Murid (Pemuda/i) dan Guru merupakan dua sosok seseorang yang saling terkait. Ada Guru ada pula Murid (Pemuda/i). Mereka keduanya sama-sama seorang pecinta Ilmu. Sama-sama saling memperkaya ilmu dan sama-sama saling mencintai majelis keilmuan.

Posisi guru terhadap Murid (Pemuda/i) ibarat seseorang yang lebih di..(dihormati,diteladani, dituakan etc). Sedangkan posisi Murid (Pemuda/i) terhadap Guru ibarat seseorang yang mesti lebih me..(menghormati, meneladani).

 

Guru tidaklah pula semata seseorang yang berada di luar dari hubungan darah dalam tautan sebuah keluarga. Melainkan guru dapat berupa orangtua kita. Kakak kita maupun siapapun seseorang disamping kehidupan kita.

 

Dalam kenyataan&kebijaksanaan dalam menyikapi sebuah kehidupan. Posisi Murid (Pemuda/i) tidaklah mesti selalu diayomi,dan harus terus berada dibawah bayang-bayang guru.

 

Seorang Murid (Pemuda/i), pada masa nya dan suatu waktu nanti. ia kelak akan dapat mengaplikasikan ilmu-nya yang telah dipelajari selama ia belajar,berguru dan mengabdi kepada seseorang guru maupun orangtua kita sendiri untuk nantinya dapat diaplikasikan dalam sebuah kehidupan serta untuk kemashlahatan masyarakat maupun ummat.

 

Saya menyebutnya kesemua hubungan antara seorang murid dan Guru, serta seorang anak dengan seorang Orangtua kesemuanya ini dengan istilah” Guru ku, Orangtuaku sang Inspirasi Hidup ku”.

 

Inspirasi Hidup adalah merupakan sebuah Keilmuan. Keilmuan bisa didapat dengan belajar sungguh-sungguh bersama siapapun baik dengan Guru maupun Orangtua.

 

Wahai Guru Ku, Orangtua ku sesungguhnya engkaulah salah satu bagian dari sang Inspirasi Hidupku.

 

Belajarlah, karena tak seorangpun dilahirkan berilmu! Dan tidaklah orang berilmu spt orang yg bodoh. Biarpun petinggi bangsa,tapi tak berilmu, ia kecil ketika pasukan mengepungnya. Biarpun orang kecil, tapi berilmu, ia besar ketika banyak orang merujuk kepadanya. Tak seorangpun yang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan jujur kecuali ia pasti meraihnya,kalau ia tidak meraih semuanya,ia pasti meraih sebagiannya.

 

SEJARAH pun Mengisahkan…

#

Kagum mengagumi antara seorang Murid (Pemuda/i) dan guru pernah dikisahkan kala itu, Imam Syafi’i (Seorang Ulama Fiqih (hukum Islam) yang terkenal dan mempunyai pengikut yang ramai di Negara-Negara yang ramai penduduk Islamnya terutama di Indonesia dan Malaysia) terhadap sang guru imam Malik bin Anas

 

Kala itu, Imam Syafi’i menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.”

 

Beliau juga menyatakan kekagumannya kepada Imam Malik bahwa “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”

Dari berbagai pernyataan beliau dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah.

 

Sebaliknya, sang guru Imam Malik bin Anas begitu mengagumi tingkat kecerdasan syafi’i. Dikisahkan beliau (Imam Syafi’i) mampu menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’. kitab Al Muwatha’ karangan imam malik yang berisikan 1.720 hadits pilihan dihafalnya di luar kepala.

 

Tingkat kecerdasan beliau tampak sejak Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab. Dikisahkan pula saat berusia 9 tahun, beliau telah menghafal seluruh ayat Al Quran dengan lancar bahkan beliau sempat 16 kali khatam Al Quran dalam perjalanannya dari Mekkah menuju Madinah.

Imam An-Nawawi pun pernah berkata, ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya Imam Asy-syafi’i adalah termasuk manusia pilihan yang mempunyai akhlak mulia dan mempunyai peran yang sangat penting dalam sejarah islam. Pada diri Imam Asy-Syafi’i terkumpul berbagai macam kemuliaan karunia Allah, di antaranya nasab yang suci bertemu dengan nasabnya Rasulullah dalam satu nasab dan garis keturunan yang sangat baik semua ini merupakan kemuliaan paling tinggi yang tidak ternilai dengan materi.

 

Di kesempatan dan kisah lainnya, keteladanan seorang ibu membuat kagum sang anak. Dikisahkan sewaktu kanak-kanak seorang syeikh Abdul Qadir Jaelani(seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Serta banyak memiliki keutamaan dan karamah) pernah diajari oleh ibunya tentang kejujuran, bersikap benar, dan tidak berbohong dalam aplikasi kehidupan. Pesan sang bunda itu ia pegang teguh selama hidupnya.

 

Pada usia 8 tahun, Abdul Qadir meninggalkan Jilan menuju Bagdad dengan bekal dari ibunya, berupa 40 keping uang emas, warisan ayahnya, Shalih Musa Zanki Dausath. Begitu jujurnya, di perjalanan ia sempat hendak dirampok, dan dengan jujur ia mengatakan bekal yang ia bawa ada dalam jahitan kain. Kecerdasan beliau (syeikh) pernah dikisahkan bahwa Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

 

Di lain hal, Sayyid Quthb (ulama besar Mesir) pernah mengisahkan kekagumannya terhadap sang Ibu yang telah mencontohkannya dalam cerminan kehidupan sehari-harinya.Di dalam salah satu tulisannya, Sayyid Quthb menulis, “Dimana saja saya bermain, terdengar ibuku sedang membaca Al-Qur’an.” Oleh karenanya saudara-saudara kandung (termasuk) Sayyid Quthb juga merupakan para penghapal Al-Qur’an. Muhammad Quthb, Aminah Quthb dan Hamidah Quthb, semuanya merupakan hafidz Al-Qur’an (hapal Al-Qur’an)

 

***

 

Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS.39 : 09)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadalah: 11)

 

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu mengatakan “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

 

Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Murid (Pemuda/i) terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu. Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a. yang menyatakan: “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.” Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a., yang pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjid ku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”

 

” Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya itu tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka ” [Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 2674]

 

“ Sesungguhnya, semua pekerjaan itu sesuai dengan niatnya dan setiap yang diberikan ganjaran sesuai dengan niat perbuatannya ” (HR. Bukhari)

 

“ Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya dilakukan untuk mencari keridhoan Allah SWT, namun ia mempelajari ilmu-ilmu itu untuk memperoleh harta-harta dunia, maka ia tidak akan mencium wewangian surga pada hari kiamat ” (HR Abu Dawud dan Al Hakim)

 

“Ilmu itu laksana lemari (yang tertutup rapat ) dan kunci pembukanya adalah pertanyaan.Oleh sebab itu bertanyalah kalian karena sesungguhnya  dalam tanya jawab diturunkan 4 macam pahala,yakni untuk penanya,orang yg berilmu(yg sedang menjawab pertanyaan),para pendengar dan orang yang mencintai mereka.” (HR.Abu Nu’aim).

“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.” [al Hadits].