Category: penjelasan al-qur’an



Salah satu keistimewaan Ummat Islam dibandingkan ummat lainnya ialah jaminan Allah terhadap Kitabullah Al-Quranul Karim. Al-Qur’an merupakan satu-satunya Kitab Allah yang dipastikan akan terpelihara keasliannya semenjak pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam hingga tibanya hari Kiamat. Hal ini tidak ditemukan di dalam Kitab Allah lainnya yang telah diwahyukan kepada para Nabi terdahulu. Baik itu Kitabullah Taurat yang di wahyukan kepada Nabiyullah Musa ‘alaihis salam maupun Kitabullah Injil yang diwahyukan kepada Nabiyullah Isa ‘alaihis salam. Tidak ada satupun ayat di dalam Taurat (mereka menyebutnya Perjanjian Lama) maupun Injil (mereka menyebutnya Perjanjian Baru) yang menyatakan bahwa otentitas kedua kitab tersebut bakal terjamin. Itulah sebabnya dewasa ini ditemukan berbagai versi Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Antara satu dengan lainnya terdapat banyak sekali perbedaan. Tidak seragam.

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS Al-Hijr [15] : 9)

 

Namun keistimewaan Al-Qur’an bukan hanya terletak pada jaminan keterpeliharaan keasliannya semata. Al-Qur’an diwahyukan Allah kepada Nabi Akhir Zaman agar menjadi petunjuk bagi segenap ummat manusia, tanpa kecuali. Oleh karenanya Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam juga ditegaskan Allah diutus untuk segenap ummat manusia, bahkan menjadi rahmat bagi segenap alam semesta.

Al-Qur’an bukan kitab khusus untuk menjadi petunjuk bagi ummat Islam semata. Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak diutus untuk menjadi Nabi bagi bangsa Arab semata.

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

 

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. (QS. Al-Baqarah [2] : 185)

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ

 

Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya. (QS. Saba [34] : 28)

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya [21] : 107)

 

Sedangkan Nabi Musa ‘alaihis salam maupun Nabi Isa ‘alaihis salam diutus hanya khusus bagi sekelompok manusia yaitu Bani Israel alias ketuunan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam yang nama lainnya ialah Nabi Israel ‘alaihis salam. Kitab Taurat dan Injil dengan demikian juga dimaksudkan untuk menjadi petunjuk sebatas bagi Bani Israel, bukan untuk segenap ummat manusia.

 

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

 

Dan Kami berikan kepada Musa ‘alaihis salam kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel. (QS Al-Isra [17] : 2)

 

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَرَسُولا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ

 

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya (Isa ‘alaihis salam) Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel. (QS. Ali-Imran [3] : 49)

 

Inilah keistimewaan peranan Al-Qur’an sekaligus peranan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam yang sungguh sangat berbeda dengan peranan Taurat maupun Injil atau peranan Nabi Musa ‘alaihis salam maupun Nabi Isa ‘alaihis salam. Al-Qur’an dimaksudkan Allah untuk menjadi petunjuk bagi segenap manusia, apapun bangsa, suku, warna kulit, bahasa bahkan agamanya. Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah agar menjadi Nabi bagi segenap manusia di muka bumi apapun latar belakangnya.

 

Sedangkan Taurat dan Injil maupun Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Isa ‘alaihis salam diwahyukan dan diutus Allah untuk menjadi petunjuk dan Nabi bagi Bani Israel semata. Allah tidak pernah mengamanatkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam maupun Nabi Isa ‘alaihis salam agar mendakwahkan Taurat atau Injil kepada kalangan di luar Bani Israel. Sedangkan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam jelas diamanatkan Allah agar mendakwahkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada segenap ummat manusia, baik dia itu bangsa Arab atau bukan, muslim ataupun bukan. Dan itu juga berarti bahwa kita –ummat Islam– selaku pengikutnya berkewajiban mempromosikan Al-Qur’an agar menjadi petunjuk bagi segenap ummat manusia, baik mereka beriman kepadanya maupun tidak.

