Halo sahabat taqwa di seluruh Indonesia, bagaimana kabarnya malam ini, semoga selalu bahagia dan inspiratif selalu ya.

Nah menemani waktu istirahat anda sekalian, ada refleksi menarik dari seorang sahabat taqwa tentang kehidupannya yang hambar dan tiada berarti. Dia bercerita tentang kejenuhan hidup dan hilangnya kebermaknaan, namun disisi lain juga seolah tidak punya daya untuk kembali kepadaNya dan merajut kembali keshalihan yang koyak.

Fase kehidupan yang begitu menjemukan dan mengesalkan itu, mungkin pernah jua menyambangi sehabat taqwa lainnya bukan ? Bila benar begitu adanya, yuk segera kita simak renungan inspiratif berikut ini. Semoga memberikan kesegaran dan epifani baru dalam menjalani kehidupan ini.

____________________________________________________________

 

Seorang sahabat taqwa berkeluh kesah tentang betapa mengesalkan dirinya akhir-akhir ini dalam menjalani kehidupan, baik kehidupan materi (mencari nafkah) maupun kehidupan rohani (dalam beribadah kepadaNya).

 

Sholat sudah tidak terasa lagi lezatnya, hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Mengaji pun hanya sekedar mengejar target khatam saja, perasaan selalu diburu waktu dan berkejar-kejaran tak tentu arah, masalah silih berganti tak kunjung henti.

 

Dalam curhatnya itu, dia mengatakan sudah sering kali dia memohon agar Tuhan berkenan membukakan pintu-pintu kelezatan iman padanya, memberinya petunjuk bagaimana harus berbuat dan mengaruniakannya kehidupan yang lebih berarti lagi. Hanya saja doa-doa itu dirasakannya bagaikan tenggelam dalam samudra dan bukannya mengangkasa ke sidratul muntaha. Lelah hatinya mengharap kasihNya, jenuh jiwanya menunggu jawabanNya.

 

Dalam kejemuan yang semakin memuncak itu, kadang melahirkan sifat putus asa.

hhhhhh,,, seakan ingin menyerah saja jadi manusia, begitu geramnya. Sering pula terlintas keinginan untuk bunuh diri dan mengakhiri hidup dalam hatinya. Acap jua terbetik doa agar Tuhan mempersingkat umurnya dan disegerakan saja maut tuk menjemputnya.Hidup bila cuma menambah dosa dan maksiat saja, tiada artinya lagi, begitu pungkasnya.

__________________________________________________________

 

Sahabatku,

Boleh jadi moment-moment itu kadang menghampiri kehidupan kita, dalam pertemanan dan persahabatan mungkin, atau dalam menjalani karir dan pekerjaan mungkin, dalam mengayomi biduk rumah tangga mungkin, ataupun kala membimbing dan membesarkan anak-anak.

 

Jika perasaan itu datang mengganggu dan berkecamuk dalam batin kembalilah bertanya dalam diri kita

” Mengapa Allah menjadikanku manusia seperti ini dan bukan makhluk lainnya, ”

 

Sahabatku,

Menjadi manusia adalah kebanggaan kita, bahkan boleh dibilang nikmat terbesar dalam kehidupan ini selain juga nikmat Iman dan Islam, mengapa Allah tidak menjadikan kita binatang, tetumbuhan atau malaikat saja, tentu hal itu ada hikmahnya bukan.

 

Menjadi manusia adalah mewarisi sifat-sifat keTuhanan dan menjalankan peran keTuhanan dimuka bumi (tentu sesuai kadar kodrati kita sebagai manusia). Ya, sahabat sekalian kita tiada lain adalah Khalifatullah.

 

Menjadi manusia berarti menjadi makhluk-makhluk pilhanNya. Tidak semua makhluk mendapatkan kesempatan berharga seperti kita. Hal ini selain menyiratkan kebanggaan juga menekankan adanya tanggung jawab yang besar untuk mengelola kehidupan yang diamanahkan Tuhan. Pernahkah kita sadari bahwa karena manusialah Allah menciptakan Syurga dan Neraka. Untuk manusialah Allah menciptakan bumi seisinya yang indah nan rupawan. Demi manusialah Allah menumbuhkan pepohonan dan menundukkan binatang-binatang. Bahkan malaikat sekalipun diperintahkan untuk mengayomi manusia, Iblis dan syetan pun dicipta untuk menguatkan iman manusia. Tidak ada makhluk apapun selain ditujukan untuk manusia, jelasnya kitalah aktor utama dalam drama megah kehidupan ini.

 

Karena itulah Allah memberikan kuasaNya yang tidak diberikan pada makhluk lainnya yaitu kuasa untuk memilih. Pilihan, ya keleluasaan untuk memilih apakah kita ingin taat atau durhaka, ingin iman atau kufur, ingin nikmat atau laknat, ingin dibentuk sesuai kehendakNya ataukah ingin membentuk diri sekehendak diri kita sendiri. Dengan kuasa inilah kita bisa menafakkuri tentang rahasia kehidupan dan rahasia semesta yang mungkin hanya untuk kitalah hal itu diciptakan.

 

Tuhan punya cara dan metode sendiri yang sering kali belum kita pahami, Dia punya mekanisme unik dan prosedur jenius yang berjalan diatas nalar cerdas kita. Prasangkalah yang seringkali membatasi pandangan batin kita untuk memahami maksud tersembunyi dariNya.

 

Sahabatku,

Boleh jadi saat ini keadaan begitu menggelisahkan, menegangkan, menyakitkan dan membuat kita begitu menderita. Boleh jadi pula saat ini kondisi batin kita begitu rapuh, iman sangat lemah, ibadah berantakan, kualitas taqwa memprihatinkan, keluarga pecah berantakan, pekerjaan dan kehidupan awut-awutan. Lengkap sudah kesialan, azab, musibah dan kesengsaraan jadi satu. Seakan menjadi penghuni neraka adalah kepastian takdir kita. Sudahlah sengsara di dunia tambah lagi tersiksa di akhirat.

 

Tapi siapa yang menyangka satu-dua tahun lagi, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi atau bahkan lima puluh tahun lagi, takdir  kesejatian diri baru menghampiri. Allah berkenan mengishlah kita dengan cahayaNya, menjadikan kita wakilNya yang sesungguhnya.

 

Preman pasar bisa menjadi tokoh Wali terkemuka,

Penjahat bromocorah bisa berubah Fakih alim nan bersahaja ,

Jagoan kampung bisa menjadi Khalifah adil nan berwibawa.

 

Ya, siapa yang mengira bahwa butir-butir pasir itu sesungguhnya adalah permata berharga,

Bila Allah yang menyepuhnya, apapun bisa terjadi atas kehendakNya,

Hanya saja, maukah kita bersabar menunggu tiba waktunya,

 

Sahabatku,

Jangan pernah kehilangan kebanggan menjadi manusia,,,

 

” ,,, boleh jadi  kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi  (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (AL BAQARAH : 216)

 

” Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia “. (AN NAHL : 40)