Latest Entries »


Obrolan cinta seorang muslim, komunis dan ateis

Kala itu di malam yang cukup dingin di bawah pohon tak bernama obrolan pun dimulai dengan hati yang sepi tanpa cinta dari orang yang dicintai, tiga aliran tersebut yaitu muslim (M) komunis (K) dan ateis (A).

Lanjut cerita A berucap “tujuan kita hidup tiada lain adalah untuk dapat bersama orang yang dicintai” dengan penuh penghayatan dia ucapkan.

Nampak keningnya membayangkan masa lalu yang menimpanya itu—mungkin, berdasarkan data empiris A mengalami kegalauan hati semenjak ditinggal orang yang dicintainya mungkin karena ia tidak melakukan penjagaan yang signifikan dari awal pendekatan sampai menjalin kasih ditambah dengan tampilan apa adanya serta perkataan idealis menurut sudut pandang dirinya sehingga pasangannya syok dan tak mengerti sebagaimana kebanyakan orang mengerti, harusnya ia terlebih dahulu mengikat pasangannya tersebut dengan grativikasi atau bisa juga dengan memainkan fluktuasi emosi dan manejemen konflik sehingga hubungan tidak berkesan hambar, sangat di maklum bahwa A seorang kutu buku yang memandang kehidupan sebagaimana yang ditulis dibuku tanpa mau membagi dan membuka pikiran dan hatinya sehingga terjebak dalam persepsi sendiri, ia selalu berpendapat bahwa esensi lebih dahulu kemudian diikuti dengan eksistensi.

M juga menambahkan “apalagi jika kau telah mencapai cinta akan Rasul dan Allah SWT”.

Rindunya umat muslim terhadap sosok pemimpin yang tulus penuh kasih sayang, manusia yang berhati malaikat, merubah akhlak manusia menjadi bermoral yaitu Muhammad SAW dengan kelembutan hatinya yang akan bergetar kala berhadapan apalagi mendengar suaranya sungguh tak terbayang nikmat yang kuasa, betapa bahagia di dunia tiada berarti, lidah yang tiada henti mengucap shalawat menyejukan jiwa yang mengucap maupun yang mendengar terimakasih pada Tuhan yang agung Allah SWT yang dengan sifat rahman, rahimNya memberi nikmat islam bagi kaum muslim.

Mendengar kegalauan A dan cinta M yang transenden membuat K berkomentar “selain cinta terhadap sesama mahluk ciptaanNya manusia juga ternyata berkewajiban cinta terhadap penciptaNya, dapat disimpulkan sama rasa dan rata tanpa adanya klas sebagai suatu pembeda” namun buah pikir dari K tidak semuanya mengikuti komunisme hanya hal-hal yang menurutnya perlu diambil saja karena K bagian dari apa yang dimaksud Mark.

Komunisme berlandaskan pada materialisme dialektika dan histori yang tidak memberikan takhayul, mitos dan agama bagi pengikutnya karena menurut mereka merupakan suatu hal yang dianggap doktrin dan berpendapat bahwa agama merupakan candu sehingga manusia buntu dalam berfikir karena angan-angan yang tidak rasional, komunis merupakan perjuangan klas sebagai antitesis dari kapitalis mereka meyakini untuk menjadikan tatanan  sosial masyarakat yang lebih baik harus dengan bersatunya buruh maupun petani dan K sebagai politbiro yang ikut serta dalam menjalankan roda pemerintahan nantinya, ajaran haluan kiri ini dituliskan oleh Karl Mark dan Friedrich Engels.

Sangkalan K terhadap M membuat perbincanganpun berlanjut “akan tetapi di surga nanti masih ada klas atau tingkatan, berarti di surga ada diskriminasi juga hahaha…”

A langsung menambahkan “di surga juga kenikmatan tidak ada habisnya juga kan?”

Mulailah M menjawab pertanyaan “jika dibandingkan dengan surga maka  menatap Allah itu puncak dari kenikmatan yang tiada habisnya”kemudian M berlalu meninggalkan zona obrolan tanpa menjawab diskriminasi yang terjadi di surga tadi.

Mungkin ilmu ketiga aliran ini tidak begitu cukup mumpuni dalam menyatakan pertanyaan dan pernyataan karena suatu yang bersifat metafisik bertolak belakang dengan logika, rasionalitas tidak akan menguak misteri dari metafisik sebaliknya juga metafisik yang tidak rasional, kita ambil saja salah satu contoh perdebatan malaikat ketika bertanya pada Allah, malaikat yang saat itu menanyakan kenapa Allah menciptakan manusia yang nantinya akan membuat kerusakan di bumi dan Allah menjawab “Aku lebih tahu dari apa yang tidak kamu tahu” kemudian Allah menyuruh Adam untuk menyebutkan nama benda singkat cerita Adam pun bisa menyebutkan benda tersebut kemudian malaikat mengerti nilai implisit yang Allah tunjukan.

Itulah salah satu hikmah yang ditunjukanNya namun masih banyak lagi hikmah yang belum terungkap maupun yang tidak akan dapat terungkap. Perbincangan dilanjut walau tanpa M kemudian obrolan berlanjut pada kegalauan hati

“kenapa orang yang aku sayangi tidak mencintaiku?  dan dari mana asalnya cinta itu?, kenapa meski cinta bila tak bias saling mencintai?” K terus menggerutu

ahhh …itu suatu hal yang nihil kalau ujung-ujungnya hati karena sifatnya metafisis” jawab A sama kesalnya.

Bayangkan saja alangkah indahnya jika hal yang kita inginkan dapat kita miliki tidak ada rasa benci, putus asa, dan prasangka namun segala bentuk emosi yang ada di dunia merupakan tanda bahwa hidup penuh dengan kehidupan dan kehidupan terasa hidup karena telah menjadi hukum di dunia fana ini kenikmatan itu dapat dirasa ketika sudah terlepas dari kepedihan-kepedihan yang mengikat.

Obrolan pun berakhir tanpa hasil dan meninggalkan pertanyaan yang tak bisa terungkap, namun itulah hidup seperti yang ditulis seorang filsuf hidup itu harus selalu bertanya jika tidak bertanya untuk apa kita hidup.

Kepada manusia yang menjadikan agama sebagai Tuhan  sesungguhnya kau tidak berhak mengatakan benar dan salah jika “benar” itu masih bisa dibantah dengan rasionalitas maka bukanlah hal yang absolut dan suatu hal yang “salah” dapat dibela dengan rasionalitas maka kemungkinan itu hal yang benar.

Maka jangan saling menghujatlah kita karena masing-masing manusia mempunyai saksi kelak dihari pembalasan dan kelak akan terjawab semua pertanyaan di dunia, ketika mulut dikunci, tangan dan kaki yang bicara dituliskan bahwa telinga, mata dan alat indera lain pun ikut bicara. Jangan kau takabur wahai manusia “beragama” jangan-jangan otak kita nanti yang bicara dan Allah SWT pasti tahu apa yang dipikirkan ateis maupun komunis atau siapa tahu mereka lebih dekat kepada Tuhannya lewat pikirannya, dalam ajaran islam dituliskan shalat untuk mencegah keji dan mungkar dan karena rahmatNya engkau masuk surga.

Wallahu A’lam bishawab


       “Buat apa menulis ?” Itu kata pertama yang muncul dibenakku saat pemateri menyampaikan tentang manfaat menulis. Kata demi katapun disampaikan tentang bagaimana cara menulis ditambah hal yang empiris mengenai orang-orang yang sangat berpengaruh karena tulisannya semisal Pramoedya Ananta toer dengan bukunya tetralogi buru yang salah satunya berjudul “Bumi manusia” “siapa tuh….?”bisikku dalam hati, Ahh….aku dengarkan saja —walau begitu bingung dan naifnya aku—mengangguk-ngangguk seperti mengerti saja. Jarum jam pun terus berganti tak terasa matahari mulai sembunyi di balik gunung itu seperti lelah memandang  bumi semenjak jam tujuh pagi. Dan materi pun selesai juga, kemudian pemateri menutup dengan kalimat-kalimat motivasi pada kami, “Kita harus…blabla….blibli…, rasa ngantuk ini terus menempel di otakku yang tak bisa mampu lagi tuk berpikir “ ayo cepatlah selesaikan materinya” bisikku pada kenalanku (istilah penulis untuk orang yang belum mengatakan bersedia menjadi teman—pen) yang duduk di sebelahku, dengan diam ia menjawab.