 

Permasalahan ini sangat penting mengingat bahwa dewasa ini kita sedang menjalani era penuh fitnah dimana upaya menyelewengkan makna seperti di atas luar biasa dilakukan oleh kaum kuffar dibantu kaum munafiqun. Salah satu fitnah yang sengaja disebarkan ialah virus faham pluralisme. Awalnya pluralisme cuma menawarkan gagasan “keharusan menghormati segenap penganut agama, apapun agamanya”. Sampai sebatas ini, Islam tidak mempermasalahkan, bahkan sesuai dengan ajaran Islam. Namun kaum pengusung pluralisme tidak berhenti hingga di situ. Mereka selanjutnya mempropagandakan bahwa “semua agama sama, semua agama baik, bahkan semua agama benar.” Inilah racunnya. Ketika seorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat menelan begitu saja logika berfikir pluralisme hingga setuju dengan gagasan semua agama sama baiknya, sama benarnya, maka di situlah masalah muncul. Sebab jelas berdasarkan uraian di atas bahwa tidaklah sama antara satu agama dengan agama lainnya.

 

Bahkan antara tiga agama terbesar dunia dewasa ini –Islam, Kristen dan Yahudi– kedudukan dan peranannya tidaklah sama dan tidaklah setara.

Tidak saja kitab suci kaum Yahudi dan Nasrani dewasa ini telah mengalami distorsi yang begitu hebat, kemudian ditambah lagi bahwa Allah Rabb semesta alam mengamanatkan kepada Ahli Taurat maupun Ahli Injil untuk menjadikan kedua kitab tersebut petunjuk sebatas bagi kalangan Bani Israel, bukan untuk segenap ummat manusia. Sementara itu kitab suci Al-Qur’an tidak saja terjamin keasliannya sebagaimana pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam lima belas abad yang lalu, melainkan ia juga diperuntukkan bagi segenap ummat manusia di muka bumi hingga tibanya hari Kiamat.

 

Namun realitas dunia saat ini justeru kita menyaksikan bahwa ummat Islam alias Ahli Al-Qur’an justeru menjadi ummat yang mengekor kepada tradisi/budaya/kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani yang notabene dewasa ini merupakan pemimpin dunia modern. Tidak bisa kita pungkiri bahwa dunia dewasa ini dipimpin oleh kaum Barat yang terdiri dari Judeo-Christian Civilization (Peradaban Yahudi-Nasrani). Pantaslah bilamana dunia modern dewasa ini berada dalam perjalanan yang tidak jelas menuju masa depannya. Sebab yang memimpin dunia modern adalah fihak yang tidak memiliki wahyu yang masih asli bersumber dari Allah Rabb semesta alam, bahkan kalaupun mereka bisa menghadirkan kitab suci mereka yang asli namun Allah tidak pernah mengamanatkan kedua kitab suci mereka itu untuk menjadi petunjuk bagi segenap ummat manusia. Kedua kitab suci tersebut –Taurat dan Injil– hanya diperuntukkan bagi sekelompok kecil ummat manusia, yakni Bani Israel.

 

Sebaliknya, karena kebodohan dan kelemahan mental, ummat Islam justeru merelakan dirinya mengekor kepada berbagai konsep yang ditawarkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani pemimpin dunia modern. Sebagian besar Ahli Al-Qur’an dewasa ini mengidap penyakit inferiority complex alias mental pecundang sehingga mereka tidak keberatan mengekor kepada fihak Barat yang sesungguhnya berada dalam kesesatan.

 

Padahal justeru ummat Islam-lah satu-satunya kelompok manusia di muka bumi yang masih memiliki kejelasan kitab suci yang bersumber dari Allah Rabb semesta alam. Bahkan Allah telah melegalisir kitab suci tersebut agar diperlakukan sebagai petunjuk bagi segenap ummat manusia, bilamana mereka ingin selamat. Artinya, sesungguhnya hanya ummat Islam-lah satu-satunya fihak yang layak memimpin dan membimbing ummat manusia di era modern ini menuju kehidupan sejahtera secara hakiki dan abadi. Tetapi sayang seribu kali sayang, justeru tidak sedikit muslim dewasa ini yang bilamana diajak untuk diberlakukannya syariat Islam alias hukum Allah alias hukum Al-Qur’an, malah menolaknya dengan alasan bahwa kita tidak sepantasnya memaksakan agama Islam kepada orang-orang non-muslim. Laa haula wa laa quwwata illa billah…!

Sungguh tepatlah penggambaran Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam lima belas abad yang lalu mengenai kondisi ummat Islam di era penuh fitnah dewasa ini, sebagai berikut:

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak-pun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Muslim No. 4822)

 

Tawakal Dalam Al-Qur’an.


بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Assalamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakatuh….

Sahabat-sahabat ku.

 

Al-Qur’an sangat menaruh perhatian terhadap permasalahan tawakal ini. Sehingga kita jumpai cukup banyak ayat-ayat yang secara langsung menggunakan kata yang berasal dari kata tawakal. Berdasarkan pencarian yang dilakukan dari Al-Qur’an,kita mendapatkan bahwa setidaknya terdapat 70 kali, kata tawakal disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an. Jika disimpulkan ayat-ayat tersebut mencakup tema berikut:

 

1. Tawakal merupakan perintah Allah SWT.Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 8 : 61)

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Lihat juga QS.11:123, 25:58, 26:217, 27:79, 33:3, 33:48,

 

2. Larangan bertawakal selain kepada Allah (menjadikan selain Allah sebagai penolong)Allah berfirman (QS. 17:2)

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلاَّتَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلاً

 

Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,

 

3. Orang yang beriman; hanya kepada Allah lah ia bertawakal.Allah berfirman (QS. 3 : 122) :

 

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

 

Dan hanya kepada Allahlah, hendaknya orang-orang mu’min bertawakal.Lihat juga QS.3:160, 5:11, 5:23, 7:89, 8:2, 9:51, 58:10, 64:13.

 

4. Tawakal harus senantiasa mengiringi suatu azam (baca; keingingan/ ambisi positif yang kuat)Allah berfirman (QS. 3 : 159)

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّالْمُتَوَكِّلِينَ

 

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

 

5. Allah sebaik-baik tempat untuk menggantungkan tawakal (pelindung)Allah berfirman (QS. 3: 173)

وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

 

“Dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allahadalah sebaik-baik Pelindung.”Lihat juga QS.4:81, 4:109, 4:132, 4:171.

 

6. Akan mendapatkan perlindungan, pertolongan dan anugrah dari Allah.Allah berfirman (QS. 8 : 49):

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

 

“Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.Lihat juga QS.17:65.

 

7. Mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat (surga)Allah berfirman (QS. 16: 41-42):

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْفِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ*الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

 

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.Lihat juga QS.29:58-59.

 

8. Allah akan mencukupkan orang yang bertawakal kepada-Nya.Allah berfirman (QS. 65:3):

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَحَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

 

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Dengan demikian semoga saja kita termasuk Orang-orang yang tawakal. Tawakaltu Allallahh.


Oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, M.A.

(Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an Jakarta)

 

“Sungguh kamu pasti akan diuji menyangkut harta kamu dan diri kamu. Dan kamu sungguh pasti akan mendengar dari sebagian orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

 

Gangguan dan sikap pelecehan itu, lahir akibat beberapa fakor. Al-Qur’an dan Sunnah mengisyaratkan paling tidak dua hal pokok yang menjadi penyebabnya. Pertama: Keangkuhan yang dilahirkan oleh keterpedayaan akan kemewahan duniawi. Allah berfirman menyapa mereka yang tersiksa pada Hari Kemudian: “Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokkan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat” (QS. al-Jâtsiyah [45]: 35).

 

Kedua: Ketidaktahuan, baik karena informasi yang keliru, maupun karena tidak diterimanya informasi sama sekali. Berkali-kali al-Qur’an menegaskan bahwa sikap buruk kaum musyrik adalah akibat mereka tidak tahu (baca antara lain QS. al-Mâ’idah [5]: 58 dan 104; al-An‘âm [6]: 37; al-A‘râf [7]: 131; al-Anfâl

[8]: 34; at-Taubah [9]: 9; dan masih banyak lagi lainnya).

 

Rasul saw. sering kali berdoa: “Ya Allah, Ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui.” Menghadapi mereka yang tidak tahu, tentu tidak dapat dipersamakan dengan mereka yang angkuh dan tidak mau tahu.

Di Eropa dan Amerika sebagian masyarakatnya tidak mengenal Islam dan Nabi Muhammad saw., baik karena informasi yang mereka terima adalah informasi yang disampaikan oleh lawan-lawan Islam, khususnya yang disebarkan sejak apa yang dinamai Perang Salib, maupun karena memang mereka sama sekali tidak mengetahui. Ini diperparah oleh citra buruk sementara kaum Muslim yang dewasa ini seringkali dikaitkan dengan teror dan terorisme, juga kebodohan, kemiskinan, dan fanatisme buta.

