Oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, M.A.

(Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an Jakarta)

 

“Sungguh kamu pasti akan diuji menyangkut harta kamu dan diri kamu. Dan kamu sungguh pasti akan mendengar dari sebagian orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

 

Gangguan dan sikap pelecehan itu, lahir akibat beberapa fakor. Al-Qur’an dan Sunnah mengisyaratkan paling tidak dua hal pokok yang menjadi penyebabnya. Pertama: Keangkuhan yang dilahirkan oleh keterpedayaan akan kemewahan duniawi. Allah berfirman menyapa mereka yang tersiksa pada Hari Kemudian: “Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokkan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat” (QS. al-Jâtsiyah [45]: 35).

 

Kedua: Ketidaktahuan, baik karena informasi yang keliru, maupun karena tidak diterimanya informasi sama sekali. Berkali-kali al-Qur’an menegaskan bahwa sikap buruk kaum musyrik adalah akibat mereka tidak tahu (baca antara lain QS. al-Mâ’idah [5]: 58 dan 104; al-An‘âm [6]: 37; al-A‘râf [7]: 131; al-Anfâl

[8]: 34; at-Taubah [9]: 9; dan masih banyak lagi lainnya).

 

Rasul saw. sering kali berdoa: “Ya Allah, Ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui.” Menghadapi mereka yang tidak tahu, tentu tidak dapat dipersamakan dengan mereka yang angkuh dan tidak mau tahu.

Di Eropa dan Amerika sebagian masyarakatnya tidak mengenal Islam dan Nabi Muhammad saw., baik karena informasi yang mereka terima adalah informasi yang disampaikan oleh lawan-lawan Islam, khususnya yang disebarkan sejak apa yang dinamai Perang Salib, maupun karena memang mereka sama sekali tidak mengetahui. Ini diperparah oleh citra buruk sementara kaum Muslim yang dewasa ini seringkali dikaitkan dengan teror dan terorisme, juga kebodohan, kemiskinan, dan fanatisme buta.

 

Betapapun demikian, agaknya tidak keliru jika dikatakan bahwa tuntunan umum menyangkut sikap menghadapi pelecehan adalah: (1) Meningkatkan informasi yang benar, serta terus berdakwah menjelaskan

ajaran Islam—dalam bentuk lisan, tulisan, dan tingkah laku—sebagai ajaran yang penuh toleransi tanpa mengorbankan akidah dan nilai-nilai Islami, dan dalam saat yang sama berpaling/menampakkan tanda-tanda tidak menyetujui sikap lawan-lawan Islam yang melecehkan itu. Ini antara lain dapat dipahami dari firman Allah: “Maka sampaikanlah olehmu secara terangterangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orangorang yang musyrik” (QS. al-Hijr [15]: 94). Juga firman-Nya: “Jadilah pemaaf/ambillah yang mudah, suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang

jahil” (QS. al-A‘râf [7]: 199).

 

Di samping tununan di atas, tuntunan umum lainnya adalah (2) menahan emosi agar tidak bertindak dengan tindakan yang dapat merugikan citra umat Islam atau jalannya dakwah. Inilah yang diperintahkan antara lain oleh QS. Âli ‘Imrân [3]: 186 yang telah penulis kutip pada awal uraian ini.

 

Dalam Tafsir al-Mishbâh, penulis mengemukakan maksud ayat tersebut sebagai berikut: (Demi Allah), sungguh kamu (semua, wahai orang Islam kapan dan di mana pun) pasti akan (diperlakukan sebagai orang yang) diuji menyangkut harta kamu (baik berupa kekurangan harta, kehilangan, atau dalam bentuk kewajiban berzakat dan bersedekah) dan (kamu juga akan diuji dengan) diri kamu, (yakni dengan luka dan pedih akibat