Dan akhirnya pemateri pun meninggalkan tempat, Setelah itu kami diberi arahan oleh panitia dan kami menyusul meninggalkan ruangan, kemudian beristirahat untuk mendinginkan kepala serta berbincang-bincang seputar materi yang telah disampaikan tadi. “kenapa, kelihatannya ngantuk sekali ya? Tanya kenalanku “iya” jawabku sambil tersenyum dan perbincanganku pun hanya begitu saja tak banyak kata yang aku ucap, kemudian kuberserah diri pada lantai yang penuh debu. Sambil melihat atap-atap langit di ruangan tempat istirahat dan aku berpikir “apa tujuan orang untuk menulis ? apa menariknya?” Keluh kesahku pada diri sendiri dan terbesit rasa ingin secepatnya meninggalkan tempat ini saja. Singkat cerita semua agenda acara yang diikuti telah selesai dan semuanya pulang ke rumah masing-masing dengan wajah yang sumringah walau ada sebagian lagi dengan wajah penuh lelah seperti menyesali telah ikut acara ini.
Aku jalani kehidupanku kembali seperti biasanya namun masih sedikit rasa penasaranku tentang aktivitas menulis itu. Disela waktu yang kosong akupun mencari di internet siapa sosok penulis bernama Pram itu yang begitu heroiknya melakukan pencerahan pada semua manusia melalui tulisan-tulisan dengan menghasilkan karya-karya yang begitu melegenda. Setelah membaca dari berbagai sumber dan berbincang dengan kenalanku  akupun semakin tahu siapa sosok Pram sebenarnya, beliau adalah seorang sastrawan sekaligus tokoh revolusioner namun dalam melakukan perubahan tidak dengan kekerasan melainkan dengan penyadaran berpikir dan tulisan sebagai senjatanya, itu kiranya yang aku tangkap. Hal ini menjadi suatu pengetahuan yang baru dalam hidupku bahwa berjuang tidak harus menunmpahkan darah akan tetapi bisa dilakukan dengan cara-cara intelektual.

Setelah perbincangan selesai, akupun masih tidak tahu apa tujuanku untuk menulis. Kemudian aku dapatkan jawaban dari kenalan-kenalanku ada yang menjawab seperti ini “ada orang yang jika bicara tidak dimengerti bahkan sampai ditertawakan itu karena ia dalam berbicara kurang sistematis namun bisa jadi ia pandai dalam menulis sehingga orang bisa mengerti apa yang dimaksudnya”ujarnya sambil menghisap sebatang rokok dan memuntahkan asap di sekitar tempat duduk orang-orang. Ada juga yang menjawab “seorang pendiam merasa tidak nyaman berada dalam keramaian namun ia juga manusia yang ingin diakui keberadaannya di dunia sehingga ia membuat tulisan yang seolah-olah berbicara sekaligus sebagai bentuk eksistensi dirinya”. “…Oohh!” gumamku pelan,ada benarnya juga ketika sebagian orang malu dan takut dalam menyampaikan apa yang diinginkannya mereka megungkapkan kasih sayang, cacian dan kritik lewat tulisan, kita juga dapat melihat diberbagai media sosial orang tidak malu dan tidak takut lagi untuk membagi rasa senang, duka dan berbagai macam bentuk emosi. Kalau menyimpulkan apa yang dua orang tersebut katakan berarti “Tuhan itu kaku dalam berbicara kalau tidak Dia pemalu karena tidak pernah bicara langsung tetapi dituangkan dalam kitab-kitab suciNya”…. “Astagfirullah!”…. sambil ku menghela napas, “kenapa aku berpikiran seperti itu” dan saat itu terngiang apa yang telah kudengar dari para ulama dan berbagai buku yang telah kubaca bahwa “suatu yang bersifat metafisik adalah hal transenden yang tidak terjamah oleh logika karena merupakan sesuatu di luar nalar manusia dan mungkin bisa dirasa dengan iman”. Jika kita bertafakur atau melakukan kontemplasi maka akan terlihat tanda-tanda kebesaran Tuhan namun sifatnya implisit seperti contoh ‘Tuhan saja menulis kenapa kita tidak’ dan masih banyak lagi yang belum pernah terungkap. Seperti kalimat berikut ini yang ditulis oleh Pram  “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, hal. 352)”, kalimat tersebut mengandung makna implisit yang sangat dalam dapat pula diartikan seperti ini ‘seandainnya saja Tuhan tidak ditulis maka umatnya tidak akan tau bahwa Tuhan itu ada’. Bukan hanya manusia saja yang menulis para malaikat pun menulis amal baik dan perbuatan manusia ketika hidup sebagai laporan pertanggung jawaban manusia di hadapan Tuhannya nanti dan laporan malaikat terhadap tugas dari Tuhan.
Memang susah dalam memulai segala sesuatu, seperti halnya saat kita akan memulai sebuah tulisan takut tidak bagus, tidak nyambung, dan masih banyak alasan lain. Padahal semua itu hanya suatu alasan sepele yang menghambat kreatifitas kita saja, niat kita untuk menulis bukan untuk dipuji atau ingin mendapat suatu penghargaan tapi sebagai eksistensi bahwa kita mahluk yang pernah ada di dunia ini sebagai pembeda dari mahluk-mahluk lain. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menulis, jangan malu atau takut  untuk menulis walau menulis butuh keberanian tapi keberanian itu tidak akan ada tanpa kita yang memulai.

Pengertian Asyura


Imam Al-Qurtubhi menyebutkan bahwa Asyura berasal dari kata Asyara atau Asyirah yang berarti bilangan ke sepuluh.
Penggunaan kalimat Asyura berfungsi sebagai mubalaghah dan ta’dzim yang ebrabrti pengangungan.

Zain bin Munir menyebutkan bahwa dikatakan Asyura memiliki makna hari ke sepuluh dari bulan Muharram.

Puasa Asyura.
Secara istilah, puasa Asyura adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram pada kelender Islam Hijriyah.
Dan inilah pendapat yang dipegang oleh para ulama salaf dan khalaf. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Said bin al-Musayyib, al-Hasan al-Basri, Malik, Ahmad, Ishaq danmasih banyak lagi.

Mari kita persiapkan diri untuk berpuasa Asyura pada tanggal 9 dan 10 Muharam (Mazhab Imam Syafi’i) yang akan datang sebentar lagi


Bulan Muharam adalah bulan keberkahan dan rahmat, karena dari bulan inilah berlakunya segala kejadian alam ini. Bulan Muharam juga merupakan bulan yang penuh sejarah, dimana banyak peristiwa yang terjadi untuk menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang Allah SWT kepada makhluk-Nya.

Pada bulan Muharam, Allah SWT juga telah memuliakan para Nabi dengan sepuluh kehormatan.
Setidaknya ada beberapa Nabi yang berhasil Uswah Islam himpun.

Peristiwa Bersejarah 10 Nabi pada 10 Muharam
1. Nabi Adam as.
Setelah beratus-ratus tahun lamanya Nabi Adam as meminta ampunan dan bertobat kepada Allah SWT, maka pada hari yang bersejarah yaitu tanggal 10 Muharam Allah SWT telah menerima taubat Nabi Adam as.

Inilah salah satu penghormatan kepada Nabi Adam as.
Ratusan tahun bertobat..
Begitu lama sekali Nabiyullah Adam as melakukan tobat ini.

2. Nabi Idris as.
Pada tanggal 10 Muharam, Nabi Idris as telah dibawa ke langit sebagai tanda bahwa Allah SWT telah menaikkan derajatnya beliau.

3. Nabi Nuh as.
Pada tanggal 10 Muharam, perahu Nabi Nuh as mulai berlabuh, karena banjir yang melanda seluruh alam di mana hanya ada 40 keluarga saja yang ikut.

Kita ini merupakan anak cucu dari 40 keluarga tersebut, dan ini merupakan penghormatan kepada Nabi Nuh as karena 40 keluarga ini saja yang selamat dan dipilih oleh Allah SWT.
Selain 40 keluarga itu, mereka adalah orang-orang yang ingkar kepada Nabi Nuh as.

4. Nabi Ibrahim as.
Pada tanggal 10 Muharam, Nabiyullah Ibrahim as diangkat sebagai kekasih Allah (khalilulah) dan juga hari dimana Nabi Ibrahim diselamatkan dari api yang dinyalakan oleh Raja Namrud.

Nabi Ibrahim as diberi penghormatan dengan cara Allah memerintahkan kepada api supaya menjadi dingin dan tidak membakar Nabi Ibrahim as, hingga selamatlah Nabi Ibrahim as dari kekejaman Namrud.
Sungguh sesuatu yang diluar nalar manusia, namun begitulah adanya, api dicipta oleh Allah SWT dan Allah sajalah yang mampu menundukkannya.

5. Nabi Daud as.
Pada tanggal 10 Muharam, Allah SWT menerima taubat Nabi Daud as.
Seperti riwayat yang telah ada bahwa Nabi Daud as ini sudah memiliki istri 99 orang, namun karena masih ingin memiliki istri lagi, maka istri orang hampir saja direbutnya.

Untung saja Nabi Daud as segera ditegur oleh Malaikat yang diutus oleh Allah SWT. Malaikat ini menyamar sebagai manusia bisa dan menyindir atas perbuatan Nabi Daud as.
Oleh karenanya, sadarlah Nabi Daud as atas perbuatannya dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Sebagai penghormatan kepada Nabi Daud as, maka Allah SWT mengampuni beliau pada tanggal 10 Muharam.

6. Nabi Isa as.
Pada tanggal 10 Muharam, Allah SWT mengangkat Nabi Isa as ke langit. Dan Allah SWT menukar Nabi Isa as dengan Yahuza.
Ini adalah suatu bentuk penghormatan kepada Nabi Isa as dari kekejaman kaum Bani Israil.