 

Betapapun demikian, agaknya tidak keliru jika dikatakan bahwa tuntunan umum menyangkut sikap menghadapi pelecehan adalah: (1) Meningkatkan informasi yang benar, serta terus berdakwah menjelaskan

ajaran Islam—dalam bentuk lisan, tulisan, dan tingkah laku—sebagai ajaran yang penuh toleransi tanpa mengorbankan akidah dan nilai-nilai Islami, dan dalam saat yang sama berpaling/menampakkan tanda-tanda tidak menyetujui sikap lawan-lawan Islam yang melecehkan itu. Ini antara lain dapat dipahami dari firman Allah: “Maka sampaikanlah olehmu secara terangterangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orangorang yang musyrik” (QS. al-Hijr [15]: 94). Juga firman-Nya: “Jadilah pemaaf/ambillah yang mudah, suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang

jahil” (QS. al-A‘râf [7]: 199).

 

Di samping tununan di atas, tuntunan umum lainnya adalah (2) menahan emosi agar tidak bertindak dengan tindakan yang dapat merugikan citra umat Islam atau jalannya dakwah. Inilah yang diperintahkan antara lain oleh QS. Âli ‘Imrân [3]: 186 yang telah penulis kutip pada awal uraian ini.

 

Dalam Tafsir al-Mishbâh, penulis mengemukakan maksud ayat tersebut sebagai berikut: (Demi Allah), sungguh kamu (semua, wahai orang Islam kapan dan di mana pun) pasti akan (diperlakukan sebagai orang yang) diuji menyangkut harta kamu (baik berupa kekurangan harta, kehilangan, atau dalam bentuk kewajiban berzakat dan bersedekah) dan (kamu juga akan diuji dengan) diri kamu, (yakni dengan luka dan pedih akibat

peperangan atau penganiayaan musuh, atau

penyakit. Bukan hanya harta dan diri, ada

yang dapat lebih dahsyat dari keduanya

yaitu) kamu (juga) sungguh pasti akan (diuji

dengan) mendengar (selain apa yang kamu

telah dengar) dari sebagian orang-orang

yang diberi Kitab sebelum kamu (yakni

pemeluk agama Yahudi dan Nasrani) dan

dari orang-orang yang mempersekutukan

Allah (yakni kaum musyrik), gangguan yang

banyak (dengan ucapan-ucapan mereka

yang melecehkan agama). Jika kamu

bersabar (yakni menahan diri menghadapi

ujian-ujian itu) dan bertakwa, (yakni

beramal sesuai petunjuk Allah dan rasul-Nya

dalam menangani dan menghadapi aneka

cobaan itu) maka sesungguhnya yang

demikian itu (yakni kesabaran dan takwa

itu), termasuk urusan yang patut ditekadkan

(untuk dilaksanakan, tidak ditunda dan tidak

pula disangsikan).

 

Terdapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari ayat di atas: Pertama: Allah menjadikan ujian dalam hal yang berkaitan dengan agama, sebagai ujian yang paling berat. Harta dan jiwa, pada tempatnya dikorbankan, jika agama telah tersentuh kehormatannya.

 

Kedua: Kendati ayat di atas menyebut

Ahlul Kitab, namun itu bukan berarti mencakup

semua penganut agama Yahudi dan Nasrani.

Dalam QS. Âli ‘Imrân [3]: 113, Allah menegaskan

bahwa: “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab

itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka

membaca ayat-ayat Allah pada beberapa

waktu di malam hari, sedang mereka bersujud.

 

Hal ini perlu digarisbawahi agar kita tidak mengeneralisir dan mempersamakan semua

penganut agama Yahudi dan Nasrani. Ketiga: Dalam konteks bersabar dan agar

emosi yang meluap tidak merugikan umat dan melecehkan agama, al-Qur’an mengingatkan

bahwa: Maksudnya: Dan janganlah kamu (wahai kaum Muslim) memaki sembahan-sembahan

(seperti berhala-berhala atau manusia betapapun agungnya) yang mereka sembah

selain Allah, (karena jika kamu memakinya) maka akibatnya mereka akan memaki (pula)