peperangan atau penganiayaan musuh, atau

penyakit. Bukan hanya harta dan diri, ada

yang dapat lebih dahsyat dari keduanya

yaitu) kamu (juga) sungguh pasti akan (diuji

dengan) mendengar (selain apa yang kamu

telah dengar) dari sebagian orang-orang

yang diberi Kitab sebelum kamu (yakni

pemeluk agama Yahudi dan Nasrani) dan

dari orang-orang yang mempersekutukan

Allah (yakni kaum musyrik), gangguan yang

banyak (dengan ucapan-ucapan mereka

yang melecehkan agama). Jika kamu

bersabar (yakni menahan diri menghadapi

ujian-ujian itu) dan bertakwa, (yakni

beramal sesuai petunjuk Allah dan rasul-Nya

dalam menangani dan menghadapi aneka

cobaan itu) maka sesungguhnya yang

demikian itu (yakni kesabaran dan takwa

itu), termasuk urusan yang patut ditekadkan

(untuk dilaksanakan, tidak ditunda dan tidak

pula disangsikan).

 

Terdapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari ayat di atas: Pertama: Allah menjadikan ujian dalam hal yang berkaitan dengan agama, sebagai ujian yang paling berat. Harta dan jiwa, pada tempatnya dikorbankan, jika agama telah tersentuh kehormatannya.

 

Kedua: Kendati ayat di atas menyebut

Ahlul Kitab, namun itu bukan berarti mencakup

semua penganut agama Yahudi dan Nasrani.

Dalam QS. Âli ‘Imrân [3]: 113, Allah menegaskan

bahwa: “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab

itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka

membaca ayat-ayat Allah pada beberapa

waktu di malam hari, sedang mereka bersujud.

 

Hal ini perlu digarisbawahi agar kita tidak mengeneralisir dan mempersamakan semua

penganut agama Yahudi dan Nasrani. Ketiga: Dalam konteks bersabar dan agar

emosi yang meluap tidak merugikan umat dan melecehkan agama, al-Qur’an mengingatkan

bahwa: Maksudnya: Dan janganlah kamu (wahai kaum Muslim) memaki sembahan-sembahan

(seperti berhala-berhala atau manusia betapapun agungnya) yang mereka sembah

selain Allah, (karena jika kamu memakinya) maka akibatnya mereka akan memaki (pula)

Allah dengan melampaui batas (dan secara tergesa-gesa tanpa berpikir serta) tanpa

pengetahuan. Apa yang dapat mereka lakukan dari cacian itu sama dengan apa yang telah

dilakukan oleh kaum musyrik yang lain sepanjang masa, karena) demikianlah Kami

memperindah bagi setiap umat, amal (buruk) mereka (akibat kebejatan budi mereka dan

akibat godaan setan terhadap mereka. Tetapi jangan duga mereka akan lepas dari tanggung

jawab, karena) kemudian, (yakni nanti setelah datang waktu yang ditentukan, yang boleh jadi kamu anggap lama—nanti—hanya) kepada Tuhan merekalah (yang sampai saat ini masih terus memelihara mereka), kembali mereka, (yakni pada akhirnya mereka pasti kembali kepada Allah swt. lalu) Dia (yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui itu) memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan (sambil menuntut pertanggungjawaban mereka) (QS. al-An‘âm [6]: 108).

 

Di tempat lain Allah mengingatkan bahwa: Maksudnya: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi Qawwâmîn (yakni orang-orang yang selalu dan bersungguh-sungguh menjadi pelaksana yang sempurna terhadap tugas-tugas kamu dengan menegakkan kebenaran) demi karena Allah, serta menjadi saksi-saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, (terhadap siapa pun walau atas diri kamu sendiri karena) ia (yakni adil itu) lebih dekat kepada takwa (yang sempurna, daripada selain adil. Karena itu sekali lagi berlaku adillah) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-Mâ’idah [5]: 8).

 

Keempat: Perintah bersabar, bukan berarti menerima penghinaan dan berlagak memaafkan. Sabar adalah menahan gejolak emosi/nafsu demi mencapai yang baik atau yang lebih baik. Ia tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang kuat mentalnya.

