“….Sesungguhnya telah sampai kepada kita bahwa umat ini akan terpecah belah menjadi 77 golongan, yang di antaranya hanya satu golongan yang selamat.”

 

Allah Maha tahu terhadap seluruh golongan-golongan tersebut. Aku masih memiliki kesempatan dari usiaku untuk melihat perselisihan umat.Aku mencari metode yang jelas dan jalan yang lurus.

 

Aku mencari ilmu dan amal, mencari petunjuk jalan akhirat dengan bimbingan para ulama. Aku banyak berfikir mengenai firman-firman Allah dengan penafsiran para fuqaha (orang-orang yang banyak memahami agama).

 

Aku merenungkan berbagai kondisi umat.

 

Aku perhatikan tempat berpijak (madzhab) dan berbagai pandangannya, dan aku pun pikirkan mengenai hal-hal itu semua sesuai dengan kesanggupanku…

 

Aku yakin perselisihan mereka seperti lautan yang dalam. Banyak orang tenggelam ke dalamnya, dan hanya sekelompok kecil yang selamat…

 

Aku yakin setiap golongan dari mereka mengira bahwa keselamatan adalah dengan mengikuti mereka, dan sesungguhnya yang akan binasa ialah orang yang menentang mereka…

 

Aku yakin di antara mereka ada orang ‘Alim (yang berilmu) yang mengetahui urusan akhirat. Menemuinya sulit dan ketika hadir di hadapan umat tampak kemuliaannya.Di antara mereka juga ada yang bodoh.

 

Ketika ia jauh dari si ‘Alim dianggapnya sebagai keuntungan baginya. Di antara mereka ada yang menyerupai ulama, namun tergila-gila dengan dunia dan sangat mencintainya.

 

Di antara mereka ada yang memikul ilmu yang berhubungan dengan agama.Dengan ilmunya ia mencari kehormatan dan kedudukan tinggi. Dengan agama ia memperoleh kekayaan dunia.

 

Di antara mereka ada yang menyerupai ahli ibadah. Ia mengkomersilkan kebaikannya. Padanya tidak ada kecukupan, ilmunya tiada abadi, serta tidak ada sandaran bagi ilmunya.

 

Di antara mereka ada orang yang hafal ilmu, namun ia tidak mengetahui tafsiran dari hafalannya. Ada juga orang yang menyandarkan dirinya kepada nalar dan kecerdasan, namun pada dirinya tidak ada sifat wara’ (hati-hati) dan takwa.

 

Ada juga sekelompok orang yang saling mencintai, namun bersepakat terhadap keinginan hawa nafsunya dan berkorban untuk kepentingan dunia, dan yang mereka cari adalah kehormatan.Di antara mereka juga ada setan-setan dari jenis manusia.

 

mereka berpaling dari akhirat, serakah terhadap dunia, tergesa-gesa mengumpulkannya, serta sangat senang memperkaya diri.

 

Aku mengintrospeksi diri (ber-muhasabah) dari sifat-sifat tersebut,namun tiada kesanggupan untuknya. Aku pergi mencari petunjuk dari orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk dengan cara mencari kebenaran dan petunjuk.

 

Aku pergi mencari bimbingan ilmu, mempergunakan pemikiran dan aku cukup lama menanti.Maka akhirnya kebenaran dan petunjuk itu tampak padaku dari Kitabullah, sunah Nabi-Nya, dan kesepakatan (ijma) umat.

 

Sesungguhnya mengikuti keinginan hawa nafsu itu menjadikan sikap menutup mata dari bimbingan-Nya, menyimpang dari kebenaran (al-Haq), dan menjadikan lama tinggal dalam kebutaan hati.

 

Aku mulai dengan pencabutan keinginan (duniawi) dari hatiku.

 

Aku berdiri tegak di hadapan perselisihan umat guna mondar-mandir mencari kelompok yang akan selamat, sambil sangat hati-hati terhadap berbagai keinginan buruk dan kelompok yang akan celaka karena khawatir ada penyerangan sebelum mendapatkan kejelasan….

 

Di kutip dari pengantar risalah Kitab “al-Munqidz mina-dh-Dhalal”, “Sang Penyelamat dari Kesesatan”

 

Semoga bermanfaat.