7. Nabi Musa as dengan tongkat yang menjadi ular besar.
Pada tanggal 10 Muharam, Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa dari kekejaman raja Fir’aun dengan mengaruniakan mukjizat.
Mukjizatnya adalah tongkat yang dapat menjadi ular besar yang memakan semua ular-ular para ahli sihir Fir’aun.

8. Nabi Musa as dengan tongkat Membelah Lautan.
Pada tanggal 10 Muharam, Nabi Musa as diberi mukjizat untuk membelah lautan untuk dilalui tentara Nabi Musa as dan pada tanggal itu pula Fir’aun ditenggelamkan di tengah lautan.
Mukjizat yang dikaruniakan Allah SWT kepada Nabi Musa as ini merupakan satu penghormatan kepada Nabi Musa as.

Nabi Musa as dengan Haman dan Qarun.
Pada tanggal 10 Muharam, doa Nabi Musa as untuk mengubur semua harta Qarun dikabulkan oleh Allah SWT.

9. Nabi Yunus as.
Pada tanggal 10 Muharam Nabi Yunus as telah dikeluarkan dari perut ikan Nun setelah berada dalam perut ikan selama 40 hari.
Allah SWT telah memberikan hukuman secara tidak langsung kepada Nabi Yunus as dengan cara ikan Nun menelannya.

Namun pada akhrinya Allah SWT menerima taubat beliau dan mengeluarkannya dari perut ikan itu.

10. Nabi Sulaiman as.
Pada tanggal 10 Muharam, Allah SWT telah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman.
Tanggal itu merupakan suatu penghormatan kepada beliau. Akhirnya sebagai bentuk rasa syukur, Nabi Sulaiman berpuasa dan beriibadah kepada Allah SWT.

Itulah berbagai peristiwa bersejarah para nabi yang terjadi pada bulan Muharam.
Jadi sangat wajar jika umat islam kemudian berpuasa karena menghormati berbagai peristiwa positif tersbut.

Masalah Warisan


Kitab Al-Faraidh (Warisan)

PENGERTIAN FARAIDH

-Faraidh adalah bentuk jama’ dari kata fariidhah. Kata fariidhah terambil dari kata fardh yang berarti taqdir, ketentuan. Allah swt berfirman:

“(Maka bayarlah) separuh dari mahar yang telah kamu tentukan itu.” (QS al-Baqarah: 237).

Sedang menurut istilah syara’ kata fardh ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris.

PERINGATAN KERAS AGAR TIDAK MELAMPAUI BATAS DALAM MASALAH WARISAN

-Sungguh bangsa Arab pada masa Jahiliyah, sebelum Islam datang memberi hak warisan kepada kaum laki-laki, dan tidak diberikan kepada perempuan, dan kepada orang-orang dewasa, dan tidak diberikan anak-anak kecil.

-Tatkala Islam datang, Allah Ta’ala memberi setiap yang punya hak akan haknya. Hak-hak ini disebut “Wasiat dari Allah” (QS an-Nisaa’: 12). dan disebut pula “Faridhah, ketetapan dari Allah” (QS an-Nisaa’: 11). Kemudian dua ayat tersebut dilanjutkan dengan masalah peringatan keras dan ancaman serius bagi orang-orang yang menyimpang dari syari’at Allah, khususnya dalam hal warisan. Allah swt berfirman:

“(Hukum-hukum tersebut) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah, barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkanya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya adzab yang menghinakan.” (QS an-Nisaa’: 13-14).

HARTA MAYIT YANG SAH MENJADI WARISAN

-Manakala seseorang meninggal dunia, maka yang mula-mula harus diurus dari harta peninggalannya adalah biaya persiapan jenazah dan penguburannya kemudian pelunasan hutangnya, lalu penyempurnaan wasiatnya, lantas kalau masih tersisa harta peninggalannya dibagi-bagikan kepada seluruh ahli warisnya. Allah swt berfirman:

“Sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat (dan) sesudah dibayar hutangnya.” (QS an-Nisaa’: 11).

Dan pernyataan Ali ra:

“Rasulullah saw pernah memutuskan pelunasan hutang sebelum melaksanakan (isi) wasiat.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2195, Irwa-ul Ghalil no: 1667, Ibnu Majah II: 906 no: 2715 dan Tirmidzi III: 294 no: 2205).

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN MENDAPAT WARISAN

-Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan ada tiga:

1.Nasab

Allah swt berfirman:

“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah, satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris).” (QS al-Ahzaab: 6)

2.Wala’ (Loyalitas budak yang telah dimerdekakan kepada orang yang memerdekakannya):

-Dari Ibnu Umar dari Nabi saw, ia bersabda, “al-Walaa’ itu adalah kekerabatan seperti kekerabatan senasab.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7157, Mustadrak Hakim IV: 341, Baihaqi X: 292).

3.Nikah

Allah swt menegaskan:

“Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.” (QS an-Nisaa’: 12)

SEBAB-SEBAB YANG MENGHALANGI MENDAPAT WARISAN

1.Pembunuhan

-Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda, “Orang yang membunuh tidak boleh menjadi ahli waris.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 4436, Irwa-ul Ghalil no: 1672, Tirmidzi II: 288 no: 2192 dan Ibnu Majah II: 883 no: 2645).

2.Berlainan agama:

-Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi saw bersabda, “Orang muslim tidak boleh menjadi ahli waris orang kafir dan tidak (pula) orang kafir menjadi ahli waris seorang muslim.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari XII: 50 no: 6764, Muslim III: 1233 no: 1614, Tirmidzi III: 286 no: 2189, Ibnu Majah II: 911 no: 2729, ‘Aunul Ma’bud VIII: 120 no: 2892).

3.Perhambaan

-Sebab seorang hamba dan harta bendanya adalah menjadi hak milik tuannya, sehingga kalau ada kerabatnya memberi warisan, maka ia menjadi milik tuannya juga, bukan menjadi miliknya.

PARA AHLI WARIS DARI PIHAK LELAKI

-Yang berhak menjadi ahli waris dari kalangan lelaki ada sepuluh orang:

1 dan 2. Anak laki-laki dan puteranya dan seterusnya ke bawah.

Allah swt berfirman:

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (QS An Nisaa’: 11).

3 dan 4. Ayah dan bapaknya dan seterusnya ke atas.

Allah swt berfirman:

“Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan.” (QS An Nisaa’: 11).

Dan datuk termasuk ayah, oleh karena itu Nabi saw bersabda:

“Saya adalah anak Abdul Muthallib.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari VIII: 27 no: 4315, Muslim III: 1400 no: 1776, dan Tirmidzi III: 117 no: 1778).

5 dan 6. Saudara dan puteranya dan seterusnya ke bawah.

Allah swt berfirman:

“Dan saudara yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak.” (QS An Nisaa’: 176).

7 dan 8. Paman dan anaknya serta seterusnya.

Nabi saw bersabda:

“Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak, kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit).” (Muttafaqun’alaih: Fatul Bari XII: 11 no: 6732, Muslim III: 1233 no: 1615, Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud, ‘Aunul Ma’bud VIII: 104 no: 2881, Sunan Ibnu Majah II: 915 no. 2740).

9. Suami.

Allah swt berfirman:

“Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.” (QS An Nisaa’: 12).

10. Laki-laki yang memerdekakan budak.

Sabda Nabi saw:

“Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya.”

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MENJADI AHLI WARIS

Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh:

1 dan 2. Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya.

Firman-Nya:

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.” (QS An Nisaa’: 11).

3 dan 4. Ibu dan nenek.

Firman-Nya:

“Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masing seperenam.” (QS An Nisaa’: 11).

5. Saudara perempuan.

Allah swt berfirman:

“Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkan itu.” (QS An Nisaa’: 176).

6. Isteri.

Allah swt berfirman:

“Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan.” (QS An Nisaa’: 12).

7. Perempuan yang memerdekakan budak.

Sabda Nabi saw:

“Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya.” (Muttafaqun’alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456, Muslim II: 1141 no: 1504, ’Aunul Ma’bud X: 438 no: 3910, Ibnu Majah II: 842 no: 2521).

ORANG-ORANG YANG BERHAK MENDAPATKAN WARISAN

-Orang-orang yang berhak mendapatkan harta peninggalan ada tiga kelompok, yaitu: dzu fardh (kelompok yang sudah ditentukan bagiannya), kedua, ashabah dan ketiga rahim (atau disebut juga ulul arham).

Bagian-bagian yang telah ditetapkan dalam Kitabullah Ta’ala ada enam: (pertama) separuh, (kedua) seperempat, (ketiga) seperdelapan, (keempat) dua pertiga, (kelima) sepertiga, dan (keenam) seperenam.

A. Yang dapat 1/2:

1.Suami yang dapat seperdua (dari harta peninggalan isteri), bila si mayyit tidak meninggalkan anak.

Allah swt berfirman: “Dan kamu dapat separuh dari apa yang ditinggalkan isteri-isteri kamu, jika mereka tidak meninggalkan anak.” (QS An Nisaa’: 12).

2.Seorang anak perempuan.

Firman-Nya: “Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang, maka ia dapat separuh.” (QS An Nisaa’: 11).