 

Sabar bukan kelemahan, sebab jika Anda tidak mengambil tindakan yang tepat karena khawatir dari siapa yang lebih kuat daripada Anda, maka itu bukanlah kesabaran. Allah pun yang seharusnya diteladani sifat-sifat-Nya—sesuai kemampuan manusia—Allah pun menyadang sifat sabar (Shabûr) yang oleh Imam Ghazali diartikan sebagai sebagai Dia yang tidak didorong oleh ketergesaan sehingga bergegas melakukan sesuatu sebelum waktunya, tetapi meletakkan sesuatu dengan kadar tertentu, dan memberlakukannya dengan aturan-aturan tertentu pula. Dia tidak menundanya dari waktu yang ditentukan, sebagaimana penundaan seorang yang malas, tidak pula mempercepat waktunya, percepatan seorang yang tergesa-gesa. Segala sesuatu diletakkan-Nya pada tempat dan waktu yang seharusnya, dan semua itu tanpa suatu dorongan yang bertentangan dengan kemauan-Nya.

 

Sifat sabar yang diajarkan ini tidak bertentangan dengan sikap tegas yang menjadi cirri Nabi dan umat Islam sebagaimana yang dilukiskan antara lain oleh QS. al-Fath [48]: 29. Sabar menanti waktu di mana peleceh akan berhenti melecehkan karena telah sadar dan juga sabar menanti waktu yang tepat untuk mencegah mereka melakukannya.

 

Jika demikian, perintah bersabar bagi manusia adalah tidak emosional, agar tidak mengakibatkan kerugian bagi agama dan umat. Nah, menghadapi kasus film Fitna, umat Islam wajar memprotes, serta wajar memutuskan hubungan harmonis dan kerja sama dengan semua pihak yang mendukung sikap pelecehan itu. Agaknya, inilah langkah yang paling tepat sebagaimana tuntunan QS. al-An‘âm [6]: 68 dan QS. an-Nisâ’ [4]: 140, sambil berusaha mengangkat persoalan ini ke tingkat yang lebih luas daripada lingkungan umat

Islam saja, yakni tidak memandang kasus tersebut sebagai persolan umat Islam versus Barat atau Kristen/Yahudi, tetapi ia adalah persoalan antara masyarakat yang berbudaya menghadapi masyarakat yang tidak berbudaya. Setiap orang, apa pun agama dan budayanya, harus dihormati sehingga seandainya pelecehan tersebut tertuju—misalnya—kepada Agama Budha atau Konghuchu, atau kepada Nabi Isa atau Musa as., maka semua yang berbudaya, apa pun agamanya harus tampil mengecam sikap tersebut. Ini sejalan dengan QS. al-An‘âm [6]: 108 yang melarang menghina dan melecehkan sembahan-sembahan kaum

musyrik sekalipun.

 

Simbol negara pun sewajarnya tidak dilecehkan, karena itu dapat mengundang masyarakat negara yang dilecehkan simbolnya itu melakukan hal serupa terhadap simbol-simbol negara kita. Yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa siapa pun yang tidak terlibat dalam pelecehan itu, harus tetap dihormati dan tidak boleh diganggu atau dilecehkan tanpa sebab karena al-Qur’an berpesan untuk tetap berlaku adil terhadap siapa pun walau terhadap kelompok yang dibenci: “Dan janganlah sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (QS. al-Mâ’idah [5]: 8).

 

Kelima: Perintah bertakwa oleh QS. Âli ‘Imrân [3]: 186, itu bukan sekadar berarti menjalankan ibadah atau tampil membela tanpa pertimbangan! Takwa dalam pengertian kebahasaan adalah menghindar dari bahaya/bencana. Jika demikian, dapat dikatakan bahwa perintah bertakwa oleh ayat di atas menuntut umat Islam untuk tidak melakukan kegiatan apa pun yang dapat mengakibatkan kerugian dan bencana dalam bertakwa. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan teliti untung ruginya terhadap masyarakat, negara, lebih-lebih terhadap image agama dan ajarannya. Demikian, wa Allâh a‘lam.[]