IBU? siapa yang tak rindu ibu? kinipun aku merasakannya. Padahal usiaku sudah melampaui usianya pada saat aku menuliskan cerita pendek untuknya dalam buku kumpulan cerpenku: “Terpasung.” dengan judul: “Ibu, Sebuah Sketsa” dan kini, saat hatiku tertagih mengingatnya, padahal sudah puluhan tahun pula ia meninggalkanku, aku tetap masih merindukannya. Dan akupun tahu, kaupun merindukan ibumu pula? siapa sih yang tak merindukan seorang ibu? Sosok yang selalu memperhatikan, menyayangi dan menyinta putra-putrinya sepenuh hati tanpa pamrih apapun? aaah.. sendainya… namun seandainya bukanlah semestinya kan? kenapa pula kadang kita suka dibayangi atau digelayuti kata seandainya sih? bukankah ia tidak merupakan realitas? dan yang bukan realitas, apalagi tidak atau belum mungkin dibentuk menjadi sebuah fakta nyata, kenapa mesti dikhayalkan bahkan diresahkan?

 

Ya sudahlah aku tak mau memperpanjang lagi. Aku kini memang sedang dilanda rindu. Dilanda rindu pada sosok ibuku. Orang yang begitu kukagumi, kuhormati dan kucintai sepenuh hati dan jiwaku. Betapa tidak? siapakah yang dapat menggantikan kedudukannya yang sedemikian penuh kasih sayang, cinta dan perhatian itu? apalagi ia merupakan figur yang begitu kuat menggenggam diriku dalam filosofi hidup dan cara berpikirku? bukankah daripadanya aku memperoleh segala apa yang seperti kulakukan kini? aaah kalau kau tau betapa itu..

Hmmm rasanya air mataku akan menetes kini. Ya.. haru dan rindu menyatu. Namun apa yang dapat kulakukan, sebagai manusia, bukankah kita menerima segala takdirnya? selain doa dan mendoakannya? mencontoh dan mengikuti apa yang diberikan?

 

Baiklah aku mulai saja dengan mengutip sedikit cerita yang terdapat dalam “Ibu, Sebuah Sketsa”, pada buku Kumpulan Cerpen “Terpasung” itu. Barangkali kau juga dapat menikmatinya sebagai pelajaran selain diriku sendiri? Ya Allah.. ‘amiin.. ya Allah! ‘amiin…

_________________________________________________________________________________________________

 

MASALAH KEIMANAN dan pengetahuan di dalam bidang agama, ibu menyekolahkan di Madrasah, setelah pulang dari sekolah umum negeri di pagi hari. Bahkan, itu belum memuaskan ibu. Beliau memanggilkan seorang ustazah yang berwawasan luas ke rumah. Sehingga waktu-waktu belajar saya pun, padat. Sejenak saja saya merasakan hiburan dan kesenangan, terutama ketika dibawa jalan-jalan waktu liburan sekolah. Sekedar berekreasi. Dan memang, ayah sering mengajak kami ke tempat-tempat rekreasi.  Puncak, Ciater, Taman Ria Ancol, bahkan ke kepulauan seribu.

 

Bilamana  ibu melihat pemandangan indah, mulutnya berucap:

 

“Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, Allahu Akbar!”

 

Sehingga sering saya bertanya: “Kenapa sih Bu, kok selalu itu saja yang diucapkan bila melihat pemandangan indah. Apakah gunung, laut dan lain-lain?”

 

Dan jawabnya selalu: “Semua itu ciptaan Allah Nak. Siapa yang tak kagum; memuji syukur akan ke Besarannya Nak?”

 

Suatu hari, saya lihat ia sedang menyiram pohon-pohon bunga dan buah-buahan di kebun. Padahal pembantu di rumah beberapa orang.

 

Saya menegurnya: “Ibu, kenapa sih, kok Ibu yang nyiram? Bukankah ada si Kardi?”

Ia merekahkan bibirnya. Melihat kepada saya.

 

“Anakku, apakah Ibu tidak boleh ikut bersyukur, terhadap karunia Allah, dengan kenikmatan keindahan pemandangan pohon-pohon dan bunga-bunga ini?” katanya balik bertanya. “Dan apakah Ibu tak boleh memetik pahala dengan segala karuniaNya ini?”

 

Saya menatapnya. “Ah Ibu, lagi-lagi syukur dan bersyukur,” pikir saya.