3.Cucu perempuan, karena ia menempati kedudukan anak perempuan menurut ijma’ (kesepakatan) ulama’.

-Ibnu Mundzir berkata, “Para ulama’ sepakat bahwa cucu laki-laki dan cucu perempuan menempati kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. Cucu laki-laki sama dengan anak laki-laki, dan cucu perempuan sama dengan anak perempuan, jika si mayyit tidak meninggalkan anak kandung laki-laki.” (Al Ijma’ hal. 79)

4. dan 5. Saudara perempuan seibu dan sebapak dan saudara perempuan sebapak.

Firman-Nya: “Jika seorang meninggal dunia, padahal ia tidak mempunyai anak, tanpa mempunyai saudara perempuan, maka saudara perempuan dapat separuh dari harta yang ia tinggalkan itu.” (QS An Nisaa’: 176)

B. Yang dapat 1/4 ; dua orang.

1. Suami dapat seperempat, jika isteri yang wafat meninggalkan anak.

Firman-Nya: “Tetapi jika mereka meninggalkan anak, maka kamu dapat seperempat dari harta yang mereka tinggalkan.” (QS An Nisaa’: 12).

2. Isteri, jika suami tidak meninggalkan anak.

Firman-Nya: “Dan isteri-isteri kamu mendapatkan seperempat dari apa yang kamu tinggalkan, jika kamu tidak meninggalkan anak.” (QS An Nisaa’: 12).

C. Yang dapat 1/8; hanya satu (yaitu):

Istri dapat seperdelapan, jika suami meninggalkan anak.

Firman-Nya: “Tetapi jika kamu tinggalkan anak, maka isteri-isteri kamu dapat seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan.” (QS An Nisaa’: 12).

D. Yang dapat 2/3; empat orang

1 dan 2. Dua anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki).

Firman-Nya: “Tetapi jika anak-anak (yang jadi ahli waris) itu perempuan (dua orang) atau lebih dari dua orang, maka mereka daat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan (oleh bapaknya).” (QS An Nisaa’: 11).

3 dan 4. Dua saudara perempuan seibu sebapak dan dua saudara perempuan sebapak.

Firman-Nya: “Tetapi jika adalah (saudara perempuan) itu dua orang, maka mereka dapat dua pertiga dari harta yang ia tinggalkan.” (QS An Nisaa’: 176).

E. Yang dapat 1/3; dua orang:

1. Ibu, jika ia tidak mahjub (terhalang).

Firman-Nya: “Tetapi jika si mayyit tidak mempunyai anak, dan yang jadi ahli warisnya (hanya) ibu dan baoak, maka bagi ibunya sepertiga.” (QS An Nisaa’: 11).

2. Dua saudara seibu (saudara tiri) dan seterusnya.

Firman-Nya: “Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan tak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak, tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu), maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu, dapat seperenam, tetapi jika saudara-saudara itu lebih dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga itu.” (QS An Nisaa’: 12).

F. Yang dapat 1/6; ada tujuh orang:

1. Ibu dapat seperenam, jika si mayyit meninggalkan anak atau saudara lebih dari seorang.

Firman-Nya: “Dan untuk dua orang ibu bapak, bagian masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya dapat sepertiga; jika yang wafat itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya dapat seperenam.” (QS An Nisaa’: 11).

2. Nenek, bila si mayyit tidak meningalkan ibu.

Ibnul Mundzir menegaskan, “Para ulama’ sepakat bahwa nenek dapat seperenam, bila si mayyit tidak meninggalkan ibu.” (Al Ijma’ hal. 84).

3. Seorang saudara seibu, baik laki-laki ataupun perempuan.

Firman-Nya: “Dan jika si mayyit laki-laki atau perempuan itu tidak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak, tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu), maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu dapat seperenam.” (QS An Nisaa’: 12).

4. Cucu perempuan, jika si mayyit meninggalkan seorang anak perempuan:

-Dari Abu Qais, ia bertutur: Saya pernah mendengar Huzail bin Syarahbil berkata, “Abu Musa pernah ditanya perihal (bagian) seorang anak perempuan dan cucu perempuan serta saudara perempuan.” Maka ia menjawab, “Anak perempuan dapat separuh dan saudara perempuan separuh (juga), dan temuilah Ibnu Mas’ud (dan tanyakan hal ini kepadanya) maka dia akan sependapat denganku!” Setelah ditanyakan kepada Ibnu Mas’ud dan pernyataan Abu Musa disampaikan kepadanya, maka Ibnu Mas’ud menjawab, “Sungguh kalau begitu (yaitu kalau sependapat dengan pendapat Abu Musa) saya benar-benar sesat dan tidak termasuk orang-orang yang mendapat hidayah. Saya akan memutuskan dalam masalah tersebut dengan apa yang pernah diputuskan Nabi saw: yaitu anak perempuan dapat separuh, cucu perempuan dari anak laki-laki dapat seperenam sebagai pelengkap dua pertiga (2/3), dan sisanya untuk saudara perempuan.’ Kemudian kami datang menemui Abu Musa, lantas menyampaikan pernyataan Ibnu Mas’ud kepadanya, maka Abu Musa kemudian berkomentar, ”Janganlah kamu bertanya kepadaku selama orang yang berilmu ini berada di tengah-tengah kalian.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1863, Fathul Bari XII: 17 no: 6736, ’Aunul Ma’bud VIII: 97 no: 2873, Tirmidzi III: 285 no: 2173, namun dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tidak termaktub kalimat terakhir).

5. Saudara perempuan sebapak, jika si mayat meninggalkan seorang saudara perempuan seibu sebapak sebagai pelengkap dua pertiga (2/3), karena dikiaskan kepada cucu perempuan, bila si mayyit meninggalkan anak perempuan.

6. Bapak dapat seperenam, jika si mayyit meninggalkan anak.

Firman-Nya: “Dan bagi dua ibu bapaknya; buat tiap-tiap seorang dari mereka seperenam dari harta yang ditinggalkan (oleh anaknya), jika (anak itu) mempunyai anak.” (QS An Nisaa’: 11).

7. Datuk (kakek) dapat seperenam, bila si mayyit tidak meninggalkan bapak.

Dalam hal ini Ibnul Mundzir menyatakan, “Para ulama’ sepakat bahwa kedudukan datuk sama dengan kedudukan ayah.” (Al Ijma’ hal. 84).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 797 – 808.

Bab ‘Ashabah

PENGERTIAN ‘ASHABAH

-Menurut bahasa, kata ’ashabah adalah bentuk jama’ dari kata ’aashib, seperti kata thalabah adalah bentuk jama’ dari kata thaalib, (kata ’ashabah) yang berarti anak-anak laki-laki seorang dan kerabatnya dari ayahnya.

-Sedang yang dimaksud dalam kajian faraidh di sini ialah orang-orang yang mendapat alokasi sisa dari harta warisan setelah ashabul furudh (orang-orang yang berhak mendapat bagian) mengambil bagiannya masing-masing. Jika ternyata harta warisan itu tidak tersisa sedikitpun, maka orang-orang yang terkategori ’ashabah itu tidak mendapat bagian sedikitpun, kecuali yang menjadi ’ashabah itu adalah anak laki-laki, maka sama sekali ia tidak pernah terhalang. (Pengertian ini dikutip dari Fiqhus Sunnah III: 437).

Segenap orang yang termasuk ’ashabah berhak juga mendapatkan harta warisan seluruhnya, bila tidak didapati seorangpun dari ashabul furudh:

-Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda, ”Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang berhak, kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (lebih dekat kepada si mayyit).” (Teks hadits dan takhrijnya sudah termaktub pada halaman sebelumnya).

Allah swt berfirman:

“Dan saudara laki-laki itu menjadi ahli waris pusaka saudara perempuannya, jika saudara perempuan tersebut tidak mempunyai anak (laki-laki).” (QS An Nisaa’: 176).

-Jadi, seluruh harta warisan harus diserahkan kepada saudara laki-laki, ketika ia sendirian, dan kiaskanlah seluruh ’ashabah yang lain kepadanya.

KLASIFIKASI ‘ASHABAH

’Ashabah terbagi dua, yaitu ’ashabah sababiyah dan ’ashabah nisbiyah.

A. ’Ashabah sababiyah ialah ’ashabah yang terjadi karena telah memerdekakan budak.

Nabi saw bersabda:

”Hak ketuanan itu milik bagi orang memerdekakannya.” (Teks hadits dan takhrijnya sudah termuat pada halaman sebelumnya).

Sabda Beliau saw lagi:

”Hak ketuanan itu adalah daging seperti daging senasab.” (Teks hadits dan takhrijnya sudah dimuat pada halaman sebelumnya).

-Orang laki-laki atau perempuan yang memerdekakan budak tidak boleh menjadi ahli waris, kecuali apabila yang bekas budak itu tidak meninggalkan orang yang termasuk ’ashabah nasabiyah:

-Dari Abdullah bin Syaddad dari puteri Hamzah, ia berkata, ”Bekas budakku telah meninggal dunia dan ia meninggalkan seorang puteri, maka Rasulullah saw membagi harta peninggalannya kepada kami dan kepada puterinya, yaitu Beliau menetapkan separuh untukku dan separuhnya (lagi) untuk dia.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2210, Ibnu Majah II: 913 no: 2734 dan Mustadrak Hakim IV: 66).