Allah dengan melampaui batas (dan secara tergesa-gesa tanpa berpikir serta) tanpa

pengetahuan. Apa yang dapat mereka lakukan dari cacian itu sama dengan apa yang telah

dilakukan oleh kaum musyrik yang lain sepanjang masa, karena) demikianlah Kami

memperindah bagi setiap umat, amal (buruk) mereka (akibat kebejatan budi mereka dan

akibat godaan setan terhadap mereka. Tetapi jangan duga mereka akan lepas dari tanggung

jawab, karena) kemudian, (yakni nanti setelah datang waktu yang ditentukan, yang boleh jadi kamu anggap lama—nanti—hanya) kepada Tuhan merekalah (yang sampai saat ini masih terus memelihara mereka), kembali mereka, (yakni pada akhirnya mereka pasti kembali kepada Allah swt. lalu) Dia (yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui itu) memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan (sambil menuntut pertanggungjawaban mereka) (QS. al-An‘âm [6]: 108).

 

Di tempat lain Allah mengingatkan bahwa: Maksudnya: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi Qawwâmîn (yakni orang-orang yang selalu dan bersungguh-sungguh menjadi pelaksana yang sempurna terhadap tugas-tugas kamu dengan menegakkan kebenaran) demi karena Allah, serta menjadi saksi-saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, (terhadap siapa pun walau atas diri kamu sendiri karena) ia (yakni adil itu) lebih dekat kepada takwa (yang sempurna, daripada selain adil. Karena itu sekali lagi berlaku adillah) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-Mâ’idah [5]: 8).

 

Keempat: Perintah bersabar, bukan berarti menerima penghinaan dan berlagak memaafkan. Sabar adalah menahan gejolak emosi/nafsu demi mencapai yang baik atau yang lebih baik. Ia tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang kuat mentalnya.

 

Sabar bukan kelemahan, sebab jika Anda tidak mengambil tindakan yang tepat karena khawatir dari siapa yang lebih kuat daripada Anda, maka itu bukanlah kesabaran. Allah pun yang seharusnya diteladani sifat-sifat-Nya—sesuai kemampuan manusia—Allah pun menyadang sifat sabar (Shabûr) yang oleh Imam Ghazali diartikan sebagai sebagai Dia yang tidak didorong oleh ketergesaan sehingga bergegas melakukan sesuatu sebelum waktunya, tetapi meletakkan sesuatu dengan kadar tertentu, dan memberlakukannya dengan aturan-aturan tertentu pula. Dia tidak menundanya dari waktu yang ditentukan, sebagaimana penundaan seorang yang malas, tidak pula mempercepat waktunya, percepatan seorang yang tergesa-gesa. Segala sesuatu diletakkan-Nya pada tempat dan waktu yang seharusnya, dan semua itu tanpa suatu dorongan yang bertentangan dengan kemauan-Nya.

 

Sifat sabar yang diajarkan ini tidak bertentangan dengan sikap tegas yang menjadi cirri Nabi dan umat Islam sebagaimana yang dilukiskan antara lain oleh QS. al-Fath [48]: 29. Sabar menanti waktu di mana peleceh akan berhenti melecehkan karena telah sadar dan juga sabar menanti waktu yang tepat untuk mencegah mereka melakukannya.

 

Jika demikian, perintah bersabar bagi manusia adalah tidak emosional, agar tidak mengakibatkan kerugian bagi agama dan umat. Nah, menghadapi kasus film Fitna, umat Islam wajar memprotes, serta wajar memutuskan hubungan harmonis dan kerja sama dengan semua pihak yang mendukung sikap pelecehan itu. Agaknya, inilah langkah yang paling tepat sebagaimana tuntunan QS. al-An‘âm [6]: 68 dan QS. an-Nisâ’ [4]: 140, sambil berusaha mengangkat persoalan ini ke tingkat yang lebih luas daripada lingkungan umat

Islam saja, yakni tidak memandang kasus tersebut sebagai persolan umat Islam versus Barat atau Kristen/Yahudi, tetapi ia adalah persoalan antara masyarakat yang berbudaya menghadapi masyarakat yang tidak berbudaya. Setiap orang, apa pun agama dan budayanya, harus dihormati sehingga seandainya pelecehan tersebut tertuju—misalnya—kepada Agama Budha atau Konghuchu, atau kepada Nabi Isa atau Musa as., maka semua yang berbudaya, apa pun agamanya harus tampil mengecam sikap tersebut. Ini sejalan dengan QS. al-An‘âm [6]: 108 yang melarang menghina dan melecehkan sembahan-sembahan kaum

musyrik sekalipun.

 

Simbol negara pun sewajarnya tidak dilecehkan, karena itu dapat mengundang masyarakat negara yang dilecehkan simbolnya itu melakukan hal serupa terhadap simbol-simbol negara kita. Yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa siapa pun yang tidak terlibat dalam pelecehan itu, harus tetap dihormati dan tidak boleh diganggu atau dilecehkan tanpa sebab karena al-Qur’an berpesan untuk tetap berlaku adil terhadap siapa pun walau terhadap kelompok yang dibenci: “Dan janganlah sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (QS. al-Mâ’idah [5]: 8).

 

Kelima: Perintah bertakwa oleh QS. Âli ‘Imrân [3]: 186, itu bukan sekadar berarti menjalankan ibadah atau tampil membela tanpa pertimbangan! Takwa dalam pengertian kebahasaan adalah menghindar dari bahaya/bencana. Jika demikian, dapat dikatakan bahwa perintah bertakwa oleh ayat di atas menuntut umat Islam untuk tidak melakukan kegiatan apa pun yang dapat mengakibatkan kerugian dan bencana dalam bertakwa. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan teliti untung ruginya terhadap masyarakat, negara, lebih-lebih terhadap image agama dan ajarannya. Demikian, wa Allâh a‘lam.[]

 


Setiap kali kita melaksanakan solat, kita ulangi serta perbaharui tekad serta janji kita kepada Allah swt. Dengan ucapan yang mafhumnya : “ Hanya kepada-Mu lah ya Allah kami mengabdikan diri kami dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan . Tunjukkan kami ke jalan yang lurus, ialah jalan mereka yang mendapatkan karunia kenikmatan dari-Mu ya Allah, bukannya jalan orang-orang yang Engkau murkai “. ( QS al-Fatihah ayat 5-7 ).


Surah al-Dhuha termasuk dalam surah Makiyyah. Keseluruhan ayatnya berjumlah 11 ayat dan diturunkan selepas surah al-Fajr.

Hubungan surah ini dengan surah al-Lail, dalam surah al-Lail disebutkan tentang (Dan orang yang paling takwa akan dijauhkan daripadanya).

Disebabkan pemimpin daripada orang yang paling bertakwa itu adalah Rasulullah SAW, maka Allah SWT menyempurnakan penjelasan tentang perkara ini dengan menyebut pelbagai kenikmatan-Nya yang telah dianugerahkan kepadanya.

 

Firman Allah SWT: Demi waktu dhuha.

Ibn Jauzi berkata: Ulama menyebut empat pendapat berkenaan waktu dhuha.

 

* Terangnya siang hari seperti pendapat Mujahid.

* Awal hari seperti kata Qatadah.

* Awal masa daripada siang hari apabila matahari naik. Inilah pendapat al-Suddi dan Muqatil.

* Siang hari keseluruhannya. Ini pendapat al-Farra’.

 

Firman Allah SWT: Dan malam apabila ia sunyi-sepi.

Berkenaan dengan maksud ayat ini ada beberapa pendapat:

* Apabila gelap.

* Apabila sudah pergi. Yang kedua-duanya diriwayatkan daripada Ibn Abbas r.a.

* Apabila datang seperti pendapat Sa’id bin Jubair.

* Apabila tenang seperti pendapat ‘Ata, Ikrimah dan Ibn Zaid.

 

Firman Allah SWT: (bahawa) Tuhanmu (wahai Muhammad) tidak meninggalkanmu, dan Dia tidak benci (kepadamu, sebagaimana yang dituduh oleh kaum musyrik).

 

Syed Qutub berkata: Allah tidak sekali-kali membiar dan membuangmu sebagaimana dikatakan oleh kaum Musyrikin yang mahu menyakiti hatimu dan merungsingkan fikiranmu.

Sebabnya, Dia adalah Tuhanmu dan engkau adalah hamba-Nya yang dihubungkan kepada-Nya dan disandarkan kepada Rububiah-Nya dan Dialah Penjaga, Pelindung dan Penaungmu.

Limpah kurnia-Nya kepadamu tidak kunjung putus. Balasan-balasan yang disediakan untukmu di akhirat adalah lebih baik dari limpah kurnia-Nya yang diberikan kepadamu di dunia.

 

Firman Allah SWT: Dan sesungguhnya kesudahan keadaanmu adalah lebih baik bagimu daripada permulaannya.

Al-Maraghi berkata: Keadaanmu pada permulaan masa hidup barumu sekarang lebih baik daripada masa-masa lalu.

Setiap hari engkau akan bertambah mulia. Setiap hari martabatmu akan semakin tinggi jika dibanding dengan sebelumnya.

Setiap saat Aku akan memberimu kehormatan demi kehormatan, ketinggian demi ketinggian.

 

Firman Allah SWT: Dan sesungguhnya Tuhanmu akan memberikanmu (kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat) sehingga engkau reda berpuas hati.

Ibn Kathir berkata: Yakni, di alam akhirat kelak, Dia akan memberikan kurnia kepada beliau sehingga dia meredainya untuk memberi syafaat kepada umatnya dan menerima apa yang telah disediakan untuk beliau berupa kemuliaan.

 

SUBHANALLAH….


Pertanyaan,

Didalam al-quran dijelaskan bahwa laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita-wanita yang baik dan begitupula sebaliknya,tetapi pada kenyataannya laki-laki yang baik mendapatkan wanita-wanita yang kurang baik .Jadi yang ingin saya tanyakan kebaikan yang bagaimana yang dimaksud didalam ayat al-quran tersebut ?

 

Jawaban Habib Munzir Al Musawwa,

Mengenai ayat tersebut yaitu di surat Annur ayat 26, para ulama menjelaskan bahwa makna ayat itu bukannya wanita yg jahat untuk pria yg jahat, dan lelaki jahat untuk wanita yg jahat, dan wanita baik baik untuk pria yg baik baik, dan pria yg baik adalah untuk wanita yg baik,

 

Bukan demikian maknanya, yaitu kalimat KHABIITSAAT tdk ditafsirkan sebagai wanita jahat, tetapi kalimat itu bermakna “ucapan yg jahat”, maka ayat diatas adalah bermakna UCAPAN YG JAHAT ADALAH MILIK ORANG ORANG YG JAHAT, demikian hingga akhir ayat, ayat ini menjelaskan tentang fitnah yg muncul kepada istri istri rasul saw.

sebagian ulama ada juga yg menafsirkan bahwa ALKHABIITSAAT adalah wanita yg jahat, dan ATTHAYYIBAAT adalah wanita yg baik, namun maksud ayat ini adalah menjelaskan bahwa istri istri Rasul saw itu adalah orang yg baik baik, sebagaimana sambungan ayat itu : MEREKA (istri istri Rasul saw) ADALAH ORANG ORANG YG TERLEPAS DARI UCAPAN FITNAH MEREKA, BAGI MEREKA PENGAMPUNAN DAN RIZKI YG MULIA” (QS Annur 26).

 

*rujukan : Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Imam Attabari, Tafsir Imam Qurtubi.

 

Sumber Habib Munzir Al Musawwa.

 

semoga bermanfaat

ashid…


SURAH AL-FIL

“GAJAH”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Surah ini berkenaan dengan peristiwa yang terjadi, sejauh pengetahuan kita, pada tahun kelahiran Nabi. Walaupun kisah ini terkenal dan banyak disebut-sebut pada waktu itu, namun sedikit sekali penjelasan aktual yang ada tentang peristiwa tersebut. Kita tahu bahwa orang lain sangat iri kepada penduduk Mekah dan kaum Quraisy, yang, sebagai penjaga Rumah Tuhan, memegang posisi sangat terhormat di kalangan bangsa Arab. Salah satu rival mereka adalah Kaisar Habasyah (sekarang Ethiopia). Melalui raja muda mereka Abrahah di Yaman, ia membangun apa yang diyakininya sebagai Ka’bah lain, kali ini di San’a, untuk menyaingi Ka’bah di Mekah. Ka’bah kedua ini tidak menarik para peziarah dalam jumlah seperti yang diharapkan sang Kaisar, maka ia mengirim pasukan besar, yang didahului oleh gajah-gajah, untuk menghancurkan Ka’bah di Mekah. Ia yakin bahwa San’a akan menjadi pusat ziarah yang paling penting di belahan dunia itu.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

1. Apakah engkau tidak melihat bagaimana Tuhanmu berurusan dengan para pemilik gajah?

Relevansinya di sini adalah konfrontasi antara kekuatan dan kekuasaan yang sangat besar, dan pertentangannya yang langsung. Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kekuatan nyata tidak dapat diukur dengan cara biasa. Penghancuran bala tentara yang telah dikirim untuk menghancurkan Ka’bah bukanlah suatu kekuatan gaib tapi, ma-lah, merupakan fenomena alamiah yang mengumandangkan kelahiran Nabi—menunjukkan pancaran Sinar yang agung di tengah kegelapan.

