dulu.

 

“Pintar itu berarti cerdas, banyak wawasannya, bahkan bisa punya gelar banyak,” jawab saya singkat.

 

Sambil melihat ke depan, lalu dia merespon jawaban saya,

 

“Pintar itu bukan sekedar cerdas, bukan sekedar banyak wawasan, bukan sekedar gelar yang mengembel-embel di depan atau belakang nama, dan bukan pula banyaknya ijazah yang dipegang. Tapi pintar itu bagaimana bisa menyampaikan pemikiran kita dengan bahasa pemahaman orang yang kita ajak bicara sehingga orang tersebut jadi mengerti, bukan dengan bahasa kita sendiri yang sulit dipahami. Percuma kita cerdas dan punya gelar banyak, tapi kalau tidak bisa menyampaikan pemikiran kita dengan cara yang baik dan mudah dipahami, hanya akan membuat kita menjadi bodoh.”

 

Ah, begitu sederhananya definisi pintar menurut teman saya itu. Karena sering kita temui bagaimana seseorang ingin dianggap pintar, lalu dia berbicara dengan bahasanya sendiri yang berat serta dengan alur yang sulit dipahami. Apakah demikian pintar itu?

 

Alangkah naifnya jika pintar hanya dipandang dari sisi kecerdasan saja, padahal pintar adalah bagaimana membuat orang lain bisa menjadi pintar, menjadi paham, dan menjadi bermanfaat, bukan justru menjadikannya bodoh dalam kepintaran kita. Karena pintar yang kita miliki seharusnya menjadi  lentera yang selayaknya menerangi gelapnya malam, bukannya menjadi api yang membakar panasnya siang karena terik sang mentari.

 

Walloohu a’lam bishshowab…