Wanita jangan lemah harus penuh harapan dan berdaya

OPTIMIS

Secara sugesti, Optimis lahir dari sikap yang tenang hanya bergantung pada Allah Ta’ala. Orang yang optimis yakin akan langkah yang ditempuhnya karena langkah tersebut berjalan diatas rel yang benar sesuai aturanNYA. Segala kondisi adalah baik baginya, bila memperoleh keberhasilan ia bersyukur dan bila gagal ia bersabar. Tak ada lagi istilah stres dalam hidupnya. Semua kesulitan ia sikapi dengan sikap yang jelas.”Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali padaNYA. Ya Allah berilah kami pengganti yang lebih baik.”(HR. Muslim). Yakin akan janji Allah diterangkan dalam ayat berikut, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (QS Al Insyirah 94:5-6). Hukum alam (Sunatullah) kehidupan itu berwarna, ada tangis dan gelak tawa, semua datang silih berganti.

 

Jiwa optimis dilandasi oleh positive thingking pada Allah. “Aku adalah menurut persangkaan hambaKU kepadaKu. Dan AKU bersamanya sepanjang ia ingat kepadaKU. Jika ia menyebutKU dalam dirinya, maka AKU menyebutnya dalam diriKU.Ketika ia menyebutKU ditengah-tengah sekelompok orang, maka AKU menyebutnya ditengah-tengah kelompok yang lebih baik dari mereka(kelompok Malaikat).” (HR. Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Dengan sikap Optimis, seseorang dapat berdiri tegak walau gelombang menerpa dirinya.

 

Percaya Diri

 

Istilah PD (Percaya Diri) digunakan sebagai ungkapan bagi wanita yang merasa mampu menghadapi apapun yang ada didepannya. Sebab, tidak ada yang dapat melindungi, membela, berkuasa selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saat interaksi dengan sesama mahluk, kepentingan dirinya biasanya medominasi. Namun, saat menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala, hanya manusia yang memiliki kepentingan sedangkan Allah tidak berkepentingan apapun terhadap manusia.Subhanallah! Namun, balasan perhatianNYA penuh, saat mahluk mendekat dan meminta, ”Jika ia (manusia) mendekat kepadaKU satu sengkal, AKU akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia bertaqarrub kepadaKU satu hasta, AKU mendekat kepadanya satu depa. Dan apabila ia mendatangiKU dengan berjalan, AKU mendatanginya dengan berlari.”(HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Orang yang yakin akan kekuasaan Allah, tidak akan terjebak pada sifat arogan atau tinggi hati. Rasa percaya diri yang  ia miliki akan semakin membuatnya rendah hati (tawadhu) karena ia sadar betul bahwa hanya Allah yang menjadi tumpuan harapan. Orang yang tinggi hati pada hakikatnya adalah orang yang tidak percaya diri. Dengan sifat arogannya, ia berupaya menyembunyikan berbagai kekurangan dalam dirinya, mengancam dan menindas. Rasa percaya diri yang diiringi dengan selalu ingat kepada Allah akan membuat seseorang begitu bersahaja. Ia terus melaju, kreatif, berprestasi, tanggap terhadap kepentingan bersama, tidak takut akan persaingan, dan tidak menahan hak oranglain.

 

Alangkah indahnya bila hidup ini kita hiasi dengan rasa optimis, percaya diri, serta selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala…