Sabda Rasulullah saw : “Wahai Allah, maka siapapun orang yang beriman yang pernah aku mencelanya, maka jadikanlah hal itu baginya kedekatan pada Mu dihari kiamat” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الْعَظِيْمَةِ…

 

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menciptakan keluhuran dan membagi-bagikan kepada hamba-hamba-Nya, Yang Maha Melimpahkan rahmat dan Maha melimpahkannya kepada hamba-hamba-Nya, Yang Maha memilih namaku dan nama kalian untuk dilimpahi rahmat di malam hari ini dengan rahmat yang belum pernah kita terima di malam-malam sebelumnya, tambahan rahmat yang terus berlimpah dari Sang Maha pemilik rahmat, rahmat adalah paduan dari segenap kenikmatan dunia dan akhirah. Dan yang lebih daripada itu adalah kasih sayang dan cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sedemikian banyak hamba yang mendapatkan musibah dan ketika ia dilimpahi rahmah maka musibahnya terkikis, sedemikian banyak masalah yang akan datang di masa mendatang pada seorang hamba, di dunia atau di akhiratnya maka Allah singkirakan sebelum hamba-Nya mengetahui musibah apa yang akan datang kepadanya, sedemikian banyak amal ibadah yang Allah lipatgandakan pahalanya lebih besar daripada perbuatannya, sedemikian banyak pengampunan Allah limpahkan tanpa hamba-Nya tau bahwa telah Allah hapus dosa-dosanya, sedemikian banyak Allah tawarkan kelembutan yang siap dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya berupa kenikmatan dunia dan akhirah. Dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh bahwa kalau seandainya manusia itu mengetahui aib-aib dirinya yang telah ditutupi oleh Allah, niscaya ia akan menjerit dan menangis karena malu atas aib-aibnya sendiri, tanpa sempat ia memikirkan aib orang lain, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا، وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا، وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا، يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا، بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا، يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ، فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

( الزلزلة: 1-8 )

” Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya, Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji sawi) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” ( QS. Az Zalzalah:1-8 )

Allah subhanahu wata’ala telah mendatangkan gempa yang terbesar sepanjang sejarah terciptanya angkasa raya, angkasa raya dan bumi ini ditimpa gempa yang dahsyat, bumi diguncang dengan sekeras-kerasnya untuk mengeluarkan seluruh pendamannya, bumi memuntahkan jasad-jasad manusia yang pernah terkubur sejak zaman nabiyullah Adam AS hingga manusia yang terakhir dikubur di bumi ini, jasad yang telah menjadi debu dan tanah dihidupkan dan dimunculkan kembali oleh Allah, sebagaimana dijelaskan di dalam tafsir Al Imam Thabari dan lainnya, bahwa Allah subhanahu wata’ala memerintahkan hujan untuk turun ke permukaan bumi setelah kesemuanya binasa, dan yang kekal hanyalah Dzat Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

 

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

(الرحمن : 26-27 )

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” ( QS. Ar Rahman: 26-27)

Maka Allah menurunkan hujan ke bumi sehingga tumbuhlah jasad yang telah hancur menjadi debu dan tanah, seperti munculnya tubuh dari sebutir sel yang tidak terlihat mata, manusia tumbuh dalam 9 bulan dari sel yang tidak terlihat mata, seperti itulah Allah menumbuhkan kembali jasad-jasad yang terpendam di bumi. Maka bumi ini menjadi rahim atau perut yang melahirkan manusia untuk kedua kalinya kelak di hari kebangkitan. Di hari itu manusia dibangkitkan untuk menghadap Allah, dan di saat itu manusia kaget dan dalam kebingungan, atas apa yang akan terjadi padanya. Di hari itu bumi bersaksi atas semua yang pernah terjadi padanya, mulai dari nabiyullah Adam AS menginjakkan kakinya hingga manusia terakhir yang hidup di muka bumi, semua yang pernah terjadi diceritakan oleh bumi, dimana ia lahir, kapan ia baligh, dan lain-lainnya dari apa-apa yang pernah ia lakukan dan lainnya, dan setiap butir debu dan tanah yang ia injakpun menjadi saksi atas semua perbuatan baik dan buruknya, karena Allah yang menciptakan bumi memerintahkan bumi untuk mengabarkan segala sesuatu yang pernah ia ketahui selama bumi ini dicipta. Dan barangsiapa yang pernah beramal baik sekecil apapun kelak dia akan melihat balasan amalnya, dan barangsiapa yang beramal jelek sekecil apapun itu maka kelak ia akan melihat balasannya. Maka sungguh demikian banyak Allah menutupi aib-aib yang pernah kita lakukan, dan jika kita mengetahuinya niscaya kita tidak akan berhenti dari menangis. Maka dijelaskan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw, bahwa ketika engkau melihat aib orang lain maka ingatlah barangkali engkau pernah berbuat aib yang lebih besar darinya, dan kalaupun tidak, mungkin saja Allah telah mengampuni aib orang itu dan belum mengampuni aibmu yang kecil, walaupun seandainya Allah telah mengampuni aibmu yang kecil, bisa jadi Allah murka kepada mu sebab engkau terus melihat aib orang lain tanpa memperhatikan aib dirimu sendiri. Beruntunglah orang yang selalu mengingat aib-aibnya sendiri sehingga ia lupa pada aib-aib orang lain, dan sungguh merugilah orang yang selalu sibuk memikirkan aib orang lain dan ia lupa atas aibnya sendiri yang mungkin lebih besar dari aib orang lain atau Allah telah mengampuni aib orang lain namun belum mengampuni aibnya yang lebih kecil.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

 

Sampailah kita pada hadits luhur dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuntun kita apabila kita terlanjur mencaci atau mencela orang lain maka berdoalah dengan doa seperti hadits yang telah kita baca tadi :

 

اللَّهُمَّ فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْ ذَلِكَ لَهُ قُرْبَةً إِلَيْكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah, siapa saja di antara orang mukmin yang aku caci, jadikanlah hal itu sebagai sarana yang mendekatkan dirinya kepadaMu di hari Kiamat”.

Jadi kita doakan orang-orang yang pernah kita cela, atau mungkin kita terlanjur mencaci maki dan telah keluar dari mulut kita cacian atau hinaan, barangkali orang yang kita caci itu kelak menjadi orang yang lebih baik dari kita, barangkali kelak dia adalah orang yang sangat disayangi dan dikasihani Allah subhanahu wata’ala, namun kita tidak mengetahui hal itu. Dan mungkin dia mempunyai derajat sangat luhur di sisi Allah namun karena dia mencela orang lain, maka jatuhlah kehormatannya di sisi Allah subhanahu wata’ala. Allah menyayanginya namun karena ia mencela orang lain, maka Allah subhanahu wata’ala berpaling darinya dan membuat kehormatannya terjatuh di sisi Allah subhanahu wata’ala. Dan secara kasarnya kita ini selalu mencari muka di sisi Allah, bukan justru mencari muka di hadapan makhluk, maksud mencari muka disini adalah mencari kedekatan perhatian Allah. Dan sudah selayaknya kita berbuat demikian kepada Allah subhanahu wata’ala untuk didekati Allah, untuk disayangi Allah, untuk diampuni Allah, dan dimuliakan Allah, demikian indahnya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarah Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, bahwa bukan berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencela orang lain namun yang dimaksud adalah barangkali terlintas dalam hati orang tersebut untuk berbuat buruk maka Allah memberinya hidayah, atau Rasulullah ingin mengajarkan kepada para sahabat. Maka hal ini semua ulama tidak berbeda pendapat bahwa Rasulullah tidak pernah mencela orang lain. Sungguh mulianya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu pula Al qur’an Al Karim dimana setiap hurufnya adalah rahasia cinta Allah subhanahu wata’ala, sehingga sayyidina Utsman bin Affan berkata:

 

لَوْ طَهُرَتْ القُلُوْبُ لَمَا شَبِعَتْ مِنْ قِرَاءَة ِالْقُرْآنِ

“Seandainya hati itu suci,niscaya  tidak akan pernah kenyang (puas)dengan Al Qur’an.”

Jika hati manusia sedang suci dan bening niscaya dia tidak akan puas membaca Al qur’an, terus asyik ia membacanya, baik ia mengerti atau tidak mengerti maknanya, ia sudah lancar membacanya atau masih tersendat-sendat dalam membacanya. Ada diantara mereka yang membacanya masih tersendat-sendat atau masih belajar satu atau dua huruf tetapi ia asyik dalam membaca Al qur’an, ada juga yang mengerti maknanya, membaca dengan lancar dan dengan kaidah tajwid tetapi ia malas membacanya, bahkan ada yang sudah hafal Al qur’an beserta makna dan tafsirnya tetapi ia malas membacanya, sungguh jauh perbedaan antara orang yang baru belajar membaca Al qur’an dan orang yang telah lancar membaca dan memahaminya namun malas membacanya. Hadirin hadirat, Al Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail Ar salah satu keturunan ‘am Al Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawy, beliau dijuluki Jamalullail karena di malam harinya ia selalu membaca Al qur’an, dan beliau di siang harinya tidak mau membaca Al Qur’an di saat bulan Ramadhan atau beliau sedang berpuasa, maka Al Imam ditanya , mengapa di siang hari beliau tidak mau membaca Al Qur’an, beliau berkata : “Jika aku membaca Al Qur’an seakan-akan aku meminum madu maka hilanglah lapar dan hausku, dan aku khawatir tidak akan mendapatkan pahala puasa, karena aku tidak merasa lapar dan haus”, karena lezatnya membaca Al qur’an, maka beliau membaca Al Qur’an di malam hari saja, sehingga ada orang yang menangis tersedu-sedu karena mendengar bacaannya, ada pula seorang dusun yang ketika mendengar beliau membaca Al Qur’an maka ia menari karena asyiknya mendengar bacaan Al Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail. Oleh karena itu beliau disebut dengan Jamalullail karena malam-malamnya selalu indah dengan bacaan Al Qur’an Al Karim.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

 

Al Qur’an adalah rahasia cinta Allah subhnahu wata’ala, setiap kalimatnya membimbing kita agar kita lebih dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Alqamah RA berkata : “Kami telah menganggap ayat Al qur’an adalah keberkahan, sedangkan kalian menganggapnya menakut-nakuti dan membuat kerisauan”. Mereka menganggap ayat-ayat yang berupa teguran itu adalah barakah dari Allah subhanahu wata’ala, mereka menganggap semua ayat Al qur’an adalah keberkahan. Tentunya ada ayat-ayat yang menakut-nakuti, namun semakin dalam pemahaman seseorang tentang isi Al qur’an maka ia akan semakin merasa bahwa hal itu adalah rahasia kelembutan Allah subhanahu wata’ala. Diantara para salafussalih ketika mendengar firman Allah subhanahu wata’ala:

 

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

( التوبة : 24 )

“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. ( QS. At Taubah: 24 )

Apabila kesemuanya itu lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah balasan dari Allah. Maka orang yang membaca ayat ini sungguh akan sangat merasa risau karena merasa tidak boleh mencintai keluarga, pekerjaan dan lainnya, namun sebagian para salafussalih menangis ketika mendengar ayat ini, karena mereka memahami betapa besarnya cemburu Allah yang ditunjukkan di dalam ayat ini kepada mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, dengan keluarga, istri atau suami dan yang selain Allah, maka Allah menegurnya mengapa lebih cinta kepada mereka daripada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal itu adalah bentuk teguran lembut karena cemburunya Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya untuk tidak mencintai yang lain lebih daripada Allah. Maka cintailah Allah subhanahu wata’ala lebih dari segala-galanya, kemudian mencintai Rasul-Nya dan para pengikut rasul-Nya. Cinta kita kepada Rasulullah adalah untuk kesempurnaan cinta kita kepada Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi.

 

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

 

Diriwayatkan oleh sayyidina Alqamah bahwa suatu waktu beliau dan para sahabat kehausan, maka Rasulullah meminta sebuah tempat yang berisi sedikit air kemudian beliau menaruhkan tangannya di tempat itu dan terlihatlah air mengalir dari jari-jari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau berkata: “Kemarilah yang ingin mendapatkan keberkahan yang suci dari Allah subhanahu wata’ala”. Dan para sahabat pernah mendengar makanan bertasbih saat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyentuhnya. Oleh sebab itu muncul pertanyaan tentang air yang keluar di pemakaman dan lain sebagianya, semua keberkahan itu dari Allah subhanahu wata’ala dan siapapun boleh mengambil manfaat darinya, dan makam itu adalah makam Ahlullah, makam ahlusshafa, makam seorang yang mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala, orangnya sudah wafat maka Allah munculkan manfaat dan rizki berupa air yang muncul dari pemakamannya, dan hal itu merupakan keberkahan yang jelas bagi mereka asalkan mereka tidak menafikan dari memuliakan Allah, dan Yang mengeluarkan air dari tanah itu adalah Allah subhanahu wata’ala sebagaimana Allah memancarkannya dari jari-jari sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menjelaskan bahwa barakah itu dari Allah bukan dari makhluk, namun Allah munculkan melalui makhluk, mungkin melalui awan atau dari dalam tanah dan yang lainnya. Demikian indahnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga makanan yang disentuh oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam terdengar suara dzikirnya oleh para sahabat. Seluruh makhluk berdzikir kepada Allah, tetapi ketika mereka disentuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka Allah perdengarkan gema tasbih mereka kepada para sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya dan tidak pernah mencela orang lain walaupun orang itu berdosa. Ketika salah seorang dusun yang mabuk karena minuman keras maka ia diberi hukuman, namun setelah itu dia mabuk lagi dan begitu seterusnya, maka para sahabat berkata: “Laknat Allah untukmu!”, maka Rasulullah berkata: “Janganlah kalian melaknatnya, sungguh aku tau bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Namun bukan berarti jika sudah mencintai Allah dan Rasul-Nya maka boleh mabuk-mabukan. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa cinta kepada Allah dan Rasulullah itu ada tingkatan derajatnya, walaupun seseorang itu adalah orang yang banyak berbuat dosa namun cinta kepada Allah dan Rasulullah tidak bisa terhapus oleh dosa, meskipun banyak amal-amal yang terhapus sebab dosa, seperti sifat riya’, ujub dan yang lainnya hal itu bisa menghapus pahala, tetapi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak bisa terhapus walaupun dengan amal yang buruk selama tidak menyekutukan Allah subhanahu wata’ala. Dan sebagian orang berkata bahwa yang menyekutukan Allah tidak akan diampuni dosanya. Dosanya tidak diampuni jika ia wafat dalam keadaan masih menyekutukan Allah, namun jika ia bertobat sebelum ia wafat maka dosanya diampuni oleh Allah, tidak ada dosa yang tidak diampuni oleh Allah jika seseorang bertobat. Maksudnya bahwa Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan Allah; banyak orang yang wafat masih dalam keadaan banyak membawa dosa namun diampuni oleh Allah, meskipun dia akan menghadapi masalah di alam kuburnya, masalah di hisab, masalah di mizan, di neraka, namun dosa mereka akan diampuni dan mereka akan disampaikan ke surga Allah walaupun terlambat. Namun layaknya kita yang mendapatkan tawaran yang demikian luhur dari Yang Maha Luhur, maka jangan tolak keluhuran yang ditawarkan kepada kita dalam setiap detik dan saat. Renungi, tangisi dan sesali setiap nafsa kita yang lewat dalam kehinaan di masa-masa yang lalu, dan mohonlah kepada Allah agar Allah menuntun kita kepada keluhuran di setiap detik kita di masa mendatang. Jika hatimu berkata: “Aku menginginkan keluhuran, namun aku selalu terjebak dalam dosa”, maka mohonlah kepada Allah agar diberi kemudahan dan teruslah memohon kepada-Nya, karena orang memohon kepada Allah lalu ia kembali terjebak dalam dosa, berbeda dengan orang yang sombong dan tidak mau meminta kepada Allah dan hanya terus berdosa. Sebagian orang dibisiki oleh syaitan: “Jangan bertobat, jika kamu bertobat nanti kamu akan berbuat dosa lagi, maka kamu telah munafik kepada Allah”, sungguh tidak demikian, Allah subhanahu wata’ala Maha menerima taubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beristighfar 70 kali sehari kepada Allah, demikian riwayat Shahih Al Bukhari. Janganlah bosan bertobat dikarenakan terus berbuat dosa, tetapi teruslah bertobat hingga bosan berbuat dosa. Jangan dikalahkan oleh dosa, jika berbuat dosa maka bertobatlah, dan jika bermaksiat lagi dan tidak mau bertobat maka kalahlah tobat oleh dosa, jadi jika terjebak lagi dalam perbuatan dosa maka segeralah bertobat kepada Allah sampai dosa itu dikalahkan oleh tobat.

 

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang paling indah dari semua ciptaan Allah subhanahu wata’ala. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari jika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lewat maka para sahabat berdiri dan mearih tangan beliau dan mengusapkannya ke wajah mereka. Demikian perbuatan para sahabat, dan hal ini diikuti oleh salah seorang sahabat dan dalam riwayat lain adalah sayyidina Anas bin Malik yang berkata:

 

مَا مَسَسْتُ حَرِيْرًا وَلَا دِيْبَاجًا أَلْيَنُ مِنْ كَفِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا شَمِمْتُ رِيحًا قَطُّ أَوْ عَرْفًا ‏ ‏قَطُّ أَطْيَبَ مِنْ رِيحِ أَوْ ‏ ‏عَرْفِ ‏ ‏النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku tidak pernah menyentuh sutera dan pakaian sutera yg lebih lembut dari telapak tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku tidak pernah mencium bau yg lebih harum daripada bau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

 

Disebutkan dalam kitab As Syifa oleh hujjatul islam Al Imam Qadhi ‘Iyadh, bahwa Al Imam Abu Qatadah wafat dalam usia 105 tahun, namun saat wafat wajahnya seperti wajah anak yang berumur 15 tahun, karena di saat ia masih kecil wajahnya diusap oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga Abu Qatadah termuliakan dengan doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian indahnya budi pekerti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan betapa indahnya doa Rasulullah untuk kita, yang selalu mendoakan ummatnya. Mungkin tanpa kita sadari banyak perbuatan-perbutan dosa yang sudah Allah ampuni karena doa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam 14 abad yang silam. Dan mungkin aku dan kalian bukanlah orang yang bisa mencapai majelis dzikir atau ibadah lainnya karena banyaknya dosa itu, namun karena keberkahan doa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk ummatnya, maka kita dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Malam hari ini kita mendapatkan kemuliaan, semoga kemuliaan kita kekal dan abadi, semoga keluhuran yang Allah berikan kepada kita kekal dan abadi. Rabbi, sebagaimana telah Engkau perluhur kami di malam hari ini dengan majelis mulia ini maka perluhurlah kami setiap waktu dan saat hingga kami berjumpa dengan-Mu wahai Yang Maha Luhur, wahai Yang Maha Abadi, wahai Yang Maha menguasai kerajaan langit dan bumi, wahai Yang Maha memiliki setiap nafas kami, wahai Yang kami selalu meminjam setiap nafas kami, firman Allah subhanahu wata’ala:

 

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

(المدثر : 38 )

” Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya” (QS. Al Muddatssir : 38 )

Semua manusia di hari kiamat tergadaikan atas dosa-dosanya, kecuali orang-orang yang dimuliakan oleh Allah. Jadikanlah kami orang-orang yang Engkau muliakan wahai Allah, jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang tergadaikan sebab dosa-dosa kami, jangan sisakan nama satu pun dari kami yang hadir kecuali telah Engkau limpahi keluhuran yang kekal, Engkau jauhkan kami dari musibah di dunia dan di akhirah, limpahi kami dengan rahmat-Mu yang padanya, limpahkan kepada kami tuntunan rahmat-Mu yang termulia, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Sebagaimana firman-Mu:

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

( الأنبياء : 107 )

” Tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam “.(QS. Al Anbiyaa: 107)

Agar Engkau kabulkan segenap hajat kami, dan Engkau beri lebih daripada yang kami dambakan, dan jangan Engkau sisakan satupun dosa kami kecuali Engkau hapuskan, dan mereka yang mendengar lewat radio atau streaming siaran langsung di website dimanapun mereka berada, di penjuru barat dan timur maka muliakanlah mereka dengan keluhuran yang sama, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal ikram…

 

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

 

Ucapkanlah bersama-sama

 

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

 

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

 

Saya mohon maaf atas ketidakhadiran saya di majelis malam Minggu yang lalu di wilayah Kalimalang, insyaallah ada kesempatan lagi kunjungan berikutny. Dan yang perlu saya sampaikan slesai kita mendengarkan qasidah pujian kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana perbuatan yang dilakukan di masa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun zaman sekarang hampir tidak dikenal lagi dan bahkan dianggap bid’ah. Sungguh membaca qasidah di dalam masjid adalah sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memuji sayyidina Hassan bin Tsabit RA yang membaca nasyidah/qasidah dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid An Nabawy, dan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat maka sayyidina Umar bin Khattab menegur sayyidina Hassan bin Tsabit karena membaca qasidah di dalam masjid dengan berkata: “Apakah harus di tempat ini untuk membaca qasidah?”, maka sayyidina Hassan bin Tsabit berkata: “Dulu aku pernah membaca qasidah disini, dan di saat itu ada orang yang lebih mulia dari engkau”, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka sayyidina Umar terdiam dan memberikan izin kepada sayyidina Hassan bin Tsabit untuk membaca qasidah di masjid. Hal ini adalah sesuatu yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah berdoa untuk sayyidina Hassan bin Tsabit dengan doa:

 

اَللّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوْحِ اْلقُدُسِ

” Wahai Allah bantulah ia dengan (kekuatan) Jibril AS”

Dikarenakan ia memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa memuji Rasulullah ?, karena orang yang memuji beliau adalah memuji utusan Allah, sebagian orang mengatakan bahwa memuji makhluk adalah hal yang syirik, sungguh hal yang keliru. Kita memuji makhluk yang dicintai oleh Allah adalah hakikat tauhid karena orang yang mengatakan bahwa memuliakan makhluk itu adalah hal yang syirik maka sungguh ia telah mengikuti faham iblis, karena iblis tidak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, iblis hanya mau sujud kepada Allah saja dan tidak mau sujud kepada nabi Adam padahal Allah memerintahnya. Kita pun demikian, kita tidak sujud kepada makhluk namun kita memuliakan orang yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, dan makhluk yang paling dimuliakan Allah adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula dengan Hadrah, diriwayatkan di dalam shahih al Bukhari dan lainnya bahwa ketika Rasulullah disambut dengan Thala’al badru ‘alaina, maka Rasulullah tidak melarangnya. Hadirin hadirat, selanjutnya kita akan melakukan shalat ghaib permintaan dari Hubabah Nur, istri guru mulia kita dan juga instruksi beliau untuk melakukan shalat ghaib atas As Syaikh Abdullah bin Husain Al Ja’di At Ta’izi, beliau adalah salah seorang ulama besar di wilayah Taiz Yaman, beliau sangat sepuh dan juga dicintai oleh guru mulia kita, beliau wafat beberapa hari yang lalu. Shalat ghaib akan dipimpin oleh Ad Da’iilallah Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, dan doa penutup oleh Al Habib Sofyan Basyaiban, selanjutnya kita membaca qasidah bersama, tafaddhal masykura.