“Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik suri tauladan bagi kita semua. Sebisa dan semaksimal mungkin, kita mencontoh tutur kata, perilaku dan perbuatan beliau dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak mudah, namun juga bukan hal yang mustahil, sebab nabi adalah manusia, kitapun manusia meskipun ada bedanya. Kita hanya perlu membuang ‘sedikit’ dari kebiasaan kita agar sesuai dengan kebiasaan nabi.”

 

“Sedikit yang dimaksudkan adalah…”

 

“Pertama, beda kita dengan nabi adalah nabi sedikit tidur, sedangkan kita sedikit-sedikit tidur. Jika kita ingin mencontoh nabi, buanglah satu kata sedikit pada kebiasaan kita, dari sedikit-sedikit tidur menjadi sedikit tidur.”

Banyak riwayat menyebutkan bahwa nabi Muhammad SAW yang sudah dijamin Allah masuk surga, senantiasa menghidupkan malam-malamnya dengan ber-tahajjud. Bahkan nabi tidak berhenti sholat sampai kakinya bengkak-bengkak karena terlalu lama berdiri. Siang dan malam nabi pergunakan waktunya untuk beribadah dan berdakwah, hanya sedikit sekali waktu yang beliau gunakan untuk tidur dan beristirahat.

 

Berbeda dengan aku yang menghabiskan sebagian besar umurku dengan santai dan tidur.. Sedikit-sedikit tidur. Siang tidur, malam apalagi. Sesekali aku begadang, tapi bukan untuk memperpanjang zikir atau mengikuti pengajian, melainkan nonton TV dan bersenang-senang. Dan ketika orang-orang bangun di sepertiga malam, akupun terkadang demikian. Tapi bangunku tidaklah selalu kemudian mengambil wudhu dan sholat tahajjud. Bangunku tengah malam terkadang karena ingin ke kamar mandi untuk berkemih atau sekedar mematikan alarm dan kembali tidur lagi. Astaghfirulloh!

“Kedua, beda kita dengan nabi adalah nabi sedikit makan, sedangkan kita sedikit-sedikit makan. Jika kita ingin mencontoh nabi, buanglah satu kata sedikit pada kebiasaan kita, dari sedikit-sedikit makan menjadi sedikit makan.”

 

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa nabi dan keluarganya selalu hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan nabi bukan menunjukan ketidakmampuan, tapi karena akhiratlah yang diutamakan. Kalau mau, nabi tinggal berdoa dan Allah pasti akan mengabulkan, memberikan harta yang berlimpah. Tapi nabi tak melakukan itu, tidak seperti kita yang selalu dan terlalu haus dan rakus dengan harta dan segala kenikmatan dunia. Meski seluruh air laut diminum, tak juga menghilangkan dahaga. Astaghfirulloh!

Ada satu hadist menyebutkan, “Kami, keluarga Muhammad SAW pernah selama satu bulan tidak menyalakan api (memasak), kami makan hanya kurma dan air.” (HR. Bukhari, Muslim). Bahkan dalam riwayat lain menyebutkan, selain sering berpuasa nabi juga seringkali mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan lapar.

Hal ini berbeda dengan aku yang sedikit-sedikit makan.. Astaghfirulloh!

“Ketiga, beda kita dengan nabi adalah nabi sedikit marah, sedangkan kita sedikit-sedikit marah. Jika kita ingin mencontoh nabi, buanglah satu kata sedikit pada kebiasaan kita, dari sedikit-sedikit marah menjadi sedikit marah.” Astaghfirulloh!

Nabi adalah contoh sempurna dalam hal mengendalikan diri. Beliau adalah suami yang lemah lembut, penuh kasih sayang dan perhatian kepada istri dan keluarga. Beliau adalah seorang suami, ayah dan sahabat yang sangat penyabar. Tidak marah nabi kecuali ketika aturan Allah dilanggar. Itupun tidak seperti marahnya kita yang terkadang brutal, membabi buta hanya untuk alasan kecil saja.

 

Sedikit-sedikit marah, tak sepenuhnya salah jika sang ustadz berkata demikian. Apapun bisa menjadi alasan dan penyebab kemarahan. Kurang ini marah, lebih itu marah. Begini marah, begitu marah. Di sini marah, di sana marah. Astaghfirulloh!

Di rumah, masakan istri tak sesuai selera, marah. Nilai ulangan anak rendah, marah. Anak tetangga berisik, marah. Begitupun di tempat kerja. Bawahan salah, marah. Tugas terlambat dikumpulkan, marah. Rekan kerja ngajak bercanda, marah. Pokoknya hal-hal kecil yang wajar dan sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara sederhana, bisa menyulut kemarahan. Marah tak ubahnya seperti hobi, dan pemarah dijadikan profesi. Astaghfirulloh!

semoga bermanfaat…