Untuk memahami makna gajah ini kita harus menyadari bahwa apa pun senjata yang dimiliki manusia pada waktu itu adalah lemah dan jarang. Pada sebuah negeri di mana para pejuangnya memiliki paling banyak hanya beberapa buah tombak dan pedang tumpul saja, maka dengan memiliki seekor gajah menunjukkan bahwa pemiliknya nyaris dianggap sebagai seorang kaisar.

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

2. Bukankah Ia menyebabkan strategi mereka berakhir dengan kacan-balau?

Kayd berarti ‘komplotan yang licik’, atau ‘rencana yang licik’. Bukankah Allah membuat komplotan mereka yang sudah direncanakan dengan baik berjalan serba salah?

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ

3. Dan mengirimkan sekawanan makhluk terbang untuk melawan mereka,

Ababil berarti ‘kawanan’. la tidak mesti hanya menunjuk kepada kawanan burung, tapi juga kepada jumlah besar yang membanjiri.

تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ

4. Melempari mereka dengan bebatuan dari tanah liat yang dibakar.

Sijjil berarti ‘batu seperti bongkahan tanah liat kering’. Kata ini dikaitkan dengan kata keija sajala yang berarti ‘mencatat, menuliskan’ atau ‘mendokurnentasikan’. Terdapat banyak penafsiran mengenai ayat ini. Kita tidak tahu fenomena macam apa ini, apakah itu benar-benar badai yang membawa sekawanan makhluk yang berukuran kecil sekali, seperti burung-burung, yang menimpuki pasukan besar ini dengan batu (sijjil) yang dapat menembus daging mereka, ataukah itu suatu penyakit yang tiba-tiba menjalari mereka (banyak penyakit seperti campak dan cacar tidak teridentifikasi pada masa itu), yang mungkin dibawa oleh burung-burung atau serangga. Meskipun terdapat fakta bahwa kejadian ini diketahui dan dibicarakan di mana-mana, kita masih tidak tahu sifat sebenarnya dari serangan tersebut karena pada masa itu pemahaman manusia mengenai fenomena alam tidak seterang pemahaman kita zaman sekarang. Kita hanya tahu bahwa pasukan besar ini tiba-tiba hancur sama sekali begitu ia mendekati Ka’bah.

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ

5. Maka Ia menjadikan mereka seperti jerami yang dilahap.

Akibat serangan itu adalah bahwa bala tentara yang jumlahnya banyak sekali ini menjadi bagaikan tunggul jerami padi atau rerumputan yang tersisa setelah dipangkas. Pada sebagian penjelasan dikatakan bahwa setelah penghancuran ini, tanah terlihat bagaikan alas datar yang terbuat dari ribuan tentara musuh dan gajah-gajah mereka tergeletak di atasnya.


Al-qur’an adalah Mukjizat terbesar Allah swt. Dia menantang semua orang yg tidak percaya sepanjang masa untuk membuat sebuah surah yg sepertinya jika mereka memang benar.
“Dan jika kalian ragu tentang apa yang telah Kami turunkan kepada hamba  Kami(MUHAMMAD), buatlah sebuah surah yang sepertinya dan panggilah para pendukungmu   selain Allah jika kalian memang benar,”(QS Al-Baqarah 2:23).

ini adalah tantangan bahwa seluruh manusia tidak akan sanggup membuat satu ayat pun seperti ayat dalam Al-qur’an. jika mereka gagal menjawab tantangan ini, dan sangat pasti mereka tidak mampu melakukannya, mereka akan menghadapi neraka yg berbahan bakar manusia dan batu. Allah SWT berfirman dalam Al-quran, “Dan jika kalian tidak sanggup melakukannya-dan kalian tentu tidak akan sanggup melakukannya, bersiap-siaplah masuk dalam neraka yg bahan bakarnya manusia dan batu; ia disediakanbagi orang-orang yang kafir (tidak percaya),” (QS Al-Baqarah 2:24).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.