A’uudzuu bi-Llaahi minasy-syaithaan-ir-rajiim

Bismi-Llaah-ir-Rahmaan-ir-Rahiim

Laa ilaaha illal-Laah Muhammad-ar-Rasulullah

 

Qul inkuntum tuhibbuunallaaha fat tabi’uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum wallaahu ghafuurur rahiim.

(artinya) “Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.'” (QS 3:31)

 

Banyak hal yang dapat diikuti, diteladani dari Rasulullah Shalla-Llaahu ‘alayhi wa sallam. Salah satunya adalah Beliau selalu bicara yang baik-baik, dan selalu berkata benar. Beliau selalu menyampaikan hal-hal yang mendekatkan penyimaknya kepada Allah Subhaana wa ta’aalaa.

 

Sabda Nabi Saw., “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurayah ra. dalam Shahih al-Bukhari no.6475, Shahih Muslim no.47 (74), Sunan at-Tirmidzi no.2500, dan Sunan Abu Dawud no.5154.

 

Tapi syaithan tidak diam diri. Ia berbisik dalam dada anak-anak Adam, “Tak perlulah begitu, sekali-sekali bicaralah yang ngawur, sekali-sekali bicaralah hal-hal yang tidak baik, itu tidak apa-apa.” Maka kita harus katakan: Tidak!! (dalam hati) terhadap ajakan halus syaithan itu jika kita memang benar-benar mencintai Allah, maka kita harus ikuti, teladani kekasih-Nya, Nabi-Nya, Rasulullah saw., yaitu berbicara yang baik-baik atau lebih baik diam saja. Atau berdoalah dalam hati:

 

Qul a’uudzu birabbin-naas malikin-naas ilaahin-naas min syarril-waswaasil-khannaas alladzii yuwaswisu fii shuduurin-naas minal-jinnati wan-naas.

“Katakanlah: “Aku berlidung kepada Rabb (Pemelihara, Penguasai) manusia. Raja (Pemilik) manusia. Tuhan (Yang kepada-Nya) manusia (memohon perlindungan). Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan, keburukan) ke dalam dada manusia, melalui (perantara) jin dan manusia.” (QS 114:1-6)

 

Syaithan selalu mengajak kita dengan sangat-sangat halus. Sehingga banyak dari kita tidak merasa bahwa itu adalah ajakan syaithan yang terkutuk. Itu mengapa perlunya Dzikru-Llaah (Mengingat Allah). Makna dzikru-Llaah bukan melafazkan selalu kalimat-kalimat tahmid, tahlil, tasbih, istighfar dan lain-lain. Tapi dzikru-Llaah adalah selalu ingat dalam hati, pikiran, dan tindakan kita, sadar dalam tiap nafas kita bahwa DIA “Allah” selalu dekat, selalu menyertai, dan selalu mengawasi kita.

 

Laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaara wa huwal lathiiful khaabiir.

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala sesuatu; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Awas (terhadap segala sesuatu).” (QS 6:103)

 

Maka jagalah kata-kata kita bila berbicara, berbicaralah yang baik-baik, atau bila belum sanggup, lebih baik diam saja. Sabda Nabi saw., “Siapa yang diam (dari kata-kata dan hal-hal yang tidak baik) pasti selamat (di Hari Akhir nanti)”. Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah ra. dalam Sunan at-Tirmidzi no.2500 dan Sunan Abu Dawud no.5154.

 

Inilah Adab (Etika) berbicara bagi siapa saja yang ingin mendapat syafa’at Nabi saw. di yaumil-akhir nanti. Qul inkuntum tuhibbuunallaaha fat tabi’uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum wallaahu ghafuurur rahiim.

 

Sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya orang yang paling kucintai dan paling dekat tempat duduknya dariku di antara kalian pada hari kiamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya.” Diriwayatkan oleh Jabir ra dalam Sunan at-Tirmidzi (no.2018), Hadits hasan.

 

“Tidak ada sesuatu yang diletakan di timbangan yang lebih berat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia pasti akan sampai pada derajat orang yang selalu puasa dan shalat.” (Shahih Sunan at Tirmidzi no.2003 dari Sahabat Abu Darda’ ra).

 

Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa-ilam taghfir-lanaa watarhamnaa lanakuunanna minal-khaasiriin (QS: 7:23)

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wafil-aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaaban-naar (QS 2:201)

 

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shallayta ‘alaa Ibrahiima wa ‘alaa aali Ibrahiim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidun majiid.