B. Adapun ‘ashabah nasabiyah ada tiga kelompok:

1. ‘Ashabah binafsih, yaitu orang-orang yang menjadi ‘ashabah dengan sendirinya:

-Mereka adalah orang-orang laki-laki yang menjadi ahli waris selain suami dan anak dari pihak ibu.

2. ‘Ashabah bighairih, ya’ni orang-orang yang jadi ‘ashabah disebabkan ada orang lain:

-Mereka adalah anak perempuan, cucu perempuan, saudara perempuan seibu sebapak, dan saudara perempuan sebapak. Jadi, masing-masing dari mereka itu kalau ada saudara laki-lakinya menjadi ’ashabah mendapat separuh dari harta warisan.

Firman-Nya:

“Dan jika mereka (yang jadi ahli waris) itu saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagi saudara laki-laki itu bagian dua saudara perempuan.” (QS An Nisaa’: 176).

3. ‘Ashabah ma’aghairih, yaitu orang-orang yang jadi ‘ashabah bersama orang lain:

Mereka adalah saudara-saudara perempuan bersama anak-anak perempuan; berdasarkan hadits:

-Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata, “Dan sisanya untuk saudara perempuan.” (Teks hadits dan takhrijnya sudah dimuat pada halaman sebelumnya).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 808 – 810.

Bab Hajb dan Hirman

A. Pengertian Hajb dan Hirman

-Menurut bahasa, kata hajb berarti man’un (cegahan), namun yang dimaksud di sini ialah orang yang tertentu terhalang untuk mendapatkan seluruh warisannya atau sebagiannya disebabkan ada orang lain (yang menjadi hajib, penghalang).

-Adapun yang dimaksud kata hirman di sini ialah orang yang tertentu terhalang mendapat warisannya disebabkan ada salah satu faktor yang menghalangi seseorang mendapat harta warisan, misalnya pembunuhan dan semisalnya yang terkategori sebab-sebab yang menjadi penghalang mendapat harta warisan.

B. Pembagian Hajb

Hajb ada dua: hajb nuqshan dan kedua hajb hirman.

hajb nuqshan ialah berkurangnya bagian seorang ahli waris karena ada orang lain, dan ini terjadi pada lima orang:

1.Suami, ia terhalang untuk mendapatkan separuh dari harta peninggalan, manakala si mayyit meninggalkan anak, sehingga ia hanya dapat seperempat.

2.Isteri, ia terhalang untuk mendapat seperempat, bila si mayyit meninggalkan anak, sehingga ia hanya dapat seperdelapan.

3.Ibu, ia terhalang untuk mendapatkan bagian sepertiga, jika si mayyit meninggalkan anak dan cucu yang berhak menjadi ahli waris, sehingga ia hanya mendapat seperenam.

4.Cucu perempuan.

5.Saudara perempuan sebapak.

hajb hirman yaitu seseorang tidak boleh mendapatkan warisan sedikitpun karena ada orang lain, misalnya terhalangnya saudara laki-laki untuk mendapatkan warisan bila si mayyit meninggalkan anak laki-laki, dan masalah ini (hajb hirman) tidak masuk padanya warisan dari enam ahli waris, meskipun mungkin saja terjadi pada keenam orang ini hajb nuqshan. Mereka adalah:

1 dan 2. Bapak dan Ibu.

3 dan 4. Anak laki-laki dan anak perempuan.

5 dan 6. Suami atau isteri.

-Dan pembahasan hajb hirman ini mengenai selain enam orang tersebut dari kalangan orang-orang yang berhak jadi ahli waris.

Hajb hirman berpijak pada dua asas:

1.Bahwa setiap orang yang menisbatkan dirinya kepada mayyit dengan perantara orang lain, maka ia tidak berhak jadi ahli waris manakala orang lain tersebut masih hidup.

Misalnya cucu laki-laki dari anak laki-laki, ia tidak bisa menjadi ahli waris bila bapaknya masih hidup, kecuali putera-puteri ibu, mereka tetap sah menjadi ahli waris bersama ibunya, padahal mereka menisbatkan dirinya kepada mayyit dengan perantara ibunya.

2.Yang lebih dekat harus lebih diutamakan daripada yang jauh.

Misalnya anak laki-laki menjadi hajib (penghalang) bagi keponakan laki-lakinya dari saudara laki-lakinya. Jika mereka sederajat, maka yang harus diutamakan adalah yang lebih kuat kekerabatannya, misalnya saudara laki-laki sebapak seibu menjadi hajib (penghalang) bagi saudara laki-laki sebapak.

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 811 – 812.


brayyAllah SWT berfirman: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al Jum’ah 2).

Ayat di atas menggambarkan betapa Nabi Muhammad saw. yang berasal dari bangsa Arab yang buta huruf diutus oleh Allah SWT membawa misi perubahan dengan pendidikan Islam untuk menghasilkan bangsa yang baru, yang maju, bahkan yang terbaik di antara umat manusia (QS. Ali Imran 110).

Proses pendidikan Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. dengan membacakan ayat-ayat Al Quran kepada kaum yang buta huruf, tidak pandai baca tulis, maupun menghitung, yang terbelakang dan diliputi kebodohan jahiliyah. Dengan ayat-ayat mukjizat itu Rasulullah saw. membersihkan hati dan pikiran mereka dari noda-noda syirik dan jahiliyah, serta mengajarkan kepada mereka hukum-hukum halal haram dalam seluruh aspek kehidupan sehingga terjadi perubahan dan pembangunan bangsa yang luar biasa.

Ya, Bangsa Arab yang jahiliyah berubah menjadi umat Islam yang berpengetahuan. Bangsa Arab yang terbelakang berubah menjadi umat Islam yang mampu meruntuhkan imperium Persia dan memukul mundur imperium Rumawi sampai ke Konstantinopel. Hanya dalam tempo 28 tahun setelah turunnya ayat Al Quran yang pertama (QS. Al Alaq 1-5) umat Islam berkuasa atas dunia (QS. An Nuur 55) pada masa Khalifah Umar bin Al Khaththab pada tahun 15H.

Umat Islam mempelopori kemajuan peradaban dunia

Dengan menguasai dunia, menerapkan syariah secara kaffah, dan pengagungan ilmu yang luar biasa, umat Islam menjadi pelopor peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa ilmu-ilmu sains Yunani diterjemahkan, dianalisis, dan dikembangkan oleh para ulama kaum muslimin. Banyak penemuan dilakukan oleh para ilmuan muslim sepanjang kemajuan peradaban Islam dan kejayaan kekuasaan Khilafah Islamiyyah.

Kalau hari ini dengan teleskop kita bisa mengintip gerakan planet, bintang, dan galaksi; berbagai kejadian di seluruh dunia bisa dilaporkan melalui TV oleh para reporter dan kameraman; kejadian apapun di mall dan kantor bisa direkam oleh CCTV; itu semua tidak lepas dari jasa ilmuwan muslim Al-Hasan Ibnu al-Haitham (965-1039 M) yang menemukan kamera obscura. Perkembangan teknologi IT yang demikian luar biasa yang mampu mendekatkan manusia dengan media sosial seperti facebook dan twitter serta website dan juga berbagai sistem perhitungan untuk design mobil dan pesawat serta berbagai peralatan canggih, semua berkat teknologi komputasi yang luar biasa yang dasarnya menggunakan sistem biner, yakni bilangan 0 dan 1. Dan bilangan nol adalah temuan ilmuwan muslim al-Khawarizmi (780 M). Tak terbayangkan oleh kita, apa jadinya jika tidak ditemukan bilangan nol dan peradaban manusia masih berdasar pada angka Rumawi. Maha benar Allah SWT yang telah berfirman: “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah 11).

Tujuan Sistem Pendidikan Islam

Untuk membangun suatu bangsa atau umat agar menjadi bangsa dan umat yang unggul di dunia, diperlukan strategi pendidikan yang tepat, yang memiliki tujuan mulia melahirkan generasi unggulan (khairu ummah).

Dalam perspektif Islam, negara harus menetapkan bahwa tujuan pendidikan bangsa atau umat adalah:

Pertama, membangun kepribadian bangsa dan umat dengan kepribadian Islam yang istimewa (as syakhshiyyah al Islamiyyah al mutamayyizah). Kepribadian Islami yang istimewa terbentuk dengan menanamkan aqidah Islamiyyah di hati setiap insan peserta didik, dan memenuhi hati (qalbu) mereka dengan berbagai ayat Al Quran seputar aqidah Islamiyyah, baik tentang iman kepada keesaan dan kekuasaan Allah SWT, pencipta manusia, kehidupan, dan seluruh alam semesta, keimanan kepada kiamat, kebangkitan manusia setelah mati, pengumpulan dan persidangan di padang mahsyar, penghitungan dan penimbangan amal, hingga kenikmatan penghuni surga (ahlul jannah) maupun kesengsaraan penghuni neraka (ahlun naar). Aqidah Islamiyyah inilah yang akan menghidupkan hati (qalbu) setiap muslim sehingga akan terus gemar membaca dan mempelajari Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw, yang menerangkan tentang berbagai perkara terkait dengan aqidah Islamiyyah dan hukum halal-haram. Aqidah Islamiyyah yang diikat oleh hati (qalbu) setiap muslim ini akan menjadi asas berfikirnya sehingga dia memiliki cara berfikir Islami (al aqliyyah Islamiyyah), dan akan menjadi asas pengatur tingkah lakunya sehingga dia memiliki cara pengendalian diri Islami (an nafsiyyah Islamiyyah).