 

Tapi mulut saya hanya diam. Menunggu, apa lagi kiranya yang akan ia katakan.

 

“Kau tahu Nak? Pohon-pohon itu adalah makhluk Allah. Ia memberikan satu kenikmatan. Kesenangan pada mata dan hati kita. Menjernihkan akal pikiran kita. Menyehatkan tubuh kita. Nah, sudah selayaknya kan, kalau kita saling mengasihi dan menyayangi. Kita harus merawat dan menjaganya. Memeliharanya. Sebagaimana Ibu juga mengasihi, menyayangi, memelihara, menjaga dan merawatmu, Nak.”

 

Hari yang lain, saya melihat ia sedang merapikan pohon sirih yang menjalar dan di tanamnya merambat pada kawat di atas tanah. Tidak jauh dari ruang makan. Beberapa helai daun yang berwarna kuning berjatuhan.

 

“Sedang apa Bu?” tegur saya menghampiri.

 

“Ini. Coba lihat ini,” katanya seraya tangannya meraih dan mengambil sehelai daun sirih kuning yang jatuh dan berada di tanah. Diangkat, dan diperlihatkannya pada saya.

 

“Daun sirih yang sudah tua ini, jatuh ke tanah. Membusuk. Menyatu dengan tanah. Sementara daun-daun muda yang baru bertunas itu, tumbuh. Hingga kemudian ia akan layu dan kuning pula. Tua. Kemudian jatuh, membusuk, menyatu dengan tanah, dan yang baru akan bertunas dan tumbuh pula. Nah, begitulah kehidupan ini, Nak. Hingga akhirnya alam kekekalan itu datang. Tak ada kematian sebagaimana yang kita lihat kini, Nak.”

 

Mendengar ini, kepala saya terangguk. Naik turun, ke atas dan ke bawah. Sementara akal saya berpikir, hati saya merasa.

 

Pernah suatu ketika, tangan saya di genggam. Dibawanya keluar. Sehingga saya menjadi bingung dan bertanya: “Ada apa sih Bu?”

 

“Mari,” katanya seraya tetap menggenggam dan membawa saya keluar.

 

Ternyata di luar ada seorang peminta-minta tua, dengan anak dan cucu-cucu yang masih kecil-kecil.

Uang yang berada di dalam tangannya, diberikannya pada saya. ”Ini berikan pada peminta-minta itu,” katanya.

 

Saya berikan uang itu kepada peminta-minta sebagaimana yang diperintahkan.

 

Dan setelah peminta-peminta itu mengucapkan terima kasih seraya mendokan, lalu melangkah keluar, kami masuk, ibu bertanya:

 

“Kau tahu Nak, kenapa Ibu memintamu memberikan uang kepada peminta-minta itu?”

 

Saya bingung. Antara sedikit tahu dan tidak, saya menjawab: ”Memangnya kenapa Bu?”

 

Ia tersenyum. Pikirannya menerawang dalam keharuan. Dan jawabnya:

 

“Mereka adalah orang-orang miskin dan papa, Nak. Yang patut kita bantu. Allah memberikan kita rezki yang berlebih. Sebagian harus di berikan. Menjadi milik si orang miskin itu, Nak”

Saya manggut-manggut.

 

“Itulah. Apa yang kita berikan pada si miskin yang membutuhkan, Allah akan menggantinya. Dan insyaAllah, kau akan medapatkan ganti yang berlipat ganda Nak.”

 

TENTANG SIFAT  kedermawanan dan rasa sosialnya ini, sering saya lihat dan temui. Setiap fakir miskin atau anak yatim datang ke rumah, tidak pernah dihardik. Apalagi ditolak. Apa yang ada padanya, apakah berupa barang dan uang, selalu diberikan. Banyak atau sedikit, sesuai apa yang dipunyai dan dimilikinya saat itu.

 

Hal yang selalu terkenang adalah, ia selalu mengajak saya ke panti asuhan dengan membawa barang-barang. Kain, baju, tas, pokoknya apa saja yang dimliki, disisihkannya sebagian untuk panti asuhan tersebut.

 

Sering pula, diajak dan dibawanya saya ke majlis-majlis taklim. Atau ke rumah-rumah keluarga, famili dan kerabat, dengan tak lupa menyisihkan dan memberikan apa  yang dapat dibawa dan diberikan. Oleh-oleh, buah tangan, bahkan tak segan-segan memberikan uang, bagi yang memerlukan dan membutuhkan.

