Andai saja Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih tak pernah bermimpi ihwal seorang pria yang mengitarinya seraya mengumandangkan takbir hingga tahlil yang di kemudian hari diteguhkan Rasulullah sebagai lantunan azan, bisa jadi perdebatan mengenai cara mewartakan tibanya waktu salat lima waktu masih menyisakan persoalan. Sebab, sebelum Rasulullah membenarkan mimpi itu sebagai bisikan Allah, kaum muslimin bersilang pendapat terhadap penanda tibanya waktu salat. Nyaris mereka terperosok pada identitas umat epigonistik, menyalin tradisi penanda waktu ibadah agama lain. Membunyikan bel meniru tradisi Nasrani atau meniup terompet seperti adat Yahudi. Beruntung, bisikan Allah menghampiri Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih hingga tercetuslah azan yang pertama kali dikumandangkan oleh sahabat Bilal bin Rabah.

Pada masa itu, azan menemukan momentum sebagai penyeru dengan “kekuatan supranatural” yang sangat dahsyat. Ketika azan berkumandang, kaum muslimin bergegas meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan bersegera menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Dalam konteks demikian, azan adalah pemersatu umat. Simpul-simpul kesadaran psiko-religius mereka bergetaran, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi) mereka bersimpuh, luruh dalam kesyahduan ibadah salat berjamaah.

Di sini ada dua infrastruktur keagamaan yang penting diurai. Pertama, azan. Sejak zaman Rasulullah hingga saat ini alunan azan tidak mengalami perubahan. Lafalnya tetap seperti itu. Hanya saja, serasa ada pergeseran spirit keagamaan yang tertangkap dari alunan azan. Tentu pergeseran itu bukan terletak pada azannya, melainkan pada daya serap responsif umat muslim itu sendiri. Singkat kata, respons umat Islam terhadap kumandang azan pada zaman dahulu dan sekaranglah yang terlihat berbeda. Dahulu meski azan dikumandangkan muazin dari atas menara tanpa pengeras suara telah mampu menjadi energi pendobrak kesadaran religius umat Islam. Mereka benar-benar merasakan panggilan Ilahi yang sakral. Kesadaran religius mereka mengental, terasa betul panggilan Ilahi yang begitu merdu. Mereka merasakan rindu yang teramat sangat untuk segera “berjumpa” dengan Allah melalui salat. Bait demi bait azan menguraikan makna terdalam dari perilaku keagamaan yang telah diyakini sepenuh hati.

Sementara kita lihat pada saat ini. Dengan kecanggihan teknologi kumandang azan terdengar sampai radius yang jauh. Bahkan menjelajah ke dalam ruang-ruang kehidupan keluarga yang amat privasi melalui televisi. Mestinya, fenomena ini mampu menggandakan semangat keagamaan yang berlipat-lipat dibanding pada masa umat Islam dahulu. Akan tetapi kenyataan tidak sepenuhnya demikian. Kumandang azan dianggap sebagai sebuah panggilan rutinitas tanpa meninggalkan jejak-jejak penghayatan keagamaan yang hakiki.

Kedua, salat jamaah. Salah satu tradisi keagamaan yang benar-benar dijaga oleh Rasulullah adalah salat berjamaah. Bahkan dalam kondisi sakit pun Rasulullah masih memimpin salat berjamaah, hingga pada suatu ketika dalam kondisi fisik yang amat lemah karena sakit barulah Rasulullah meminta sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menggantikannya memimpin salat berjamaah.

Ada pesan tersirat dari perilaku Rasulullah yang perlu diungkap. Bahwa jamaah itu rahmah. Tradisi salat berjamaah yang selalu dijaga Rasulullah mengindikasikan betapa pentingnya persatuan umat. Melalui salat berjamaah interaksi vertikal dan horizontal terjadi. Umat beribadah dengan khusyu’ serta menjalin silaturahmi sosial antarsesama. Dari silaturahmi sosial ini akan terbina kekerabatan dan persaudaraan yang guyub.

Realitas saat ini sedikit-banyak menampakkan perilaku anomalis. Terkecuali di kantong-kantong umat yang tradisi keagamaannya masih terjaga kuat, sebagian umat Islam saat ini cenderung abai dengan salat berjamaah. Di tengah ritme kerja yang sangat padat di era modernisasi dan globalisasi teknologi saat ini, sebagian umat memandang salat berjamaah hanya menghamburkan waktu. Mereka takluk dalam ego individualisme. Prinsip mereka waktu adalah uang (the time is money). Sehingga, betapapun kuat kumandang azan dan seruan untuk salat berjamaah, mereka tetap bergeming. Karena itu, dalam konteks demikian, spiritualitas keagamaan mereka bisa diibaratkan lahan gersang yang merindukan siraman air hujan.

Serangkaian fenomena di atas bisa diumpamakan virus yang menggeroti sendi-sendi kehidupan beragama umat. Bila tidak segera dibasmi bukan mustahil akan mengerdilkan peran sosial-keagamaan umat hingga membuat mereka tercerabut dari akar keberagamaannya.