Dengan cara berfikir Islami, yakni mememahami dan memutuskan hukum suatu fakta (benda/perbuatan) dengan perspektif Islam, seorang muslim akan memiliki pemahaman Islam (mafahim Islamiyyah). Dan dengan pemahaman Islam itulah dia mengendalikan perilakunya agar senantiasa Islami, yakni sesuai dengan hukum syariah.

Kedua, membekali bangsa dan umat yang dididik dengan berbagai ilmu pengetahuan agar kelak menjadi ulama-ulama yang ahli dalam berbagai kehidupan, baik dalam bidang ilmu-ilmu Islam (tsaqafah Islamiyyah) seperti ahli dalam bidang fiqh, ijtihad, qadla, tafsir, hadits, dan lain-lain, maupun ahli dalam bidang sains eksperimental (al ulum at tajribiyyah) seperti kimia, fisika, kedokteran, teknik mesin, otomotif, teknik pesawat terbang/aeronautika, teknik komputer, teknik informasi, dan lain-lain. Dengan keahlian-keahlian di atas maka bangsa dan umat ini akan menjadi unggul di dunia, mandiri, dan berpengaruh, bukan menjadi bangsa pembebek dan pengekor apalagi antek bangsa dan umat lain.

Strategi Pendidikan Islam

Untuk mencapai tujuan di atas perlu disusun strategi sistem pendidikan oleh negara sebagai berikut:

1. Memperkuat nuansa imani dalam kehidupan umat dengan menyemarakkan kegiatan sholat jamaah, shiyam Ramadhan, hari raya, ibadah qurban, haji, dan lain-lain dan penerapan syariat dalam bidang pakaian, makanan, akhlak, muamalah ekonomi, penerapan hudud dan qishash, penggiatan tabligh, taklim, dan amar makruf nahi mungkar, hingga jihad fi sabilillah.

2. Menyusun kurikulum yang diterapkan seluruh sekolah dengan materi pelajaran yang memenuhi tujuan pendidikan Islam di atas, yakni membangun kepribadian Islam, menyiapkan bekal menjadi ulama Islam, dan menyiapkan bekal menjadi ahli-ahli dalam bidang sains dan teknologi untuk menguasai kehidupan.

3. Menyiapkan guru-guru berkepribadian Islam istimewa, yang menguasai Al Quran dan As Sunnah serta berbagai bidang ilmu yang menjadi tanggung jawabnya untuk menjalankan kurikulum serta sabar dan arif bijaksana dalam mendidik para siswa.

4. Menetapkan metode pengajaran fikriyyah, yakni pengajaran oleh guru dengan penyampaian yang mengaktifkan kemampuan berfikir siswa untuk memahami persoalan dengan mengikatkan fakta materi pelajaran dengan berbagai informasi yang berkaitan dengan fakta itu. Jadi tidak pernah disampaikan sebuah informasi tanpa mengajak para siswa untuk memahami faktanya. Atau memberikan gambaran yang mendekatkan kepada fakta yang dibahas. Sebagai contoh, ketika menerangkan ayat tentang darah haid sebagai penyakit, dan larangan seorang suami menyetubuhi istri saat haid ( QS. Al Baqarah 222) perlu dihubungkan dengan informasi kedokteran bahwa gerakan dzakar pada saat berhubungan suami istri di masa haid juga bisa menjadi pemicu terjadinya gelembung udara ke pembuluh darah yang terbuka yang masuk ke dalam pembuluh darah, maka akan mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan bisa mengakibatkan mati mendadak.

5. Membangun perpustakaan, laboratorium, dan pusat-pusat bahasa Arab/ Inggris dan ilmu pengetahuan serta menyediakan ulama-ulama pembimbing untuk mendukung pengembangan ilmu.

6. Menyelenggarakan sekolah dan universitas dengan sistem bebas biaya sebagai layanan pemerintah terhadap kebutuhan kolektif masyarakat dan kemudahan penyediaan SDM handal yang berkepribadian Islam, cerdas, terampil, produktif, dan kreatif, untuk memperkuat posisi tawar bangsa dan umat.

7. Menarik minat belajar, menuntut ilmu, dan mengembangkan ilmu dengan membeli hak paten para ilmuwan untuk disedekahkan secara gratis kepada masyarakat atau temuan teknologi terapan yang diadopsi industri BUMN untuk diproduksi dan dijual murah kepada masyarakat.

Dengan tujuh strategi di atas insyaallah pendidikan bangsa dan umat ini bisa diarahkan untuk benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umat secara umum. Wallahua’lam!


Ibnu Abbas RA menjelaskan
tentang firman Allah SWT: “Dan Aku tidak menjadikan Jin
dan Manusia melainkan untuk
menyembah-Ku”.(Q.S. AdhDhariyat: 56)
Yaitu mengenali
Alloh SWT.

Ibrahim bin Adham RA telah berkata: “ Kasih sayang itu merupakan hasil dari sebuah
perkenalan, barang siapa yang mengenal Alloh SWT maka dia
akan mencintai-Nya dan barang siapa mencintai Alloh
SWT maka dia akan mencintai Baginda Rosululloh SAW,
barang siapa yang kenal Baginda Rosululloh SAW, pasti
dia akan mencintainya” .

Kita pernah mendengar sebuah
ungkapan menarik yang mengatakan bahwa; Tidak wajar
hubungan kita dengan Baginda
Rosululloh SAW jika hanya sekedar melakukan suatu
amalan dan hanya cukup seperti
itu, sepatutnya hubungan
tersebut akan membuahkan
cinta kepada Habibana Muhammad SAW dan cinta itu
terus hidup mekar didalam hati kita dan beliau SAW pasti akan
hidup didalam hati kita.

Baginda Rosululloh SAW adalah
seorang Nabi yang datang kepada kita sebagai seorang
manusia, namun Nabi SAW bukanlah seperti insan biasa.
Baginda Rosululloh SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara memandang kepada sebuah kehidupan
dengan pandangan yang mempunyai makna, bukan
pandangan yang sebaliknya.

Perbedaan diantara kedua pandangan yang tidak
mempunyai makna ialah,
seseorang yang melihat dirinya
dan semata-mata tertumpu
untuk memenuhi kepuasan
nafsu dirinya. Pandangan yang
mempunyai makna ialah,
melihat kepada kehidupan
mengikuti pandangan yang telah
dibawa Baginda Rosululloh SAW,
dimana ia bertujuan untuk mengembalikan kekhalifahan
diatas muka bumi ini kepada
manusia yang termaktub
didalam Al Quran:

“sesungguhnya Aku telah jadikan diatas muka bumi ini
khalifah”.
Pandangan tersebut
itu merangkumi kepada hewan,
benda2 tidak bernyawa dan tumbuh-tumbuhan, karena pandangan itu bukan hanya
melibatkan pandangan kepada
manusia saja tetapi merangkumi
semua.

Baginda Rosululloh SAW memandang kepada gunung
yang terdiri dari batu dan tanah, dengan suatu pandangan yang membangkitkan perasaan cinta.

Sabda beliau SAW: “Uhud adalah bukit yang mencintai
kita dan kita juga
mencintainya”.

Pandangan yang ditunjukkan
Baginda SAW kepada yang tidak
bernyawa itu menyebabkan ia
begerak dan cenderung kepada
Baginda Rasulullah SAW. Dalam
suatu peristiwa, bukit Uhud bergetar ketika Baginda
Rosululloh SAW mendaki bukit
tersebut, kemudian Baginda
Rasulullah SAW bersabda:

“Tetaplah kamu wahai Uhud, sesungguhnya yang diatas
kamu ini ialah seorang Nabi” .

Maka bukit Uhudpun berhenti
bergetar dan disaksikan oleh
shahabat Abu Bakar As Shidiq
dan dua orang lainnya.

Pandangan yang ditunjukkan
Baginda Nabi Muhammad SAW
kepada benda-benda yang tidak
bernyawa itu, menyebabkan ia
datang kepada Baginda Nabi
SAW dan menerimanya.