 

Juga, yang tak dapat saya lupakan adalah, ia selalu memberikan makanan atau air bagi orang yang berkehendak pergi haji dan para pengantarnya sekaligus. Hal ini dimungkinkan, karena rumah kami berdampingan dengan urusan haji.

 

SEDANG KEBIASAANNYA sehari-hari, perlakuannya terhadap ayah, bahwa ia selalu mendampingi, melayani dan mempersiapkan segala sesuatu keperluan ayah, bila sedang di rumah. Melayani sarapan pagi setelah sholat subuh. Melipat kain, ketika ayah sudah mengenakan pakaian kerjanya, dan sudah akan berangkat ke tempat pekerjaan. Begitu pula menyiapkan makan siang setelah ayah pulang. Tidur siang, dan bangun jam tiga sore untuk kemudian minum kopi bersama. Melepas ayah kembali ke tempat pekerjaannya di bangunan. Dan ketika sore hari ayah pulang, ia menyambutnya. Cengkerama dan berbincang sebentar, untuk kemudian sholat maghrib. Menyiapkan makan malam. Seterusnya hingga tidur kembali di malam hari.

 

Tak lupa pula,ia gemar mengaji, sholat tahajjud. Katanya, kalau rajin sholat tahajjud, akan dinaikkan ke tempat yang terpuji. Wajah bersih dan bercahaya. Badan sehat. Sel-sel baru tumbuh. Bahkan kalau berdoa menjelang subuh, doa kita akan dikabulkan. Jika kita melakukannya dengan ikhlas, sesuai adab-adab doa. Terutama memuji Allah dan bersholawat!

 

DI SAMPING ITU, ibu adalah perempuan yang selalu mengingatkan suami akan nilai-nilai kebaikan yang diperintahkan Allah. Tak segan-segan mengoreksi dan mengkeritisi, bilamana dilihatnya tindak-tanduk ayah kurang tepat.

Nasihat tentang bagaimana harta itu harus disisihkan sebagian bagi yang membutuhkan, apakah berupa zakat, maupun sedekah, selalu diingatkannya pada ayah. Karena pada anggapannya, orang bersifat lupa. Dan harus selalu ada yang mengingatkan. Maka ia sebagai istri, merasa berkewajiban untuk itu.

Sedang waktu-waktu istirahat, digunakannya untuk berzikir dan membaca al-Qur’an. Bahkan, ikut mendengarkan dan belajar bersama ketika ustadzah datang!

 

BEGITULAH IBU. Apa-apa yang dilihatnya selalu dikaitkan dengan ke Besaran dan KeAgungan Allah. Dan bagaimana kita harus mensyukuri segala nikmat-Nya yang tak dapat dihitung dalam ukuran hitungan apapun! Bahkan, di balik musibah yang diderita, selalu dikaitkannya, bahwa di situ ada hikmahnya. Kebaikan untuk kita. Selain merupakan cobaan, godaan dan ujian.

Dan masih banyak lagi dari aspek kehidupannya yang aku  belum ceritikan dan paparkan di sini. Cerpen itu saja, Ibu, Sebuah Sketsa, belum semua aku salin dan copaz disini. Apalagi cerita dan pengalaman hidupnya. Padahal aku sudah berniat untuk  menceritakan riwayat hidupnya itu melalui sebuah bentuk tulisan panjang berupa novel. Tapi sampai saat ini belum bisa terealisakan. Maklum kesibukanku yang beragam, membuatku kadang tak sempat untuk fokus menulis novel. Meski beberapa bab telah kutulis untuk itu. Karena aku pikir tulisan tentang kehidupannya, bisa bermanfaat untukku  sebagai kenang-kenangan untuk selalu mengingatnya. Mengambil pelajaran dari kehidupannya. Dan mungkin bagi yang lainnya.

 

Seorang sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ibumu… ibumu… ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (HR. Mutaffak ‘alaih) Tak pelaklah, kalau sampai digambarkan bahwa surga terletak di bawah kaki ibu.

 

Ya Allah, hamba benar-benar rindu pada ibu kini ya Allah. Rindu…! Rindu sekali. Tak sesuatupun apa yang bisa hamba persembahkan untukmembalas segala kebaikannya itu ya Allah.

 

 

 

Wallahu a’lam