Seperti sebuah kisah pelepah
kurma yang tidak bernyawa,
dimana Baginda Nabi SAW sering memegang pelepah
kurma tesebut ketika sedang khutbah Jumat di Masjidnya, hari
demi hari bilangan manusia semakin bertambah maka
Baginda Nabi SAW
menggunakan Mimbar. Suatu
ketika Baginda Nabi SAW pun datang ke Masjid untuk khutbah,
ketika itu Baginda Nabi SAW telah melepasi pelepah kurma yang dibawanya tersebut,
dimana jarak Baginda Nabi SAW
dengan pelepah kurma tersebut
kurang lebih sekitar 8 langkah.
Baginda Nabi SAW melangkah
menaiki mimbar dan memulai
khutbahnya, semasa khutbah
Baginda Nabi SAW, para shahabat mendengar suara
tangisan yang teramat sedih dan
menyayat hati. Semakin lama
suara tangisan itu semakin
nyaring terdengar, para shahabat mulai berpaling kekiri
dan kekanan mencari-cari dari
mana arah datang suara tangisan tersebut, akhirnya
mereka dapati suara tangisan itu
datang dari pelepah kurma.

Apabila benda yang tidak bernyawa ini telah dapati
Baginda Nabi SAW
berkomunikasi dengannya dan
mengandung makna kehidupan
yang dibawa Baginda Nabi SAW,
maka beliau SAW telah
menggerakkan makna
kehidupan pada pelepah kurma
itu.
Oleh karena itu ia amat
menyukai untuk
menggambarkan rasa cintanya
kepada Baginda Rosululloh SAW.

(Hadits ini bertahap mutawatir
mengikuti ke Shahihannya)

Para Shahabat berkata: Apabila
pelepah kurma itu mulai
merengek seperti kehilangan
anak, ia menyebabkan kami hampir tidak bisa mendengar
suara Baginda Nabi SAW.
Kemudian Baginda Nabi SAW
turun dari mimbar dan sekali
lagi Baginda Nabi SAW telah
mengajar kami suatu pengajaran
bahwa; Baginda Nabi SAW
datang dengan mempunyai
pengetahuan tentang rahasia
sebuah kehidupan untuk
membujuk pelepah kurma itu,
kemudian beliau SAW
meletakkan tangannya diatas
pelepah kurma itu lalu
membujuknya seperti seorang
ibu yang membujuk anaknya
sedang menangis sehingga
pelepah kurma itupun terus
diam. Lalu Baginda Nabi SAW
memberi pilihan kepadanya,
kekal hidup sehingga hari kiamat
dan kembali kepada Nabi SAW
seperti sedia kala atau berada
bersama Baginda Nabi SAW
didalam Surga. Pelepah kurma
itupun memilih untuk bersama
Baginda Nabi SAW di Surga.
Baginda Nabi SAW apabila
datang kepada hewan, telah
mengajar kita bagaimana cara
untuk bermuamalah dengan
hewan dengan mempunyai nilai
ubudiyah kepada All0h SWT.
Ketika Baginda Nabi SAW
berangkat kemedan jihad di
Perang Badar, berulangkali
Baginda Nabi SAW turun dari
hewan tunggangannya tersebut
supaya dapat beristirahat,
demikianlah Baginda Nabi SAW
terus menerus lakukan pada
tunggangannya.
Baginda Nabi SAW telah mengajar kita cara bermuamalah kpd yg
telah berkhidmat untuk kita
walau ia hanya seekor hewan.
Muamalah ini mestilah
mempunyai nilai rasa
menghargai, bahwa yg dihadapanku ini mempunyai
hak sewajarnya untuk dipelihara.
Hasil dari sebuah kecintaan ini
juga dapat dilihat, apabila
seekor hewan berada dipuncak
kemarahan sekalipun, ia mau
merasai hubungan dengan
orang yang dapat
berkomunikasi dengannya
dimana orang itu memahami
rahasia sebuah kehidupan.

Terdapat sebuah kisah tentang
seekor unta dan orang Arab
tahu apabila unta tsbt
membahayakan bahkan bisa
membunuh orang, mereka pasti
akan mengikatnya.

Baginda Nabi
SAW melalui kawasan tersebut
dan bertanya:
“Apa yang berlaku
kepada kamu?”, mereka
menjawab; “Unta ini bahaya”,
Baginda Nabi SAW bersabda;
“Bukalah ikatan unta itu”,
mereka menjawab, “kami takut
ada hal2 yang tidak baik
menimpamu, disebabkan unta
ini ya Rasulullah?”,

Baginda Nabi
SAW bersabda; “Bukakanlah
ikatan itu”. Merekapun
membuka ikatan tsb.
Kemudian Baginda Nabi SAW
mendekati unta itu, lantas iapun
diam sebagaimana diriwayatkan
oleh hadits shahih, unta itu
datang kepada Baginda Nabi
SAW dalam keadaan tunduk.
Seorang perawi telah
meriwayatkan: “Unta itu mendekati kaki Baginda Nabi
SAW dan menciuminya,
kemudian ia mengangkat
kepalanya, Nabi SAW mendekati
dan berbicara dengannya.
Lantas unta itu angkat kepalanya
dan mendekati Nabi SAW sekali
lagi, ia membisikkan sesuatu
ketelinga Nabi SAW, seterusnya
Baginda Nabi SAW kembali
berkata-kata kepadanya dan ia
pun melakukan perkara yang
sama.
Setelah itu Baginda Nabi SAW
memandang ke arah orang yang
mempunyai Unta tersebut dan
berkata; “Sesungguhnya unta ini telah mengatakan kepadaku bahwa
ia telah diberikan kerja-kerja yang membebankannya dan kamu juga tidak memberi makan yang baik kepada unta
itu”.
Mereka menjawab, “Ya Rosululloh, demi karenamu ia
akan diberi sebaik-baik makanan
untuk unta dan kami tidak akan
membebankan selama-
lamanya”.

Unta ini berbicara begitu karena
Baginda Nabi SAW datang kepadanya dengan membawa
makna kehidupan hewannya.

“Tidak diutus paduka melainkan
membawa rahmat seluruh
alam”.

Begitulah akhlak Baginda Nabi SAW bersama unta dan
benda-benda yang tidak bernyawa.

Maka bagaimana muamalah
Baginda Nabi SAW dengan manusia? Dimana beliau SAW
ditugaskan mengangkat
martabat manusia serta
mengembalikan sifat manusia kepada sifat kemanusiaannya?..

Pada hari ini kita dapat belajar
satu pengajaran; kita hidup sebagai umat Baginda Rosululloh SAW mengetahui
bahwa berbicara dengan alam
yang mengelilingi kita, dengan
konsep kenabian yang mulia akan menimbulkan keadaan yang lain pada alam ini serta
menjadikan alam ini merasai rahasia sebuah kehidupan yang dianugerahkan Baginda Rosululloh SAW untuk
memahaminya, ini merupakan
penganugerahan cinta, diadakan untuk menggerakkan
hati kita sebelum orang lain.

Untuk menyadarkan kita sebagai
kelompok muslim tentang wujudnya hubungan dengan
Baginda Rosululloh SAW. Ia membuat kita berlomba-lomba
dalam perlombaan, disana kita
mampu untuk berbicara dengan
alam ini dari mula bahwa Baginda Rosululloh SAW diutus
untuk mengembalikan rasa hormat manusia kepada dirinya
sendiri sebagai manusia dan
hormat kepada alam
disekelililngnya sehingga alam
ini juga kembali hormat kepada
manusia itu.

Jika kita kembali
pada konsep komunikasi
dengan yang berada disekeliling
kita dan sebaliknya dengan berpandukan ajaran Baginda
Rosululloh SAW, banyak perkara
akan berubah kepada suatu
keadaan yang lebih baik karena
kita adalah umat Baginda
R0sululloh SAW.

Mari kita memohon kepada All0h SWT,
agar kita dihidupkan dengan
makna ini, ya Allah..hidupkanlah
makna hubungan dengan Baginda Rosululloh SAW didalam
jiwa kami,
Ya Allah..hidupkanlah
makna hubungan dengan Baginda Rosululloh SAW didalam
jiwa kami, gerakkanlah dalam
diri kami dengan semangat ini,
satukanlah kami dengan orang
yang Engkau cintai dan ridho
dengan rahmat-Mu wahai
Tuhan yang Maha pengasih dan
penyayang dan segala puji bagi
All0h SWT Tuhan sekalian alam.

Sholat dan Kesehatan


“Hikmah Sholat untuk Pengobatan dan Kesehatan”. Bahkan, duduk Tasyahud diyakini bisa menyembuhkan penyakit tanpa operasi. sholat in the street
Apa hubungan sholat dengan kesehatan ? menurut Hembing, setiap gerakan-gerakan shalat mempunyai arti khusus bagi kesehatan dan punya pengaruh padabagian-bagian tubuh seperti kaki, ruas tulang punggung, otak, lambung, rongga dada, pangkal paha, leher, dll. Berikut adalah ringkasan yang bermanfaat untuk mengetahui tentang daya penyembuhan di balik pelaksanaan sholat sebagai aktivitas spiritual.
Berdiri tegak dalam sholat
Gerakan-gerakan sholat bila dilakukan dengan benar, selain menjadi latihan yang menyehatkan juga mampu mencegah dan meyembuhkan berbagai macam penyakit. Hembing menemukan bahwa berdiri tegak pada waktu sholat membuat seluruh saraf menjadi satu titik pusat pada otak, jantung, paru-paru, pinggang, dan tulang pungggung lurus dan bekerja secara normal, kedua kaki yang tegak lurus pada posisi akupuntur, sangat bermanfaat bagi kesehatan seluruh tubuh.
Rukuk
Rukuk juga sangat baik untuk menghindari penyakit yang menyerang ruas tulang belakang yang terdiri dari tulang punggung, tulang leher, tulang pinggang dan ruas tulang tungging. Dengan melakukan rukuk, kita telah menarik,menggerakan dan mengendurkan saraf-saraf yang berada di otak, punggung dan lain-lain. Bayangkan bila kita menjalankan sholat lima waktu yang berjumlah 17 rakaat sehari semalam. Kalau rakaat kita rukuk satu kali, berarti kita melakukan gerakan ini sebanyak 17 kali.
Sujud
Belum lagi gerakan sujud yang setiaprakaat dua kali hingga junlahnya sehari 34 kali. Bersujud dengan meletakan jari-jari tangan di depan lutut membuat semua otot berkontraksi. Gerakan ini bukan saja membuat otot-otot itu akan menjadi besar dan kuat, tetapi juga membuat pembuluh darah dan urat-urat getahbening terpijat dan terurut. Posisi sujud ini juga sangat membantu kerjajantung dan menghindari mengerutnya dinding-dinding pembuluh darah.
Duduk tasyahud
Duduk tasyahud akhir atau tawaruk adalah salah satu anugerah Allah yang patut kita syukuri, karena sikapitu merupakan penyembuhan penyakit tanpa obat dan tanpa operasi. Posisi duduk dengan mengangkat kaki kanan dan menghadap jari-jari ke arah kiblat ini,secara otomatis memijat pusat-pusatdaerah otak, ruas tulang punggung teratas, mata, otot-otot bahu, dan banyak lagi terdapat pada ujung kaki. Untuk laki-laki sikap duduk ini luar biasa manfaatnya, terutama untuk kesehatan dan kekuatan organ seks.
Salam
Bahkan, gerakan salam akhir, berpaling ke kanan dan ke kiri pun, menurut penelitian Hembing punya manfaat besar karena gerakan ini sangat bermanfaat membantu menguatkan otot-otot leher dan kepala. Setiap mukmin pasti bisa merasakan itu, bila ia menjalankan sholat dengan benar. Tubuh akan terasa lebih segar, sendi-sendi dan otot akan terasa lebih kendur, dan otak juga mempu kembali berfikir dengan terang. Hanya saja, manfaat itu ada yang bisa merasakannya dengan sadar, ada juga yang tak disadari. Tapi harus diingat, sholat adalah ibadah agama bukan olahraga.
Tahajjud = Anti kanker
Sebuah penelitian ilmiah yang lain membuktikan bahwa sholat tahajjud membebaskan seseorang dari pelbagai penyakit. Itu bukan ungkapan teoritis semata, melainkan sudah diuji dan dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Penelitinya adalah dosen fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Mohammad Sholeh, dalam usahanya meraih gelar doktor.Sholeh melakukan penelitian terhadap siswa SMU Lukmanul Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang secara rutin menunaikkan sholat tahajjud.
Sholat tahajjud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, kata sholeh, bisa mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup. Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental sepert stress maupun depresi membuat seseorang rentan terhadapberbagai macam penyakit, infeksi dan mempercepat perkembangan selkanker serta meningkatkan metastatis (penyebarab sel kanker).
Tekanan mental itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus gerak hidup manusia) yang ditandai dengan pengikatan hormon kortison. Perlu diketahui, hormon kortison ini biasa dipakai sebagai tolak ukur untuk mengetahui kondisiseseorang apakah jiwanya tengah terserang stress, depressi atau tidak.
Untungnya, kata Sholeh, stress bisa dikelola, dan pengelolaan itu bisa dilakukan dengfan eduikatif, cara teknis relaksasi, atau perenungan / tafakur dan umpan balik hayati (bio feed back). Nah, sholat tahajjud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai pereda stress yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secar natural, jelas sholeh dalam disertainya yang berjudul “Pengaruh Sholat Tahajjjud terhadap Pengingkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik”.
Pada saat yang sama, sholat tahajjjudpun bisa mendatangkan stress, terutam bila tidak dilaksanakan secara ikhlas dan kontinyu karena akan terjadi kegagalan dalan menjaga Homeostatis (daya adaptasi) terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal, tetapi jika dilaksanakan dengan iklas dan kontintyu akan sebaliknya. Kanker, seperti diketahui, adalah pertumbuhan sel yang tidak normal, kalau melaksanakan sholat tahajjud dengan ihklas dan kontinyu akan dapat merangsang pertumbuhan sel secara normal sehingga membebaskan pengamal sholat tahajjud dari berbagai penyakit dan kanker (tumor ganas), ungkap alumni pesantren lirboyo kediri Jatim ini.
Menurutnya, sholat tahajjud yang dijalankan dengan tepat, kontinyum khusuh, dan ikhlas dapat menimbulkan persepsi dan motivasi positif sehingga menimbulkan mekanisme pereda stress yang efektif.

pesta PASTI berAKHIR


berumah megah,bermobil mewah,itu tujuan banyak manusia…uang berlimpah pakaian indah,itu tujuan banyak manusia.makanan dan minuman yang serba lezat santapan yg selalu dicari.rekreasi yg mahal serta memikat hiburan yg selalu dinikmati..makan minumlah senang2lah dlm pesta kehidupan dunia tp ingatlah gunakan PIKIR bahwa pesta pasti kan BERAKHIR.dunia hanyalah persinggahan dari sebuah perjalan panjang.dunia bukanlah TUJUAN namun hanyalah LADANG tempat bertanam PESTA PASTI BERAKHIR…suatu saat pasti kan datang saat2 pasti menakutkan,sang malaikat pencabut nyawa kan merebut ruhmu dari badan,tak seorangpun yg akan dapat menolongmu dari kematian juga HARTAmu takan mampu menebusmu dari keMATIan.ada 2 cara kematian tergantung iman dan perbuatan ada yg bagai rambut dicabut dari tepung ini mati bagi yg TAQWA..namun bagi orang yg durjana mati kan merupakan derita,sakitnya bagai sudra dicabut dari duri ini azab yg nyata…

song by RHOMA IRAMA


didasarkan pada suatu realitas sosial yang telah ada dan berkembang di masyarakat yaitu fenomena dakwah. Berdakwah pada zaman sekarang tidak hanya bisa dilakukan oleh para mubaligh di masjid, tetapi bisa dilakukan dengan banyak cara dan banyak tempat. Banyak media yang bisa digunakan pada zaman sekarang sebagai media dakwah seperti televisi, koran, majalah, buku, lagu dan internet. Dakwah juga bisa dilakukan melalui sebuah tulisan seperti cerpen, cerbung, cergam dan bahkan novel bisa disisipkan nilai-nilai dakwah didalamnya. Sehingga diharapkan dakwah yang berupa nasehat, ajakan untuk kemaslahatan umat bisa sampai kepada seluruh lapisan golongan masyarakat yang memiliki latar belakang ekonomi dan pendidikan yang berbeda-beda. Penelitian ini menaruh perhatian pada lirik lagu “Tomat (Tobat Maksiat)” yang dipopulerkan oleh Wali Band

wali band

. Penelitian ini tidak terlepas dari metode semiologi Roland Barthes untuk menginterpretasikan makna dari lirik lagu tersebut, yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan semiologi Barthes sehingga dapat diperoleh hasil dari interpretasi data mengenai representasi lirik tersebut. Semiologi Barthes ini menitikberatkan pada tanda denotatif dan konotatif, dan kelima kode pembacaan. Data yang dianalisis berupa teks atau lirik dari lagu “Tomat (Tobat Maksiat)”, kemudian dianalisis menggunakan teori peta tanda Roland Barthes berdasarkan penanda, petanda, tanda denotatif, penanda konotatif, dan tanda konotatif. Setiap kalimat per bait dimasukkan ke dalam peta tanda Barthes dan dianalisa berdasarkan makna denotatif dan konotatif untuk dapat diketahui makna sebenarnya yang terdapat dalam lirik tersebut. Maka didapatkan hasil analisa bahwa melalui lirik lagu “Tomat (Tobat Maksiat)”, saat kental dengan unsur dakwah. Dimana dakwah lewat lagu lebih mudah diterima oleh komunikan (penikmat lagu) serta menyadarkan setiap manusia untuk kembali ke jalan yang ditentukan Tuhan. Karena Untuk menyampaikan sebuah pesan tidak hanya tulisan yang dijadikan acuan sebagai tanda untuk berinteraksi dalam menyikapi pesan tersebut, tapi makna yang terkandung di dalam pesan tersebut yang bisa menggugah. Dan bukan hanya instrument ataupun vokalika yang mendukung tapi faktor moment ketika pesan itu kapan harus disampaikan. Kesimpulannya bahwa penelitian melalui lirik lagu ini merupakan bentuk penyampaian pesan melalui media dakwah yang disampaikan kepada setiap manusia untuk kembali ke jalan Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya serta pencipta lagu ingin menyampaikan pesan yang merupakan pengekpresian dirinya terhadap fenomena yang terjadi di dunia sekitar, dimana dia berinteraksi di dalamnya.